MOVIE REVIEW: WHEN EVIL LURKS (2023)

WHEN EVIL LURKS

Sutradara: Demián Rugna

Argentina (2023)

Review oleh Tremor

 

Pada tahun 2017, penulis/sutradara asal Argentina, Demián Rugna, merilis salah satu film horor supranatural yang cukup menyegarkan karena mengambil jalan yang sedikit berbeda dari klise horor supranatural pada umumnya, dengan judul Aterrados / Terrified. Enam tahun kemudian, Rugna kembali membuat film horor yang semakin membuktikan bakat dan kreativitasnya sebagai seorang penulis sekaligus sutradara horor, berjudul When Evil Lurks, atau “Cuando acecha la maldad” dalam bahasa aslinya. Film ini segera masuk ke dalam daftar film horor modern favorit saya ketika pertama kali menontonnya dulu, dan saya sama sekali tidak keberatan menontonnya kembali untuk kesekian kali hari ini. Pada dasarnya, When Evil Lurks adalah sebuah film horor bertema kerasukan / possession. Namun, seperti apa yang pernah ia lakukan dalam Terrified, Rugna mengambil jalan yang sama sekali berbeda dari stereotip film kerasukan pada umumnya. Saat mendengar tentang film kerasukan, kebanyakan orang akan merujuk pada The Exorcist (1973) dan ratusan judul film lain yang berusaha mengikuti jejak The Exorcist dengan pola yang sama. Demián Rugna datang untuk membuka mata para penontonnya bahwa akan selalu ada ruang untuk visi dan interpretasi lain seputar tema kesurupan, dan itulah yang ia sajikan dalam When Evil Lurks, sebuah karya original yang sangat brutal, mengerikan, nihilistik, dan suram. Sesaat setelah dirilis, When Evil Lurks bukan hanya menerima banyak pujian serta penghargaan di komunitas horor, tetapi juga segera mendapat reputasi sebagai sebuah film yang sangat kejam tanpa ampun.

Film ini berfokus pada sepasang kakak beradik, Pedro dan Jimmy, yang tinggal di sebuah desa terpencil. Suatu hari mereka menemukan seorang perempuan miskin dan kedua putranya menetap di sebuah gubug. Putra sulung keluarga tersebut yang bernama Uriel, rupanya adalah seorang “rotten”, sebuah sebutan yang dalam film ini mengacu pada seseorang yang telah dirasuki iblis untuk waktu yang lama dan tubuhnya digunakan sebagai semacam inkubator bagi iblis untuk kemudian bisa melahirkan diri secara fisik ke dunia manusia. Dalam realita film ini, fenomena tersebut bukanlah hal baru, tapi umumnya hanya terjadi di kota-kota besar. Pedro dan Jimmy pernah mendengar tentang jenis kerasukan seperti ini, namun baru pertama kali melihat rotten dengan mata kepala sendiri. Apa yang berbahaya adalah kerasukan iblis bisa dengan mudah menular tak terkendali layaknya wabah penyakit, dan kalau dibiarkan akan menjalar menjadi bencana bagi umat manusia. Untuk mencegah “penularan” terjadi, seorang rotten tidak boleh sampai mati. Terdapat protokol khusus untuk mengeksekusi seorang rotten yang hanya boleh dilakukan oleh pekerja “pembersih” profesional kiriman pemerintah dengan peralatan khusus, bukan lewat ritual keagamaan apalagi pembunuhan. Karena sang pembersih tidak kunjung datang, keluarga Uriel terpaksa menjaganya selama hampir setahun agar Uriel tetap hidup, meskipun tubuhnya sudah tidak bisa bergerak, semakin membusuk, dan sang iblis sudah semakin siap untuk dilahirkan. Tanpa sedikit pun pengetahuan tentang cara pembersihan yang benar, seorang tuan tanah bernama Armando mengambil tindakan sendiri yang ceroboh untuk mengatasi Uriel, yang pada akhirnya memicu rangkaian kerasukan menjalar ke seluruh penjuru pedesaan, merasuki setiap mahkluk hidup yang bisa dirasuki dari mulai hewan ternak hingga lansia. Dari sini semua kekacauan mengerikan mulai terjadi.

Sebutan “Rotten” yang digunakan dalam film ini dipilih dengan sangat tepat untuk menggambarkan kondisi karakter yang didesain begitu menjijikkan sekaligus menyeramkan. Tubuhnya membengkak, dipenuhi dengan tumor, bisul dan nanah yang terus menerus mengalir. Dari reaksi para karakter yang bertemu dengan Uriel, sepertinya tubuhnya juga beraroma busuk bangkai, karena pada dasarnya fisik seorang rotten memang berangsur membusuk. Tetapi pertemuan dengan Uriel hanyalah permulaan dari film ini, sebelum kuasa iblis benar-benar menjalar ke segala penjuru. Ketika Pedro mulai berusaha menyelamatkan anak-anaknya dari rangkaian kerasukan ini, para penonton yang tidak siap mungkin akan segera menimbang-nimbang apakah mereka perlu melanjutkan film ini atau tidak, terutama setelah sebuah adegan brutal terjadi di layar yang melibatkan anak kecil. Predikat bahwa When Evil Lurks adalah film yang kejam rasanya sama sekali tidak berlebihan karena film ini memang kejam dan tidak ada satupun karakternya yang aman. Hampir semua orang dan makhluk hidup lainnya tidak selamat dari kerasukan serta berbagai kekerasan brutal, dan sang sutradara Demián Rugna tidak ragu untuk menunjukkan semuanya kepada para penonton. Jadi, tantangan film ini bagi para penontonnya bukanlah tentang menghadapi kengeriannya saja, tetapi juga rentetan kebrutalannya yang terjadi terus menerus.

