MOVIE REVIEW: THE HAUNTING IN CONNECTICUT (2009)

THE HAUNTING IN CONNECTICUT
Sutradara: Peter Cornwell
USA (2009)

Review oleh Tremor

The Haunting in Connecticut adalah sebuah film drama horror supranatural, debut film fitur dari sutradara kelahiran Australia, Peter Cornwell berdasarkan naskah yang ditulis oleh Tim Metcalfe dan Adam Simon. Kisah dalam film ini diadaptasi secara longgar dari sebuah buku berjudul “In A Dark Place: The Story of a True Haunting” yang ditulis oleh Ray Garton. Buku ini sendiri merupakan penulisan naratif tentang investigasi kasus rumah milik keluarga Snedeker di Southington, Connecticut, pada tahun 1986 yang diklaim berhantu. Investigasi tersebut dilakukan oleh pasangan penyelidik paranormal / pemburu hantu, Ed dan Lorraine Warren, nama yang pasti cukup familiar bagi para penggemar horor box-office. Sepak terjang Ed dan Lorraine Warren dalam dunia paranormal pertama kali diangkat oleh James Wan lewat The Conjuring (2013) hingga berkembang menjadi franchise tersendiri yang berpusat pada kasus-kasus yang mereka selidiki. Beberapa kasus terkenal yang pernah diselidiki oleh pasangan Warren diantaranya rumah Amityville yang sudah berkali-kali diadaptasi menjadi film, hingga boneka Annabelle yang versi filmnya kemudian menjadi bagian dari The Conjuring Universe juga.

Seorang anak remaja bernama Matt Campbell sedang menderita kanker stadium akhir dan harus menjalani perawatan radiasi secara rutin. Agar bisa lebih dekat dari rumah sakit tempat ia menjalani perawatannya, untuk sementara keluarga Campbell menyewa sebuah rumah tua di Connecticut. Rumah tersebut tampak seperti solusi yang ideal bagi mereka, dengan banyak kamar, lokasi tak jauh dari rumah sakit, dan harga sewa yang murah. Sejak tinggal sementara di rumah tersebut, Matt mulai melihat penampakan-penampakan menyeramkan. Matt berpikir bahwa itu hanyalah halusinasi, efek samping dari pengobatannya seperti yang sempat diperingatkan oleh dokternya. Namun seiring berjalannya waktu, keluarga Campbell mulai mempelajari bahwa rumah yang mereka sewa ini memiliki sejarah yang menyeramkan. Pada tahun 1920-an, rumah tersebut berfungsi sebagai rumah duka yang dikelola oleh Ramsey Aickman, seorang pengurus jenazah yang semasa hidupnya diisukan sering melakukan ritual-ritual pemanggilan arwah hingga praktek nujum. Aickman memiliki seorang asisten bernama Jonah yang masih anak-anak, yang juga menjadi seorang medium dalam setiap ritual. Menurut kabar yang beredar, dalam sebuah prosesi pemanggilan arwah semua orang yang hadir terbunuh secara mengenaskan, kecuali Jonah yang menghilang tanpa jejak. Kini, peristiwa mengerikan dan ganjil mulai semakin sering terjadi dan meneror keluarga Campbell. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menggali rahasia gelap rumah tersebut dengan bantuan seorang pendeta.

Pemasaran film The Haunting in Connecticut dengan jelas menyertakan klaim bahwa film ini berdasarkan kejadian nyata, yang mengacu pada keluarga Snedeker berdasarkan hasil investigasi Ed dan Lorraine Warren. Namun klaim “berdasarkan kejadian nyata” bisa memiliki dua kemungkinan. Yang pertama, itu bisa mengindikasikan bahwa film ini tidak memiliki kekuatan apapun untuk dijual pada para calon penontonnya, sehingga dibutuhkan klaim “berdasarkan kejadian nyata” sebagai daya jual. Yang kedua, bisa jadi sebuah film benar-benar mereka-ulang sebuah kejadian mengerikan yang pernah terjadi di dunia nyata. Sayangnya, untuk kasus The Haunting in Connecticut, klaim “berdasarkan kejadian nyata” adalah murni strategi pemasaran yang tidak mendasar. Pada kenyataannya, Lorraine Warren bahkan mengatakan bahwa tidak ada kesamaan signifikan antara kejadian-kejadian dalam film The Haunting in Connecticut dengan kasus rumah Snedeker yang pernah ia selidiki. Lorraine juga sempat menyampaikan kekesalannya kepada media karena orang-orang menganggap versi film ini benar-benar berdasarkan investigasinya. Penulis buku “In A Dark Place: The Story of a True Haunting”, Ray Garton pun akhirnya berulang kali menyatakan bahwa bukunya adalah 100% fiksi, terutama setelah seorang peneliti skeptis bernama Joe Nickell menyatakan kasus Snedeker sebagai hoax. Satu-satunya kesamaan antara kasus rumah keluarga Snedeker dengan kisah dalam The Haunting in Connecticut adalah keluarga Snedeker memang tinggal dalam sebuah rumah tua bekas rumah duka di Connecticut, dan pasangan Ed dan Lorraine Warren memang sempat menginvestigasi kemungkinan rumah tersebut berhantu. Namun semua kejadian di dalam The Haunting in Connecticut tidak pernah terjadi pada keluarga Snedeker.

