MOVIE REVIEW: I’LL TAKE YOUR DEAD (2018)

I’LL TAKE YOUR DEAD
Sutradara: Chad Archibald
Kanada (2018)

Review oleh Tremor

I’ll Take Your Dead adalah sebuah film thriller yang mencoba untuk menggabungkan beberapa genre dari mulai drama keluarga, crime drama, hingga horor supranatural. Sutradara asal Kanada, Chad Archibald, menulis film ini bersama Jayme Laforest, seorang penulis naskah yang sebelumnya sudah beberapa kali bekerja sama dengan Archibald. I’ll Take Your Dead menjanjikan premis dan konsep awal yang cukup menarik sebagai sebuah film thriller, sambil mengeksplorasi tentang hubungan antara ayah dan anak perempuan.

Kisah ini berfokus pada William, seorang petani yang hidup berdua hanya dengan anak perempuannya yang masih berumur dua belas tahun di rumah pertanian yang terpencil. Selain berprofesi sebagai petani dan peternak, William juga memiliki “pekerjaan sampingan” yang cukup gelap, namun mendapat banyak uang dari pekerjaan tersebut. Dalam pekerjaan itu, William kerap dijuluki “The Candy Butcher”, nama yang cukup terkenal dan disegani oleh para kliennya di dunia kriminal dan geng jalanan. Pekerjaannya adalah menghancurkan mayat para korban pembunuhan yang terkait dengan aktivitas geng di kota terdekat. Anak William yang bernama Gloria sudah terbiasa menyaksikan mayat yang diantar oleh para anggota geng. Gloria bahkan berpikir bahwa arwah orang-orang yang jenazahnya dilenyapkan oleh ayahnya bergentayangan di ruang bawah tanah. Sebenarnya William sendiri tidak pernah ingin melakukan pekerjaan kotor tersebut, dan ia mulai berencana untuk membawa Gloria melarikan diri setelah uang tabungannya mencukupi. Masalah rumit dalam film ini dimulai ketika salah satu mayat perempuan bernama Jackie yang “dibuang” oleh klien William ternyata belum benar-benar mati. Kini William yang pada dasarnya bukanlah seorang pembunuh perlu memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Jackie.

Pada awalnya, konsep dasar yang ditawarkan dalam I’ll Take Your Dead cukup menarik. Film ini dibuka dengan cukup baik dan mulai menegangkan ketika William menyadari bahwa Jackie belum meninggal. Kita bisa memahami bahwa apa yang dihadapi oleh William cukup pelik dan tidak ada pilihan keputusan yang mudah baginya karena pada dasarnya William bukanlah orang jahat. Ia hanya seorang ayah yang berusaha melindungi anak semata wayangnya. Demikian juga dengan karakter Jackie yang juga bukan karakter jahat. Kedua karakter tersebut diposisikan terpaksa menjalani hal-hal gelap karena tak ada pilihan bagi mereka, dan itu membuat cerita ini menjadi cukup menarik. Tapi sayangnya plot film ini semakin menurun dan berantakan seiring berjalannya durasi. Sisi gelap karakter Gloria yang sempat sedikit digambarkan pada awal film juga seakan dilupakan, membuat karakternya menjadi kurang menarik. Tak hanya itu, I’ll Take Your Dead juga terasa seperti terlalu memaksakan adanya unsur supranatural, yang pada akhirnya terasa hanya sebagai gimmick belaka. Mungkin itu karena film ini berusaha memadukan beberapa genre sekaligus, dimulai dengan horror supranatural, crime-thriller, hingga drama keluarga, hingga sutradara Archibald seperti kehilangan fokusnya. Saya pikir film ini justru memiliki potensi untuk menjadi lebih efektif seandainya tidak ada elemen horror supranatural di dalamnya, karena ketika sosok hantu-hantu mulai muncul dan beraksi dalam babak ketiga, bagi saya rasanya seperti penulisan yang cukup malas tentang bagaimana film ini diakhiri.

Sebagai film horor, I’ll Take Your Dead tidak pernah terasa menyeramkan. Bahkan ketika hantu-hantu di ruang bawah tanah mulai bermunculan, semuanya terasa terlalu stereotipikal. Mereka yang berharap adanya adegan-adegan gore dan penuh organ tubuh manusia dalam pekerjaan The Candy Butcher sebagai pemusnah jenazah juga bisa kecewa karena I’ll Take Your Dead bukanlah film seperti itu. Sebagai film thriller, film ini menawarkan beberapa momen menegangkan tetapi sayangnya masih dalam level yang cukup klise. Film ini juga tidak menawarkan kejutan apapun dalam plotnya yang bisa terbaca dengan cukup jelas. I’ll Take Your Dead kemudian ditutup dengan ending yang tidak meyakinkan dan terlalu dipaksakan ketika William mengorbankan diri untuk seseorang yang baru saja iya kenal, sesuatu yang sangat kontradiktif dengan prinsipnya sendiri soal melindungi Gloria. Namun, meskipun penonton mungkin sudah bisa menebak akan ke arah mana ending film ini, I’ll Take Your Dead tetap bisa menjadi tontonan pengisi waktu yang cukup menghibur. Akting dari ketiga karakter sentral dalam film ini juga cukup meyakinkan, terutama penampilan aktris cilik Ava Preston yang memerankan karakter Gloria dengan baik. Setidaknya, I’ll Take Your Dead adalah usaha yang dikerjakan dengan baik dari para pembuatnya yang mungkin ingin mencoba bereksperimen dengan premis awal yang cukup menarik.