
THE LEGEND OF THE HELL HOUSE
Sutradara: John Hough
UK (1973)
Review oleh Tremor
The Legend of The Hell House adalah sebuah film thriller misteri / supranatural gothic yang sangat moody dan atmosferik, karya sutradara John Hough yang sebelumnya telah membuat beberapa film thriller dan petualangan. Film ini merupakan adaptasi dari salah satu kisah yang cukup klasik dalam genre rumah berhantu, novel berjudul Hell House karya Richard Matheson, penulis yang juga pernah menulis kisah post-apocalyptic klasik “I Am Legendâ€. Dalam proyek film ini Matheson juga terlibat secara langsung dengan cara menulis ulang novelnya ke dalam bentuk naskah film. Matheson sendiri memang merupakan seorang penulis naskah horror / sci-fi yang cukup diperhitungkan di era 1960/70an. Beberapa naskah yang pernah ia tulis di antaranya film sci-fi The Incredible Shrinking Man (1957), film TV The Night Stalker (1972), hingga beberapa episode serial TV The Twilight Zone.

Seorang miliarder tua yang sekarat mempekerjakan seorang ahli fisika bernama Dr. Lionel Barrett untuk menyelidiki dan membuktikan kemungkinan adanya bentuk kehidupan setelah mati. Lokasi penyelidikan ini adalah The Belasco Mansion, sebuah rumah mewah yang kerap dianggap sebagai “Gunung Everest-nya rumah berhantuâ€. Rumah tersebut sebelumnya dimiliki oleh Emeric Belasco, seorang miliarder nyentrik yang dipercaya kerap melakukan berbagai praktik ritual kejam dan bejat. Belasco kemudian dinyatakan menghilang tanpa jejak setelah terjadi pembantaian mengerikan terhadap beberapa tamu di dalam rumahnya. Rumah ini kemudian terbengkalai dan dikenal sangat berhantu, hingga beberapa kelompok medium spiritual dan paranormal kerap mengunjungi Belasco Mansion hanya untuk mendapati nasib buruk: mati mengenaskan, lumpuh, hingga kehilangan kewarasan. Atas reputasinya inilah rumah Belasco dijuluki Hell House. Dr. Lionel Barrett sendiri adalah seorang ilmuwan yang setengah skeptis pada hal-hal supranatural. Namun tawaran dari sang miliarder begitu mengguirkan karena bayarannya luar biasa. Untuk pekerjaan investigasi ini, miliarder tua tersebut tidak hanya mempekerjakan Dr. Barrett saja, tetapi juga dua orang medium spiritual yaitu Florence Tanner, serta Benjamin Fischer yang merupakan satu-satunya survivor dari insiden Hell House beberapa tahun sebelumnya. Ditemani oleh istrinya, Dr. Barrett beserta kedua medium harus tinggal di dalam Hell House selama beberapa hari di mana pertempuran yang terjadi kemudian bukan hanya antara para investigator melawan entitas supranatural, tetapi juga antara sudut pandang ilmiah melawan spiritual, hingga teka-teki rumah Belasco terpecahkan.

Dalam babak pertamanya, The Legend of The Hell House terasa sangat menjanjikan, menegangkan, dan penuh misteri. Sayangnya mulai dari pertengahan film hingga klimaksnya, plot film yang agak lambat ini mulai terasa melemah dan semua potensinya seakan terbuang begitu saja. Dengan semua misteri dan mood angker yang telah dibangun perlahan sejak awal tentang rumah berhantu Belasco, mungkin saya pribadi sedikit mengharapkan ending yang lebih mengejutkan dan menyeramkan. Namun apa yang kita dapat adalah sebaliknya, ending film ini terasa konyol, anti-klimaks dan sangat lemah, membuat saya berpikir bahwa julukan “Hell House†untuk rumah Belasco rasanya terlalu berlebihan. Mungkin ini dikarenakan studio yang merilis The Legend of The Hell House menuntut film ini untuk dirilis dengan rating PG-13 sehingga banyak elemen yang dirasa terlalu ekstrim pada awal 70-an harus dihilangkan. Atau mungkin juga ini hanyalah permasalahan sudut pandang saya sebagai penonton modern yang gagal memahami batasan “seram†bagi penonton film di awal 70-an. Namun apa yang membuat The Legend of The Hell House masih dikagumi hingga hari ini memang bukanlah plot ceritanya, melainkan visual, pembangunan mood dan atmosfernya yang sangat kuat. Sutradara John Hough dengan cekatan melakukan pekerjaan yang baik dalam menghantarkan perasaan yang suram dan menggelisahkan lewat visual, tata cahaya, hingga permainan kamera, dipadukan dengan sound design yang mendukung.

Meskipun ending filmnya cukup konyol, diperburuk dengan acting karakter Benjamin Fischer yang terasa terlalu karikatur dan komikal untuk sebuah film horor serius, namun The Legend of The Hell House tidak pernah kehilangan mood gothic dan atmosfer mencekamnya. Saya pribadi sangat suka dengan visual film ini, terutama desain interior serta eksterior rumah Belasco yang terlihat sangat angker dan selalu diselimuti kabut tebal. Permainan cahaya dalam film ini juga begitu cantik, terutama dalam beberapa adegan pemanggilan arwah dengan sorotan lampu berwarna mencolok. Terlepas dari plotnya yang semakin melemah, The Legend of The Hell House tetaplah sebuah film horor atmosferik yang dikerjakan dengan sangat baik. Film ini merupakan salah satu contoh bagaimana kisah rumah berhantu bisa terasa sangat mencekam lewat pembangunan atmosfer yang kuat, tanpa perlu adanya penampakan satupun sosok hantu. Saya yakin, The Legend of The Hell House setidaknya memberi pengaruh cukup besar bagi para pembuat film horor modern tentang bagaimana atmosfer angker bisa diciptakan menggunakan teknik-teknik sederhana yang tepat.


Â