
EVENT HORIZON
Sutradara: Paul W.S. Anderson
UK / USA (1997)
Review oleh Tremor
Setelah cukup sukses membuat film adaptasi dari video game Mortal Kombat (1995), nama sutradara Paul W.S. Anderson mulai dikenal dan beberapa tawaran pekerjaan pun segera datang padanya, diantaranya Mortal Kombat: Annihilation (1997) dan salah satu film X-Men pertama. Namun Anderson menolak semua tawaran tersebut karena ia terlanjur jatuh hati pada sebuah naskah horror / sci-fi yang ditulis oleh Philip Eisner dan memutuskan untuk menyutradarai film ini, berjudul Event Horizon. Premis awal naskah Event Horizon digambarkan sebagai “The Shining versi luar angkasa”. Namun pada prosesnya, film ini menjadi semakin menarik karena banyak mengambil inspirasi dan pengaruh dari Hellraiser (1987). Ketika pertama kali dirilis, Event Horizon mendapat ulasan dan hasil box office yang cukup mengecewakan. Namun seiring berjalannya waktu, para kritikus mulai menilai ulang film ini dan sekarang dipandang sebagai sebuah film sci-fi horror yang sempat diremehkan di jamannya. Hari ini, Event Horizon telah menyandang status cult classic yang sepatutnya ia dapatkan dan memberi pengaruh cukup besar dalam kultur horror, bahkan hingga menginspirasi lahirnya franchise video game Dead Space (2008). Di kemudian hari, karir Anderson cukup stabil sebagai sutradara, produser, dan penulis skenario, dengan karya-karya film adaptasi dari video game seperti franchise Resident Evil hingga Monster Hunter (2020).

Pada tahun 2040, sebuah kapal antariksa penjelajah bernama Event Horizon berangkat dalam misi perjalanan menuju bintang Proxima Centauri, bintang terdekat dari tata surya yang berjarak 4,2 tahun cahaya dari bumi. Kapal ini dilengkapi dengan teknologi canggih yang mampu merekayasa ruang-waktu dan memungkinkannya melaju dengan kecepatan melebih kecepatan cahaya, seakan melakukan perjalanan melewati lubang hitam. Bagi yang tidak familiar dengan dunia astrofisika, terminologi “event horizon” atau yang dalam bahasa indonesianya disebut “ufuk peristiwa” menggambarkan batas dalam ruang-waktu di sekitar lubang hitam di mana tarikan gaya gravitasinya begitu kuat sehingga tidak ada apapun yang dapat lolos darinya, bahkan cahaya sekalipun. Secara teknis, pada batas inilah alam semesta fisika berakhir dan hukum fisika tidak lagi berlaku. Dalam film ini, Event Horizon dijadikan nama dari sebuah kapal antariksa penjelajah sebagai simbol dari misi perjalanannya yang melampaui batas alam semesta yang kita kenal. Tak lama setelah keberangkatannya, kapal Event Horizon beserta seluruh awaknya menghilang tanpa jejak setelah melewati planet Neptunus. Pada tahun 2047, bumi menerima gelombang sinyal isyarat bahaya (sinyal yang digunakan untuk meminta bantuan darurat, menunjukkan bahwa seseorang sedang dalam bahaya serius dan membutuhkan pertolongan) dari sekitar planet Neptunus yang diduga dikirim oleh Event Horizon, kapal antariksa yang tiba-tiba muncul setelah tujuh tahun dianggap hilang. Sebuah kapal penyelamat bernama Lewis and Clark bersama seorang ilmuwan pencipta kapal Event Horizon, Dokter Weir, diutus untuk pergi ke sumber sinyal tersebut. Sesampainya di sana, Dr. Weir dan para awak Lewis and Clark mulai masuk ke dalam kapal untuk menyelidiki tentang apa yang terjadi pada Event Horizon selama tujuh tahun terakhir. Begitu mereka melangkahkan kaki ke dalam Event Horizon, saat itulah semua kengerian benar-benar dimulai.