Ide dasar tentang kerasukan yang menular serta visual kekejaman dalam When Evil Lurks tentu akan mengingatkan penontonnya dengan Evil Dead versi 2013, dan itu sah-sah saja. Saya juga tidak akan heran kalau ternyata franchise The Evil Dead adalah inspirasi terbesar bagi Demián Rugna dalam menulis When Evil Lurks. Tapi, saya pikir ada banyak sekali perbedaan signifikan antara konsep kerasukan When Evil Lurks dan Evil Dead. Hal terbesar yang membedakannya bisa dilihat dari perilaku mereka yang kerasukan. Dalam Evil Dead, kita bisa melihat dengan jelas perubahan pada wajah, suara dan fisik seseorang ketika mereka mulai dirasuki iblis. Sementara itu, When Evil Lurks mengambil jalan yang sama sekali berbeda: tidak ada perubahan pada wajah maupun suara dari mereka yang kerasukan, kecuali sudah menjadi seonggok rotten. Bagi saya, konsep kerasukan menular dalam When Evil Lurks jauh lebih mengerikan karena cukup sulit untuk mendeteksi apakah seseorang sedang dirasuki atau tidak.

Apa yang membedakan When Evil Lurks dari film-rilm kerasukan pada umumnya adalah tidak adanya solusi atas fenomena tersebut, termasuk usaha-usaha yang bersifat spiritual. Tidak ada pendeta, tidak ada doa, tidak ada simbol-simbol agama tertentu. Seperti telah saya tulis sebelumnya, kerasukan dalam dunia When Evil Lurks bukanlah fenomena baru. Fenomena tersebut sudah banyak terjadi dan kepercayaan manusia pada hal-hal spiritual telah runtuh karena terbukti bahwa tidak ada agama yang bisa melawan sang iblis. Solusi yang ada dalam film ini justru bersifat duniawi seperti manusia menghadapi wabah penyakit. Selain adanya profesi “pembersih” yang bertugas mengeksekusi para “Rotten” dengan aman untuk mencegah iblis dilahirkan ke dunia, masyarakat dalam dunia film ini juga pernah dianjurkan berbagai aturan yang harus mereka patuhi untuk mencegah kerasukan iblis berubah menjadi bencana yang lebih luas. Di sinilah salah satu permasalahan utama dalam plot film When Evil Lurks berasal, ketika sebagian karakter dengan naifnya tidak mematuhi protokol dan dengan impulsif melakukan tindakan-tindakan bodoh. Tapi faktanya hal semacam itu memang terjadi di dunia nyata juga. Kita tentu ingat bagaimana banyak manusia tidak mampu mengikuti berbagai protokol kesehatan mendasar di masa pandemi covid, misalnya. Perilaku manusia serta pengambilan keputusan di tengah perasaan takut ataupun panik juga kadang memang tidak rasional, dan itu juga yang terjadi dalam When Evil Lurks hingga film ini berakhir dengan sangat suram.

Setelah beberapa kali menonton ulang film ini, pendapat saya masih sama bahwa When Evil Lurks adalah karya horor terbaik di tahun 2023. Ide original, brutal, suram, mengerikan, provokatif, berani, dan rasanya sangat beralasan kalau para penggemar horor begitu memuji film ini. When Evil Lurks jelas menawarkan banyak hal bagi penggila horor, dari mulai adegan-adegan kematian yang dieksekusi dengan sangat baik, visual mengerikan penuh darah, hingga atmosfer nihilistik yang sangat kuat. Tapi When Evil Lurks bukanlah sebuah film dangkal yang sekedar menjual kekejaman tanpa makna sebagai gimmick belaka. Pada beberapa sisi ceritanya, When Evil Lurks memiliki kedalaman sambil dengan jelas mengangkat sisi-sisi emosional dan manusiawi, terutama yang berkaitan dengan ikatan keluarga Pedro serta kegagalannya sebagai seorang orang tua. Film ini ditutup dengan adegan sang protagonis menangis, dan siapapun yang ada di posisinya tentu akan mengalami kehancuran mental yang sama seperti yang ia rasakan. Special effect dan makeup film ini juga sangat luar biasa dan mengesankan. Meskipun dalam beberapa adegan sepertinya ada sedikit polesan CGI, tapi untungnya tidak sampai merusak kualitas kengerian film ini. Saya tidak akan mengatakan bahwa When Evil Lurks adalah film horor yang sempurna, tetapi apapun kelemahannya, itu sama sekali tidak merusak keseluruhan pengalaman menontonnya yang cukup intens. Bagi saya, Terrified (2017) dan When Evil Lurks sudah cukup untuk menjadi alasan kuat mengapa karya-karya horor penulis / sutradara Demián Rugna berikutnya layak untuk ditunggu.