
LATE NIGHT WITH THE DEVIL
Sutradara: Colin & Cameron Cairnes
Australia / United Arab Emirates / USA (2023)
Review oleh Tremor
Late Night With The Devil adalah sebuah film horor supranatural yang ditulis, disutradarai dan diedit oleh duo sineas kakak beradik asal Australia, The Cairnes Brothers, yaitu Colin dan Cameron Cairnes. Ini adalah film fitur ke-tiga mereka setelah sebelumnya merilis debut backwoods horror komedi berjudul 100 Bloody Acres (2012) dan film horor Scare Campaign (2016), yang keduanya pernah saya tulis juga reviewnya. Late Night With The Devil sendiri diproduksi secara internasional, melibatkan salah satu studio film terkemuka asal United Arab Emirates yaitu Image Nation Abu Dhabi. Daftar film yang pernah diproduksi oleh Image Nation Abu Dhabi juga tidak main-main, dari mulai The Crazies (2010), Contagion (2011), Rings (2017) hingga Watcher (2022).Â

Jack Delroy adalah seorang host dari “Night Owls with Jack Delroy”, sebuah talk show tengah malam di pertengahan tahun 70-an yang sempat mendapat rating cukup tinggi dan menjadikan Delroy sebagai host paling populer. Suatu hari, istri Delroy meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Sejak itu, kharisma Delroy seakan menguap karena ia tidak sanggup melewati duka sambil tetap bekerja. Akibatnya, rating Night Owls terus menurun hingga penayangan reguler-nya sempat terhenti karena Delroy menghilang. Namun Delroy sadar kalau ia tidak menghidupkan kembali Night Owls, maka ia dan legacy-nya akan segera terlupakan, diperburuk dengan hadirnya talk show lain dari stasiun tv pesaing, yaitu “The Tonight Show Starring Johnny Carsonâ€. Didorong oleh produsernya, Delroy akhirnya sepakat untuk kembali. Dalam usaha untuk meningkatkan kembali ratingnya, Delroy merencanakan sebuah show paling spektakuler yang belum pernah ada di televisi manapun. Show yang akan disiarkan secara langsung pada malam Halloween 1977 ini membawa tema okultisme. Para bintang tamu yang dipilih oleh Delroy tentu akan menarik minat sebanyak mungkin penonton. Mereka adalah Christou, seorang medium / cenayang yang mengaku bisa berkomunikasi dengan arwah. Lalu ada Carmichael Haig, seorang mantan pesulap skeptis yang sering membongkar kebohongan-kebohongan hal-hal yang diklaim supranatural. Yang paling spesial dari semua bintang tamu adalah seorang parapsikolog bernama Dr. June, yang akan membawa pasien sekaligus anak asuhnya yang bernama Lilly untuk ikut menjadi narasumber. Lilly sendiri adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang konon dirasuki oleh iblis jahat setelah menjadi satu-satunya orang yang selamat dari sebuah sekte bunuh diri pemuja setan. Satu persatu peristiwa supranatural pun mulai terjadi selama show berlangsung, hingga akhirnya Jack Delroy menghadapi sebuah kesempatan yang tak dapat ia tolak: mewawancarai sang iblis yang menguasai Lilly. Delroy tidak pernah menyangka bahwa apa yang terjadi setelahnya jauh lebih mengerikan dari yang bisa ia bayangkan sebelumnya.

Sekilas, premis dasar film ini memang mengingatkan kita pada film TV Inggris, Ghostwatch (1992) yang kemungkinan memang menjadi inspirasi utama dari Late Night With The Devil, tapi itu bukan masalah sama sekali karena sensasi menonton Late Night With The Devil tetap terasa menyegarkan. Late Night With The Devil adalah film sederhana dengan konsep yang menarik. Film ini dibuka lewat sebuah prolog yang terasa seperti dokumenter investigasi untuk memperkenalkan sosok Jack Delroy dan jatuh-bangun karirnya. Kemudian, sang narator dokumenter menyampaikan bahwa apa yang akan kita tonton berikutnya adalah rekaman asli tanpa potongan dari siaran langsung Night Owls pada malam Halloween 1977 yang kontroversial dan mengerikan, lengkap dengan semua footage di belakang layarnya yang ditampilkan pada kita setiap kali talk show Night Owls mengambil jeda iklan. Saya pribadi enggan mengkategorikan sebagian unsur film ini sebagai found footage, karena semua footage belakang layar yang dikemas secara hitam putih tersebut sama sekali tidak terasa seperti “rekaman yang ditemukan”. Maksud saya, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk siapapun perekam footage-footage ini untuk terus merekam dan berfokus pada semua interaksi yang kebetulan penting ketika talk show sedang rehat. Lagi pula, semua rekaman belakang layar ini terasa direkam secara profesional seperti film-film pada umumnya, dari mulai penggunaan banyak kamera dari sisi yang berbeda-beda, jarak pengambilan gambar dengan subjeknya, sound yang terdengar sangat jelas seakan semua orang menggunakan mic, hingga sinematografi dan editing yang cukup bagus. Tapi itu bukan jadi soal. Saya pribadi justru bersyukur adegan-adegan belakang layar tersebut tidak direkam secara amatir layaknya film-film found footage pada umumnya. Menurut saya, pendekatan yang digunakan oleh Late Night With the Devil seperti ini cukup menarik karena yang terpenting adalah di satu sisi kita seperti benar-benar menonton talk show sungguhan, dan di sisi lain kita bisa menyaksikan apa yang penonton talk show tidak bisa lihat atau dengar di saat jeda iklan. Setiap footage belakang layar ini memang cukup penting karena menyampaikan banyak poin plot yang melengkapi kisah dalam Late Night With the Devil.

