MOVIE REVIEW: LAKE MUNGO (2008)

LAKE MUNGO
Sutradara: Joel Anderson
Australia (2008)

Review oleh Tremor

Lake Mungo adalah sebuah film horror independen dengan sentuhan supranatural, debut dari penulis / sutradara Australia, Joel Anderson. Film ini disajikan dalam format mockumentary, atau film dokumenter fiktif, yang narasinya tersusun dari kumpulan wawancara, footage berita TV, serta rekaman-rekaman amatir dari berbagai sumber hingga film ini benar-benar terasa seperti film dokumenter sungguhan. Meskipun Lake Mungo lahir pada era di mana film-film bergaya found-footage sedang berjaya, saya pribadi merasa kurang tepat untuk menyebut Lake Mungo sebagai film found-footage dalam konteks seperti The Blair Witch Project (1999) maupun Cloverfield (2008), karena “rekaman yang ditemukan” dalam Lake Mungo mungkin hanyalah 1 persen dari keseluruhan durasinya. Dua tahun setelah pemutaran perdananya di Sydney Film Festival 2008, Lake Mungo mulai semakin dikenal secara internasional setelah menjadi bagian dari After Dark Horrorfest di tahun 2010, sebuah festival film horror tahunan yang mempertontonkan delapan film horor independen dari berbagai negara di setiap tahunnya. Bagi saya pribadi, Lake Mungo merupakan salah satu film After Dark Horrorfest yang terkuat, berjajar dengan Reincarnation (2006), Frontier(s) (2007), Mulberry Street (2007), dan Dying Breed (2008). Tak lama setelah dirilis dalam festival tersebut, Hollywood sempat berencana untuk membuat remake versi Amerika dari Lake Mungo dengan target rilis tahun 2011. Untungnya, rencana yang sangat tidak diperlukan itu tak pernah terealisasi hingga hari ini. Sebagai sebuah debut, Lake Mungo memang cukup menjanjikan. Namun sayang sekali Joel Anderson belum pernah membuat film lagi hingga hari ini, menjadikan Lake Mungo sebagai karya tunggal sekaligus satu-satunya masterpiece Anderson.

Alice Palmer adalah seorang gadis berumur enam belas tahun yang tenggelam saat ia sedang berenang bersama keluarganya di sebuah bendungan di kota kecil Ararat, Australia. Keluarga Alice yaitu June (ibu), Russel (ayah), dan Matthew (kakak) sangat terpukul setelah jasad Alice akhirnya ditemukan. Di tengah perjuangan emosional dalam menerima kematian yang mendadak dan memilukan ini, keluarga Palmer mulai mengalami kejadian-kejadian aneh di dalam rumah mereka, dari mulai suara-suara yang datang dari kamar Alice, mimpi-mimpi buruk, hingga Russel yang sempat melihat sosok anak perempuannya. Tak hanya itu, figur Alice juga mulai muncul dalam berbagai rekaman video dan foto-foto yang sengaja diambil oleh Matthew di sekitar rumah mereka. Semasa hidupnya, Alice dikenal sebagai remaja perempuan yang tampak bahagia dan mudah bergaul. Namun sejak kematiannya, rahasia gelap yang Alice sembunyikan dari keluarga dan teman-temannya mulai terkuak satu persatu.

Tak hanya dibuka dengan gaya yang sangat terinsiprasi dari serial TV Twin Peaks buatan David Lynch, nama karakter Alice Palmer sendiri jelas merupakan bentuk penghargaan dari penulis Joel Anderson untuk Twin Peaks. Nama Palmer merujuk pada karakter Laura Palmer dari serial Twin Peaks, seorang gadis remaja yang bernasib mirip seperti Alice pada awal film Lake Mungo: ditakdirkan mati dengan tragis dan kematiannya kemudian menjadi fokus misteri di sepanjang serial Twin Peaks.

