MOVIE REVIEW: THE RULE OF JENNY PEN (2024)

THE RULE OF JENNY PEN
Sutradara: James Ashcroft
New Zealand (2024)

Review oleh Tremor

Dari sekian banyak sub-genre horror, ada salah satu sub-genre yang menggunakan proses penuaan sebagai bagian dari terornya. Sub-genre ini biasa disebut sebagai “geriatric horror”, yang umumnya mengeksplorasi tema-tema seputar lansia. Tanpa perlu dibumbui elemen supranatural ataupun banjir darah pun, faktor-faktor alami yang berkaitan dengan proses penuaan seperti dementia, rasa kesepian, terlupakan, kemerosotan mental serta ketidakberdayaan fisik, sudah cukup mengerikan bagi sebagian orang. Faktor-faktor tersebut menjadikan mereka yang telah lanjut usia seringkali dianggap sebagai manusia yang tidak berbahaya dan tidak berdaya. Film-film geriatric horror seperti The Taking of Deborah Logan (2014), The Visit (2015), Relic (2020), Old People (2022), hingga X (2022) mencoba menggambarkan para karakter lansia dan kondisi penuaannya lewat sisi yang mengerikan. The Rule of Jenny Pen adalah salah satunya, sebuah film psychological thriller / geriatric horror yang merupakan adaptasi dari sebuah cerpen karya penulis Owen Marshall dengan judul yang sama, disutradarai oleh aktor James Ashcroft.

Stefan Mortensen adalah seorang hakim tua yang arogan dan angkuh. Ia baru saja selamat dari serangan stroke yang menyebabkan sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda. Karena keangkuhannya, tidak ada satu orangpun yang mau merawatnya. Kini ia terpaksa tinggal di sebuah panti jompo untuk menjalani rehabilitasi dan terapi dengan harapan tubuhnya bisa segera berfungsi kembali seperti sedia kala. Karena Mortensen berpikir bahwa ia akan segera sembuh setelah proses terapi ini, ia tidak mau repot-repot berteman dengan para penghuni panti jompo. Di panti tersebut, Mortensen harus hidup berbagi ruang dengan banyak lansia asing yang dilupakan oleh keluarga masing-masing, menjalani hari-hari penuh kehampaan seakan hanya tinggal menunggu mati. Para penghuni panti jompo ini juga mengalami berbagai kondisi yang menyedihkan, dari mulai pikun hingga gangguan jiwa. Sebagai seorang mantan hakim papan atas, ego dan kesombongan Mortensen semakin terusik karena para staf panti jompo memperlakukan Mortensen sebagai kakek-kakek pikun yang menyedihkan dan tak berdaya, layaknya penghuni panti jompo biasa. Mortensen terus menolak kenyataan bahwa kehormatan dan kekuasaan yang pernah dimilikinya sama sekali tidak ada artinya lagi. Mortensen merasa ia tidak layak hidup di panti jompo, namun ia tidak memiliki banyak pilihan. Suatu hari, Mortensen mulai menyadari keberadaan salah seorang penghuni lama bernama Dave Crealy, seorang kakek rasis, abusif dan manipulatif yang terkesan lugu di siang hari, namun secara rutin berkeliaran dan meneror beberapa pasien yang tidak berdaya pada malam hari dengan boneka di tangannya. Kebetulan, Crealy adalah salah satu dari sekelompok pasien yang selalu membawa boneka sebagai bagian dari terapi untuk pasien dengan gangguan kejiwaan. Crealy memberi nama Jenny Pen pada boneka bayi tanpa bola mata yang selalu menempel pada tangannya. Hampir seluruh penghuni panti terlihat takut dengan kehadiran Crealy. Namun lewat berbagai manipulasinya, Crealy berhasil meyakinkan para staf panti bahwa ia hanyalah seorang kakek tua yang tidak berdosa dan kebingungan. Seiring berjalannya waktu, Crealy pun mulai mengganggu Mortensen. Berbeda dengan korban-korban Crealy lain yang memilih diam, dengan segala keterbatasannya Mortensen berusaha melawan dan membongkar perilaku Crealy yang sebenarnya.