Saya sedikit heran mengapa para kritikus film di tahun 1997 gagal mengapresiasi Event Horizon ketika pertama kali dirilis. Bagi saya dan mungkin bagi banyak penggemar horor lainnya, Event Horizon adalah salah satu film horor dekade 90-an yang memiliki premis cukup mengerikan dibanding film-film horor lain di jamannya. Seperti kita ketahui, tak banyak film horor iconic yang lahir pada dekade 90-an dibandingkan dekade keemasan 80-an, dan kehadiran Event Horizon tentu saja cukup menyegarkan meskipun ide film ini tidak sepenuhnya original. Tidak bisa dipungkiri, beberapa bagian dalam Event Horizon memang sangat terpengaruh oleh Alien (1979), The Shining (1980), serta Hellraiser (1987), dan penonton bisa dengan mudah menemukan semua inspirasi itu di sepanjang film. Tapi, secara mengejutkan percampuran ketiga inspirasi itu berhasil menghasilkan sebuah kisah baru yang cukup menyeramkan dan secara tidak langsung menjadi kisah originalnya sendiri. Apa yang paling saya suka adalah, mulai babak ketiganya penonton akan mulai menyadari bahwa pada dasarnya Event Horizon adalah sebuah kisah cosmic horror ala lovecraftian, dan itu jelas sangat membedakannya dari Alien, The Shining dan Hellraiser. Cosmic horror, yang lahir dari budaya Lovecraftian horror, adalah sebuah tema horor yang mengangkat gagasan teror dan rasa takut eksistensial berkaitan dengan alam semesta serta dimensi yang begitu luas dengan segala kemungkinannya yang tidak bisa dipahami oleh akal manusia. Ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa tidak banyak kisah cosmic horror yang berlatar di luar angkasa. Hingga hari ini, hampir semua kisah cosmic horror seperti In the Mouth of Madness (1994), The Mist (2007), The Void (2016), Aterrados (2017), hingga Annihilation (2018), semuanya berlatar di bumi. Event Horizon membuktikan bahwa cosmic horror yang berlatarkan luar angkasa bisa menjadi jauh lebih mengerikan, karena luar angkasa adalah teritori yang pada dasarnya memang sangat asing bagi manusia. Lokasi ini membuat posisi para karakternya sangat rentan karena terisolasi secara ekstrim dan tidak bisa dengan mudah mencari tempat aman di ruang vakum antariksa. Tidak ada tempat untuk melarikan diri, tidak ada tempat untuk bersembunyi, dilengkapi dengan visual yang mengerikan, menjadikan Event Horizon sebagai sebuah film horror sejati.

Tidak seperti kebanyakan film horor Amerika, Event Horizon tidak bergantung pada adegan kejutan murahan, alias jump-scare. Elemen kengeriannya tidak diproduksi dengan sound bervolume keras yang tiba-tiba menghentak dengan tujuan mengagetkan, tetapi dibangun lewat suasana dan firasat buruk. Sama seperti kebanyakan cosmic horror dan kisah-kisah lovecraftian pada umumnya, Event Horizon mengolah rasa takut alami manusia seputar hal-hal yang tidak kita pahami dan tak dapat dijelaskan. Di saat yang sama plot film ini juga memantik rasa ingin tahu kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada awak kapal Event Horizon dan ke mana perginya kapal tersebut selama tujuh tahun terakhir. Untuk ukuran sebuah film luar angkasa buatan tahun 1997 di mana special effect CGI mulai semakin banyak digunakan dalam industri film, tentu saja special effect CGI dalam Event Horizon terlihat agak lemah untuk ditonton hari ini. Untungnya, film ini tidak sepenuhnya menggunakan CGI. Dalam beberapa bagian kita masih bisa melihat special effect tradisional praktis tetap digunakan dalam Event Horizon, terutama dalam visual-visual gore dan vibe neraka yang sangat terinspirasi dari Hellraiser-nya Clive Barker. Sayang sekali semua adegan body-horror dan berdarah dalam film ini muncul hanya sebagai kumpulan fragmen-fragmen visi sekejap. Penyensoran adalah alasan utamanya. Dalam versi aslinya, film Event Horizon dipenuhi banyak adegan kekerasan dalam visi dimensi lain yang mengerikan, dengan total durasi film sepanjang 130 menit. Studio Paramount Pictures yang ikut memproduksi dan memegang distribusi Event Horizon memerintahkan Paul W.S. Anderson untuk memangkas film ini dan mengurangi sebagian besar adegan kekerasannya. Atas desakan studio Paramount inilah, Event Horizon yang kita kenal sampai hari ini hanya berdurasi 96 menit saja. Permintaan ini sangat tidak masuk akal bagi saya, karena Event Horizon ditulis sebagai film horor, dan bukan film keluarga, jadi seharusnya wajar kalau film ini memiliki banyak adegan kekerasan yang mengerikan. Sayangnya, sampai hari ini versi extended cut dari Event Horizon tidak pernah dirilis.
Event Horizon tentu bukan film yang sempurna. Kelemahan paling mencolok ada pada penulisan stereotip para karakternya yang terlalu basic, semuanya ditulis tanpa ada pengembangan karakter dan kedalaman sama sekali. Tapi aktor Sam Neill yang berperan sebagai dokter Weir melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, dengan pembawaan yang mirip seperti ketika ia memerankan karakter investigator dalam In the Mouth of Madness (1994). Sepertinya Sam Neill memang cocok untuk memerankan karakter yang memiliki arc kehilangan kewarasan secara bertahap. Pada akhirnya Event Horizon tetaplah menjadi sebuah kisah lovecraftian / cosmic horror original yang bagus, di mana entitas jahatnya tidak benar-benar berwujud karena konsepnya melampaui akal manusia, dan semua orang kehilangan akal sehat karena pengaruh jahatnya. Sebagai sebuah film sci-fi cosmic horror 90-an yang sempat kurang mendapat perhatian, tentu saja film ini perlu menjadi tontonan wajib bagi para penggemar horror.