Pada dasarnya Lake Mungo adalah sebuah cerita hantu yang berfokus pada eksplorasi tema duka, kesedihan, penyesalan, kehilangan, penyangkalan, melepas, serta penderitaan batin keluarga setelah seseorang yang mereka cintai meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan lewat banyak gestur dan kata-kata yang dituturkan oleh keluarga Palmer di sepanjang film yang menyoroti ketidakberdayaan dan hancurnya perasaan mereka. Masing-masing anggota keluarga dan kerabat Alice menghadapi duka dengan cara yang berbeda-beda dan bahkan salah satunya cukup aneh, seperti apa yang dilakukan oleh Matthew yang sedang mendalami fotografi. Jadi selain menjadi sebuah film mockumentary horror, Lake Mungo juga menjadi sebuah studi yang dramatis tentang berdamai dengan rasa duka lewat gaya film dokumenter. Saya suka dengan betapa realistisnya mockumentary ini. Keluarga Palmer seakan adalah sebuah keluarga sungguhan yang pada akhirnya telah melewati semua duka dan kejadian aneh yang mereka alami, berusaha memahami semuanya, dan telah siap untuk membagi ceritanya ke publik yang lebih luas. Kalau penonton tidak tahu bahwa Lake Mungo adalah film fiksi, kita bisa saja percaya bahwa semua kisah dan pengalaman yang dituturkan oleh setiap karakternya benar-benar mereka alami. Keberhasilan ini tak lepas dari kemampuan akting para aktornya yang menurut saya benar-benar meyakinkan. Seandainya ada satu saja akting dan emosi yang tidak terasa meyakinkan, tentu itu akan merusak konsep “dokumenter”-nya.

Dalam alurnya, semakin banyak hal yang ditemukan oleh keluarga Palmer, semuanya terasa semakin misterius. Sebagian lapisan kerumitan dalam kisah Alice sebenarnya banyak berfungsi sebagai red herring belaka untuk mengecoh penonton sekaligus menambah ketegangan. Tapi meskipun begitu, Lake Mungo tetap tidak kehilangan fokus utamanya karena kita terus mendapat pengetahuan baru tentang Alice. Seiring berjalannya cerita, kita mulai menyadari bahwa Alice bukanlah seperti yang dikenal oleh keluarganya. Siapapun yang membaca kalimat barusan mungkin akan berasumsi kalau ternyata Alice adalah karakter yang jahat, pembunuh jagal, atau sesuatu yang lebih buruk lagi. Tapi bukan itu yang terjadi dalam Lake Mungo. Keluarga Palmer sama sekali tidak mengetahui apa yang Alice hadapi seorang diri semasa hidupnya, yang seharusnya mereka ketahui agar memiliki kesempatan untuk menolong Alice. Alice seharusnya bisa meminta pertolongan keluarganya, tapi ia tidak pernah melakukannya. Alice memilih diam dan terus berperan sebagai seorang anak perempuan yang tampak ceria dalam kesehariannya sambil memikul rahasia gelapnya seorang diri. Dan ini adalah elemen cerita yang cukup menyentuh. Mungkin Alice menyesalinya, dan arwahnya ingin keluarganya tahu seperti apa Alice yang sebenarnya. Jadi, Lake Mungo juga berfungsi sebagai refleksi tentang duka yang kemudian berkembang pada gagasan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar mengenal seseorang jika mereka tidak menginginkan kita mengenalnya lebih dalam. Dengan premis dasar yang berlapis seperti itu, sangat wajar kalau cerita dalam Lake Mungo berjalan cukup lambat, memberi waktu yang cukup bagi penonton untuk benar-benar mengenal setiap karakter serta dinamika di antara mereka.

Perlu dicatat, meskipun Lake Mungo bukanlah film horor yang intens, tapi bukan berarti film ini tidak bermaksud menakut-nakuti penontonnya. Dalam beberapa hal, Lake Mungo bisa cukup menakutkan, dan vibe itu disajikan secara halus, merayap dan perlahan. Sumber ketakutan terbesar dari film ini tentu ada pada imaji-imaji Alice yang hadir di video maupun foto. Rekaman video amatir yang menampilkan sosok samar-samar Alice sudah cukup menambah atmosfer seram karena semua terlihat terdistorsi dan meresahkan. Lake Mungo adalah film horor yang ditulis dengan bagus namun tentu tidak sempurna. Salah satu kekurangannya menurut saya ada pada beberapa plot device yang terasa dipaksakan hanya demi twist yang tidak diperlukan dan sama sekali tidak membawa perubahan pada plotnya. Tapi sebagai sebuah debut independen, Lake Mungo adalah film yang bagus dengan ide yang lumayan original dan sangat layak untuk ditonton. Film ini tentu saja tidak cocok untuk ditonton oleh mereka yang mencari banyak aksi, parade jumpscares, alur cepat, serta hantu berwujud mengerikan karena kengerian dalam Lake Mungo bergerak merayap dengan halus dan perlahan, sambil tetap menjaga tema kesedihannya yang sangat kuat.