Awalnya, The Haunting in Connecticut dibuka dengan cukup baik dan menjanjikan, dibumbui misteri menarik seputar rahasia rumah tua tersebut. Penonton lalu disuguhi dengan beberapa momen menegangkan dan visi-visi menyeramkan. Beberapa visual horror yang dilihat oleh Matt dalam film ini juga dikerjakan dengan cukup baik. Namun, terlepas dari beberapa momen menegangkannya, film ini kemudian mulai menyimpang dari semua misteri yang telah dibangun dan masuk ke dalam perangkap formula klise ala film horor supranatural Amerika. The Haunting in Connecticut menerapkan semua elemen klisenya seperti seseorang yang sedang belajar memasak menggunakan buku panduan dan benar-benar menerapkan setiap langkah dalam instruksinya. Sutradara Peter Cornwell juga semakin banyak menggunakan jumpscare dan momen-momen menakutkan secara berlebihan. Hasilnya, film ini terasa seperti terlalu berusaha keras untuk menjadi menakutkan, dan gagal. Ditambah lagi dengan plot yang semakin membingungkan dan tidak masuk akal. Sisi horor The Haunting in Connecticut yang terlalu basic ini juga diperburuk dengan rating PG-13, lalu ditutup dengan ending yang sama sekali tidak masuk akal, membuat film ini semakin terasa lemah dan mengecewakan.

Salah satu plot kunci yang paling tidak saya suka dalam sebuah film horor adalah ketika momen pengungkapannya “terpaksa” diceritakan lewat penerawangan batin dan adegan flashback berdurasi panjang. Mirip dengan apa yang dilakukan Joko Anwar dalam film Perempuan Tanah Jahanam (2019) ketika pengungkapan dan penjelasan misterinya disampaikan oleh sosok hantu yang “menyuapi” jawaban-jawaban pada karakter utama sekaligus penonton lewat visual flashback yang panjang dan terlalu komplit, agar penonton bisa memahami jalan ceritanya. Penulisan dalam The Haunting in Connecticut juga kurang lebih seperti itu. Mungkin Tim Metcalfe dan Adam Simon sebagai penulis juga kebingungan dengan bagaimana cara menyampaikan pengungkapan kepada penonton, dan “penerawangan batin ke masa lalu” akan selalu menjadi jalan keluar instant-nya. Saya yakin, tidak mudah untuk menulis film horor, dan hal seperti itu memang umum terjadi dalam banyak film horor. Namun sebagai seorang awam sekaligus penikmat film horor, rasanya sah-sah saja untuk berharap momen pengungkapan yang lebih dari itu. Kisah The Haunting in Connecticut yang dipenuhi kontradiksi ini lalu semakin diperburuk lewat sebuah tulisan di akhir film yang menyatakan bahwa kanker yang diderita Matt menghilang secara ajaib seiring hilangnya kekuatan jahat dalam rumah tersebut. Ini sama sekali tidak masuk akal, karena bagaimanapun Matt telah menderita kanker jauh sebelum ia menginjakkan kakinya dalam rumah di Connecticut. Rasanya cukup jelas bahwa kanker yang diderita Matt tidak ada kaitannya dengan apapun yang menghantui rumah tersebut. Jadi, apa penyebab kanker Matt tiba-tiba hilang selain untuk memberi rasa lega kepada para penonton yang mungkin tidak ingin melihat film horor dengan ending yang sedih? Bagi saya pribadi, cerita masa lalu tentang karakter Ramsey Aickman dan aktivitas necromancy-nya jauh lebih menarik dibandingkan kisah tentang keluarga Campbell. Aktivitas Aickman yang menyeramkan tentu bisa membuat penonton semakin penasaran dan bertanya-tanya tentang apa tujuan Aickman, mengapa ia mengukir mayat dengan banyak bahasa latin, hingga seperti apa siksaan batin yang dirasakan oleh Jonah sebagai medium. Tapi sayang sekali cerita tentang Aickman hanyalah dijadikan pelengkap saja dalam The Haunting in Connecticut.