Apa yang membuat pengalaman menonton Late Night With The Devil terasa seperti menonton talk show 70-an sungguhan tidak lepas dari kerja keras tim produksi film ini yang berhasil menciptakan estetika visual dan presentasi yang sangat 70-an, dari mulai visual yang berkesan analog, desain set, dialog, lelucon, model rambut, hingga kostumnya. Akting para pemerannya yang cukup bagus juga ikut menyumbang keberhasilan Late Night With The Devil, terutama aktor David Dastmalchian yang memerankan Jack Delroy dengan fantastis. Dastmalchian sepertinya menonton cukup banyak rekaman talk show tahun 70-an sungguhan untuk mempersiapkan penghayatan peran karakternya, dan ia sangat berhasil. Ini terlihat jelas dari bagaimana pembawaan dan cara bicaranya yang seakan benar-benar seorang host talk show dari era 70-an.
Namun, meskipun saya cukup puas dan terhibur menonton Late Night With The Devil, bukan berarti film ini tidak bermasalah. Apa yang ingin saya bahas bukanlah kekurangan dalam plot atau penulisannya, melainkan sebuah kontroversi teknis yang memang sangat perlu dikritisi. Setelah dirilis, Late Night With The Devil segera dibanjiri kritik dari banyak orang, hingga berujung pada seruan di jagat twitter untuk memboikot film ini. Permasalahannya adalah karena tim produksi film ini menggunakan desain grafis yang dihasilkan oleh A.I. image generator untuk tiga buah grafis pengantar jeda iklan Night Owls. Adanya grafis buatan AI ini memang tidak akan merusak pengalaman menonton Late Night with The Devil, tapi saya mengerti mengapa banyak orang ingin memboikot film ini, karena bagaimanapun juga ranah kreatif seperti produk film bukanlah tempat yang tepat untuk menggunakan AI. Rasanya sangat tidak etis ketika sebuah film dibuat lewat kerja keras banyak pekerja seni dari berbagai bidang, tetapi mengecilkan peran para pekerja desain grafis. Saya pikir film yang diproduksi oleh studio sebesar Image Nation Abu Dhabi tentu setidaknya bisa menghubungi dan menugaskan satu atau dua seniman grafis desain untuk membantu pembuatan desain grafis dalam film ini.

Di luar soal kontroversi penggunaan AI-nya, saya pribadi cukup menikmati Late Night with the Devil. Apalagi saya menontonnya secara buta tanpa tahu apapun selain desain posternya saja. Bagi saya, Late Night With The Devil tetaplah tontonan sederhana yang menghibur dan sangat cocok untuk mengisi waktu senggang sepanjang 1 jam dan 33 menit. Saya juga sangat suka dengan bagian film ini di mana semua kekacauan supranatural mulai terjadi di dalam studio, dan mungkin juga di rumah para penonton TV-nya, yang kemudian semakin bereskalasi hingga ditutup dengan ending yang cukup memuaskan. Selain itu, film ini juga memiliki sub-plot terselubung tentang keterlibatan Jack dengan sekte tertentu, serta bagaimana sang iblis membongkar sisi gelap Jack Delroy di depan para penontonnya, yang kesemuanya menambah “bumbu” menarik dalam kisah ini tanpa perlu menjadi terlalu rumit. Kisah sederhana seperti Late Night With The Devil tentu mudah untuk ditebak arahnya, tetapi bagaimana sang iblis mengambil alih talk show Jack Delroy sekaligus membongkar sisi tergelap Delroy pada akhir film ini tetap menjadi kejutan kecil yang menyenangkan.

