MOVIE REVIEW: THERE’S SOMEONE INSIDE YOUR HOUSE (2021)

THERE’S SOMEONE INSIDE YOUR HOUSE

Sutradara: Patrick Brice

USA / Kanada (2021)


Review oleh Tremor

There’s Someone Inside Your House adalah sebuah film horror slasher Amerika, disutradarai oleh Patrick Brice yang sebelumnya cukup dikenal lewat karyanya Creep (2014) serta sekuelnya yang tak kalah bagus, Creep 2 (2017). Film slasher yang sedikit bergaya teen movie ini merupakan adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya penulis Stephanie Perkins. Naskahnya sendiri ditulis ulang oleh Henry Gayden, yang sebelumnya sempat terlibat dalam penulisan naskah film superhero Shazam! (2019). Nama-nama besar seperti James Wan dan Shawn Levy ikut terlibat sebagai produser There’s Someone Inside Your House. Tentu saja menuliskan kalimat “dari para kreator The Conjuring dan Stranger Things” akan menjadi pemancing yang menarik untuk diletakan pada poster film, namun seperti kita ketahui, diproduseri oleh “seseorang” tidak menjadi jaminan film tersebut akan memiliki kualitas yang sama dengan karya para produsernya.

Film ini memiliki plot dasar khas slasher yang straight forward, dibuka dengan opening scene yang lumayan menjanjikan ala film Scream: seorang remaja populer bernama Jackson dibunuh dengan brutal ketika ia sedang sendirian di rumahnya. Jackson adalah seorang pemain football dari sekolahnya, Osborne High School. Setelah opening scene tersebut, alur film ini segera memasuki template film slasher Amerika pada umumnya: perkenalan para karakter inti yang bisa jadi merupakan target sang pembunuh bertopeng berikutnya. Salah satunya adalah seorang remaja perempuan bernama Makani Young yang baru saja pindah ke kota Osborne untuk tinggal dengan neneknya. Makani masih mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya ketika satu persatu murid Osborne High School mati dibunuh secara brutal. Menariknya, sang penjagal tak hanya membunuh, tetapi juga menyebarkan rahasia gelap para korbannya kepada semua murid lewat kiriman chat massal. Ini membuat Makani cemas, karena ia juga memiliki rahasia gelapnya sendiri yang membuatnya pindah ke Osborne.

Dalam konfrontasi finalnya, sang penjagal menyampaikan kemuakannya terhadap masyarakat sekitarnya tentang bagaimana semua orang menggunakan “topeng” dalam kesehariannya untuk menguburkan sisi gelap mereka. Setiap orang pasti memiliki rahasia gelap di masa lalu yang turut mendefinisikan diri mereka hari ini, dan baginya tidak ada rahasia yang boleh tetap tersembunyi selamanya. Lantas kemuakan sang penjagal tersebut menjadi salah satu pendorong mengapa ia mulai membantai. Meskipun sah-sah saja, tapi menurut saya alasannya membunuh terasa cukup dangkal untuk sebuah konsep film slasher.

Dalam kisah ini, sang penulis juga seperti ingin mengomentari kultur bullying di kalangan remaja, keberagaman, hingga bagaimana banyak orang hidup dalam kepalsuan untuk membangun image diri.Namun, konsep yang original dan komentar sosial saja tidak cukup untuk membuat sebuah film slasher menonjol. Daya tarik dari genre slasher pada umumnya terletak pada kreativitas desain karakter pembunuh bertopengnya, adegan kejar-kejaran yang menegangkan, variasi cara membunuh, serta motif pembunuhannya. Sang pembunuh dalam There’s Someone Inside Your House menggunakan konsep topeng yang cukup unik dan cerdas. Topeng yang dikenakannya tidak pernah sama karena sang pembunuh membuat topeng khusus menggunakan 3D printer untuk mendapatkan topeng berwajah menyerupai target pembunuhannya. Caranya membunuh pun sebenarnya lumayan bervariasi, karena konsep sang penjagal adalah membongkar rahasia gelap dari korbannya, maka ia membunuh dengan cara yang mirip dengan rahasia yang ia sebarkan. Namun sayangnya There’s Someone Inside Your House kurang memiliki adegan kejar-kejaran dan penguntitan yang menegangkan, padahal itu adalah salah satu elemen yang justru cukup dicari dalam film slasher. Jadi, setiap pembunuhannya terjadi begitu saja, membuatnya terasa sedikit hambar karena tidak ada ketegangan yang dibangun terlebih dahulu. Motif pembunuhannya pun tidak terasa kuat dan shocking untuk sebuah film slasher. Tak hanya itu, setiap adegan pembunuhannya juga tidak terlalu graphic, setidaknya untuk ukuran film slasher yang biasanya menjadi media untuk “memamerkan” skill special effect gore yang kreatif. Judul film ini juga sedikit bermasalah menurut saya, karena ada unsur penguntitan dan home invasion yang sangat kuat pada judulnya, tetapi adegan-adegan tersebut nyaris tidak ada di dalam film.

Kelemahan There’s Someone Inside Your House tak berhenti di situ. Karakter yang terlalu banyak dan begitu beragam juga menjadi masalah tersendiri karena banyak backstory masing-masing karakter yang terasa tidak matang. Mungkin keberagaman ini mampu berfungsi sepenuhnya dalam bentuk novel, tapi dalam media film berdurasi satu setengah jam, sama sekali tidak cukup. Hasilnya, film ini seakan ingin membahas terlalu banyak hal namun pada akhirnya justru gagal berfokus pada semuanya. Sebenarnya, semua kelemahan tersebut sangat bisa diabaikan seandainya film ini berhasil menjadi film slasher yang fun, lengkap dengan adegan kejar-kejaran yang menegangkan, momen-momen intens, hingga pembunuhan dan adegan gore yang kreatif. Sayangnya, There’s Someone Inside Your House tidak memiliki semua itu. Tapi bukan berarti There’s Someone Inside Your House adalah film yang buruk, karena pada dasarnya film ini tetap lumayan menghibur. Saya menghargai usaha pembuatan film slasher modern yang ingin melepaskan diri dari gimmick 80-an dan nuansa homage seperti There’s Someone Inside Your House, dibandingkan film slasher modern yang hanya ingin mengulang setiap formula klasik slasher satu persatu atas nama homage. Lagipula, There’s Someone Inside Your House juga dikerjakan dengan cukup baik secara teknis. Sinematografinya cukup bagus, lengkap dengan score retro synth yang mampu membangun suasana dengan baik. Sebagai film slasher, mungkin There’s Someone Inside Your House akan segera terlupakan dengan mudah. Namun There’s Someone Inside Your House tetap bisa menghibur bagi mereka yang memiliki waktu lebih untuk menontonnya.