Semua kekurangan tersebut sangat disayangkan karena kalau dipikir-pikir, The Haunting in Connecticut sebenarnya memiliki beberapa potensi yang kemudian tidak terlalu dikembangkan. Salah satu ide dalam plot The Haunting in Connecticut yang saya suka adalah konsep tentang alasan mengapa Matt bisa melihat hantu dan orang lain tidak, adalah karena Matt sudah mencapai kondisi mendekati ajal. Begitu juga dengan Reverend Popescu, pendeta yang kemudian membantu Matt. Reverend Popescu juga bisa melihat hantu karena ia juga adalah sesama pasien dengan kanker stadium akhir, yang berkenalan dengan Matt ketika sedang menunggu giliran terapi. Konsepnya adalah mereka yang berada di ambang kematian seakan telah menginjakkan salah satu kakinya di dimensi kematian, karena itu mereka bisa berinteraksi dengan arwah orang mati. Popescu dan Matt jelas berada dalam kategori tersebut karena keduanya sama-sama sadar betul bahwa mungkin usia mereka tidak akan lama lagi. Tentu itu konsep yang menarik. Hal minor lain yang juga tak kalah menariknya dari The Haunting in Connecticut adalah disertakannya elemen ektoplasma dalam kisah ini. Dalam dunia spiritualisme dan paranormal, ektoplasma adalah zat atau energi spiritual yang konon bisa keluar dari tubuh seorang medium dalam ritual pemanggilan arwah. Ektoplasma sering digambarkan sebagai material sangat kental berwarna terang, terkadang lengkap dengan bau menyengat, yang keluar menjalar dari lubang-lubang tubuh seorang medium, seperti mulut atau telinga, seperti bisa dilihat pada poster The Haunting in Connecticut. Ektoplasma dianggap sebagai cara roh atau arwah bermaterialisasi agar bisa berinteraksi dengan dunia fisik. Dalam dunia nyata, tentu saja keberadaan ektoplasma tidak pernah bisa dibuktikan, dan banyak orang menganggapnya sebagai hoax. Namun menampilkan visual ektoplasma dalam sebuah film horor supranatural tentu adalah hal yang menarik karena ektoplasma cukup jarang disertakan dalam film-film yang berkaitan dengan kerasukan arwah.

Di luar semua kekurangannya, film ini setidaknya menyuguhkan penampilan dan akting yang cukup bagus, terutama dari aktris Virginia Madsen yang berperan sebagai Sara Campbell, ibu dari Matt. Para penggemar horor tentu sudah tidak asing dengan wajahnya, karena ia adalah pemeran karakter Helen Lyle di film Candyman (1992). Dalam The Haunting in Connecticut, Virginia membuktikan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Ia bermain dengan maksimal sebagai seorang ibu yang sangat peduli dan penuh kasih sayang terhadap Matt, dan akan melakukan apapun untuk mendukung kesembuhan anaknya. Pemeran karakter Matt juga tak kalah bagusnya, yaitu aktor Kyle Gallner yang berhasil memerankan remaja penderita kanker dengan harapan hidup yang rendah, sekaligus korban gangguan supranatural, dengan sangat baik. Dalam beberapa momen yang berbeda, Gallner bisa memperlihatkan bentuk emosi dan raut muka yang berbeda pula, dari mulai ketika ia kerasukan hingga ketika ia sedang ketakutan. Setelah perannya di The Haunting in Connecticut, Kyle Gallner semakin sering bermain dalam film horror, dari mulai Jennifer’s Body (2009), remake A Nightmare on Elm Street (2010), Red State (2011), The Cleanse (2016), The Cleansing Hour (2019), Scream 5 (2022), Smile (2022), Mother, May I? (2023), hingga salah satu yang saya suka, Strange Darling (2023).

The Haunting in Connecticut adalah film yang secara teknis dikerjakan dengan baik, meskipun hanya berisikan rangkaian jump scare secara konstan serta elemen-elemen klise plot horor supranatural yang semakin hari terasa semakin hambar, setidaknya bagi saya. Film ini jelas tidak akan memuaskan para penggemar horor berat, tapi setidaknya sutradara Peter Cornwell tahu betul bagaimana ia harus mengatur dan menggerakan kamera untuk menciptakan adegan-adegan seram secara maksimal. Tapi The Haunting in Connecticut bisa menjadi film yang efektif kalau penontonnya belum pernah menonton film horor sebelumnya, dan tentu bisa juga dinikmati oleh para penggemar film-film horror serupa.