
GRAVE ENCOUNTERS
Sutradara: Colin Minihin dan Stuart Ortiz
Kanada (2011)
Review oleh Tremor
Setelah film The Blair Witch Project meledak di tahun 1999, proses produksi film dengan format found-footage mulai menjadi opsi yang menyegarkan bagi banyak pembuat film horror independen berbajet terbatas. Alasan utamanya tentu saja adalah karena biaya produksi dengan format ini jauh lebih murah dibandingkan biaya produksi film konvensional. Namun, tidak banyak film horror berformat found footage yang bisa dibilang berhasil. Mungkin hanya beberapa film saja yang pada akhirnya menonjol karena cukup kreatif dalam mengolah premisnya untuk format found-footage, diantaranya adalah Paranormal Activity (2007), Rec (2007), Cloverfield (2008), dan Grave Encounters (2011). Ditulis dan disutradarai oleh Colin Minihin dan Stuart Ortiz yang menggunakan nama the Vicious Brothers, Grave Encounters mengambil inspirasi dari sebuah reality show paranormal berjudul Ghost Adventures yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Reality show tersebut menampilkan sekelompok tim pemburu hantu yang melakukan investigasi ke lokasi-lokasi yang dikabarkan berhantu untuk mendapatkan bukti aktivitas paranormal menggunakan peralatan rekam canggih yang mereka bawa.

Film ini berfokus pada sekelompok crew dari reality show paranormal yang berjudul “Grave Encountersâ€. Kelompok pemburu hantu yang dipimpin oleh Lance Preston ini akan merekam episode ke-enam mereka di sebuah bangunan terbengkalai bekas rumah sakit jiwa yang angker, Collingwood Psychiatric Hospital, di mana banyak laporan tentang fenomena-fenomena yang tak bisa dijelaskan terjadi selama bertahun-tahun di dalamnya. Untuk menambah ketegangan dari reality show ini, Preston dan para crew-nya akan bermalam di sanasecara sukarela, dengan pintu yang digembok dari luar. Selain menempatkan kamera-kamera pengintai di beberapa spot yang konon paling berhantu, setiap anggota tim juga dilengkapi kamera genggam serta alat rekam audio untuk menangkap fenomena-fenomena supranatural yang mungkin terjadi. Ketika malam datang, investigasi di dalam gedung pun dimulai. Tak butuh waktu lama hingga tim mulai menyadari bahwa bangunan terbengkalai tersebut seakan tidak mengijinkan mereka untuk pergi. Tanpa mereka sadari, investigasi bangunan kosong Collingwood Psychiatric Hospital akan menjadi episode terakhir dari reality show Grave Encounters.

Sebenarnya, ada banyak elemen yang klise dan stereotip ala horor supranatural dalam film ini. Tentu ada beberapa penampakan hantu dan jump scares dalam Grave Encounters, tapi sepertinya “monster†utama dalam film ini bukanlah hantu-hantu tersebut melainkan bangunan itu sendiri. Saya pribadi selalu senang dengan konsep supranatural yang menggunakan bangunan atau rumah sebagai karakter villain utama seperti ini. Saat hari semakin malam, lorong-lorong gelap di dalam bangunan mulai menyerupai labirin di dalam mimpi buruk, yang terus berubah secara acak, membuat para crew Grave Encounters tersesat sambil diteror oleh entitas-entitas yang menyeramkan. Sekeras apapun usaha para crew Grave Encounters untuk mencari jalan keluar, denah bangunan ini terus berubah dan mulai menghancurkan kewarasan para karakternya. Hal lain yang saya suka dari konsep ini juga adalah tentang ambiguitas waktu. Sejak para crew Grave Encounters memasuki gedung, langit yang mereka lihat di luar jendela selalu menunjukkan malam hari, meskipun jam pada ponsel mereka menunjukkan waktu telah memasuki siang hari. Alam di dalam bangunan seakan tidak mengikuti hukum alam di luar sana. Menurut saya, ide-ide seperti itu jauh lebih menyeramkan dibandingkan penampakan hantunya, karena yang terburuk dari semuanya adakah tidak adanya jalan keluar dan pertolongan dari siapapun. Sayangnya, tidak ada yang spesial dari konsep hantu-hantu yang menampakan diri kepada para crew Grave Encounters. Sebaliknya, hantu-hantu ini justru tampak generik. Sebagian besar wajah hantu dalam film ini dibuat lewat special effect CGI yang tidak terlalu buruk pada masanya, meskipun kalau dilihat lagi hari ini, wajah para hantu ini sedikit mengingatkan saya pada beberapa efek filter dalam aplikasi seperti Snapchat.

Ada satu hal lain yang saya suka dari konsep dasar Grave Encounters adalah, film ini memiliki alasan yang sangat kuat untuk para karakternya terus merekam semua yang mereka alami, karena para crew Grave Encounters ingin dunia tahu tentang apa yang terjadi. Lagipula, kamera genggam yang mereka gunakan untuk terus merekam juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai sumber cahaya. Ketika banyak film found footage gagal memberi alasan kuat mengapa para karakternya terus merekam meskipun tengah menghadapi hal-hal mengerikan, film Grave Encounters memiliki alasan yang masuk akal. Ide yang sama akhirnya sering digunakan kembali dengan cukup efektif dalam beberapa film found footage lain yang lahir setelah Grave Encounters. Film horror dari Korea yang berjudul Gonjiam: Haunted Asylum (2018) bahkan menggunakan konsep yang nyaris sama, dengan teknologi dan media yang sudah jauh lebih modern.
Grave Encounters bukanlah film horor yang sempurna. Selain durasinya yang menurut saya agak terlalu panjang, desain hantu yang generik, serta banyak hal lain yang terasa sedikit klise, namun saya pikir ini adalah film horor yang plotnya dieksekusi dengan baik dan tetap berhasil memberi kengerian bagi para penontonnya. Untuk ukuran sebuah film independen berbajet terbatas, saya bisa memaklumi banyak kekurangan film ini. Lokasi yang menyeramkan, premis yang menarik, penggunaan kamera genggam yang tepat, hingga momen-momen menegangkan, secara keseluruhan sudah cukup untuk membuat Grave Encounters sebagai film horror yang sangat menghibur untuk ditonton bersama teman-teman di dalam ruangan yang gelap.