Mungkin kekuatan terbesar dari film The Rule of Jenny Pen ada pada penampilan dua karakter utamanya, yaitu aktor Geoffrey Rush yang memerankan Stefan Mortensen, dan John Lithgow yang memerankan Dave Crealy. Keduanya merupakan aktor veteran dan mereka beradu akting dengan luar biasa dalam film ini. Tapi saya ingin lebih berfokus pada karakter villain dalam The Rule of Jenny Pen. Sebelumnya, Lithgow sendiri pernah memerankan karakter psikopat dalam film psychological horror besutan Brian De Palma, Raising Cain (1992), dan juga dalam serial Dexter. Tapi, dibanding peran-peran psikopat sebelumnya, belum pernah Lithgow memerankan karakter seintimidatif Dave Crealy. Dengan melihat sorot mata karakter Dave Crealy ketika ia tersenyum saja sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman, dan saya pikir itu adalah kerja peran yang luar biasa. Karakter Dave Crealy adalah seorang abuser dan manipulator sejati. Meskipun para staf panti jompo menganggapnya tidak berdaya dan lugu, namun hampir setiap pasien yang masih waras tahu betul tentang berbahaya dan sakit jiwanya Dave Crealy. Sayangnya, mereka juga tahu bahwa menantang Crealy sama saja dengan mengundangnya untuk datang meneror di malam hari. Jadi, kita bisa merasakan dan memahami mengapa semua pasien lebih memilih untuk diam dalam ketakutan dan berharap Crealy tidak mengunjungi mereka. Perilaku abusif yang Crealy lakukan ketika semua orang sudah tertidur juga diuntungkan dengan kurang kompetennya para staf yang cenderung mengabaikan setiap insiden dan menganggap semua terjadi karena para lansia dalam rumah jompo hanyalah kebingungan, cemas berlebihan, dan pikun. Karakter Crealy juga seakan mendapat kepercayaan lebih dari para staf karena ia merupakan penghuni terlama di sana setelah sebelumnya pernah bekerja di panti jompo yang sama sebagai salah satu staf juga.

Lalu, apa relevansi boneka bayi Jenny Pen yang tampak menyeramkan dalam film ini? Pada dasarnya, boneka Jenny Pen sama sekali tidak berbahaya. Namun para penghuni panti jompo mengenali boneka Jenny Pen sebagai simbol teror kekerasan mental dan emosional yang dilakukan oleh Crealy kepada para korbannya yang tidak berdaya. Kemunculan boneka tersebut selalu membawa perasaan teror pada layar. Tetapi, digunakannya boneka bayi dalam film ini kemudian menjadi masalah tersendiri bagi saya, terutama karena boneka tersebut selalu dimunculkan dalam setiap materi promosional film ini. Tentu ini berpotensi menimbulkan kesan yang salah pada film The Rule of Jenny Pen karena bisa jadi calon penontonnya berekspektasi kalau ini adalah film horor psikologis dengan sentuhan supranatural boneka yang kerasukan roh jahat. Dari ekspektasi yang salah, tentu bisa muncul kekecewaan. Perlu digaris bawahi, The Rule of Jenny Pen bukanlah film horor supranatural ataupun film sadis yang penuh kekerasan. Setiap kekerasan yang kita lihat dalam film ini berbentuk kekerasan mental dan emosional, bukan fisik.

Di balik itu semua, film thriller psikologis ini tetap mencoba berfokus mengeksplorasi keresahan dan rasa takut seputar proses penuaan yang kita semua bisa pahami: kehilangan diri sendiri, perasaan tidak berdaya, menurunnya daya ingat, kehilangan kendali, ketidakmampuan fisik untuk merawat diri sendiri, isolasi, kesepian, serta hidup di bawah belas kasihan orang lain. The Rule of Jenny Pen memainkan semua ketakutan tersebut dengan sangat baik. Menua dengan cara yang dialami oleh karakter Stefan Mortensen merupakan kenyataan mengerikan yang bisa saja harus dijalani oleh sebagian dari kita suatu hari nanti. Dalam beberapa hal, mungkin penuaan lebih sulit diterima daripada kematian itu sendiri. Atas dasar ini, pemilihan panti jompo sebagai latar film horor psikologis sangatlah tepat menurut saya, karena secara alami panti jompo bisa menjadi sumber kengerian psikologis sekaligus kesedihan yang nyata.

Meskipun penulis horor legendaris, Stephen King, menyatakan bahwa The Rule of Jenny Pen merupakan salah satu film terbaik yang ia tonton di tahun 2024, tapi film ini bukanlah karya yang sempurna. Saya pribadi punya beberapa masalah dengan film ini. Salah satunya adalah durasinya yang menurut saya terlalu panjang untuk ukuran sebuah film psikologis yang slow burn, yaitu 110 menit. Pengalaman menonton The Rule of Jenny Pen bagi saya adalah pengalaman yang cukup menantang karena saya harus berjuang melawan godaan untuk menyudahi dan menggantinya dengan film lain. Indahnya tata cahaya dan sinematografi film ini juga tidak mampu mengalahkan munculnya rasa bosan yang semakin kuat saya rasakan. Lalu, cara film ini ditutup pun kurang mengesankan bagi saya. Mungkin, dibutuhkan mood khusus untuk bisa menikmati The Rule of Jenny Pen secara maksimal. Saya pikir film ini tidak akan bisa dinikmati oleh mereka yang mencari film horor dengan adegan-adegan fantastis penuh darah. Tapi, di luar beberapa kelemahannya, The Rule of Jenny Pen tetap berfungsi dengan baik sebagai film thriller psikologis yang lambat.