
DREAM HOME / WAI DOR LEI AH YAT HO
Sutradara: Pang Ho-cheung
Hong Kong (2010)
Review oleh Tremor
Sejak lama Hong Kong dikenal sebagai produsen film-film martial art / action ikonik hingga memperkenalkan nama-nama besar seperti Bruce Lee, Jackie Chan, Jet Li, hingga Sammo Hung ke seluruh penjuru dunia. Meskipun industri film martial art Hong Kong begitu menjanjikan, banyak pembuat film Hong Kong yang tetap memilih memproduksi film horor dari mulai Hex (1980), The Boxer’s Omen (1983), A Chinese Ghost Story (1987), hingga The Eye (2002). Di luar judul-judul populer tersebut, sebenarnya ada lebih banyak film horor Hong Kong yang distribusinya dibatasi karena cukup brutal dan eksplisit. Sejak tahun 1988 badan sensor film Hong Kong mulai menerapkan klasifikasi rating untuk film-film yang hanya boleh ditonton oleh penonton berusia 18 tahun ke atas karena kontennya yang sadis, tabu dan vulgar. Sistem rating yang dinamai Category III ini didominasi oleh film-film berelemen horor dari mulai Seeding of a Ghost (1983), Devil Fetus (1983), Men Behind the Sun (1988), Riki-Oh: The Story of Ricky (1991), Dr. Lamb (1992), The Untold Story (1993), Ebola Syndrome (1996) hingga Dumplings (2004), di mana beberapa diantaranya telah dianggap sebagai karya cult classic bagi para penggemar horror hari ini. Dream Home adalah salah satu film slasher asal Hong Kong yang masuk dalam daftar Category III karena kebrutalannya. Menariknya, kalau kebanyakan film horor Category III hanyalah sekedar film-film eksploitasi tanpa makna yang mendalam, Dream Home membuat dirinya jauh lebih menonjol karena film slasher ini dirancang dengan cerdas sebagai satir sosial yang cukup eksplisit. Tidak hanya menjual kesadisan dan shock belaka, film ini secara terang-terangan juga mengangkat isu sosial yang cukup relevan bagi masyarakat kelas bawah di Hong Kong. Dream Home dibuat oleh penulis/sutradara Pang Ho-cheung yang memang terkenal sering menyisipkan komentar sosial dan dark humor dalam film-filmnya, menjadikannya sebagai salah satu nama penting dalam sinema Hong Kong modern.

Film ini dibuka dengan catatan statistik tentang meroketnya biaya tempat tinggal di Hong Kong yang terlampau tinggi kalau dibandingkan dengan pendapatan rata-rata penduduknya. Info ini cukup penting karena akan yang menjadi latar belakang utama dari Dream Home. Tanpa basa-basi, film ini segera menyuguhkan opening yang cukup brutal dan memperkenalkan kita pada karakter Cheng Lai Sheung. Ia adalah seorang perempuan muda pekerja keras yang memiliki dua pekerjaan, sebagai telemarketer sebuah bank di siang hari, dan sebagai pelayan butik di malam hari. Seakan masih kurang, pada malam-malam tertentu ia juga mencari uang tambahan dengan cara melayani seorang pria hidung belang. Bukan tanpa alasan Cheng Lai mencari uang sebegitu kerasnya hingga mengorbankan banyak waktu dalam hidupnya. Untuk memahami hal tersebut, alur film ini kemudian membawa kita pada masa kecil Cheng Lai yang tumbuh di rumah susun kumuh dekat pelabuhan. Rasa sayang pada kakeknya yang merupakan seorang pelaut membuat Cheng Lai bermimpi untuk bisa memiliki flat yang menghadap pemandangan laut. Suatu hari, keluarga dan para tetangganya digusur oleh pengembang real estate yang hendak membangun apartemen-apartemen mewah di area tersebut. Setelah dewasa, Cheng Lai masih terobsesi dengan mimpinya untuk membeli kembali satu unit apartemen yang menempati lokasi tempat ia pernah dibesarkan dulu. Namun harganya yang tidak masuk akal dibandingkan pendapatan seorang pekerja biasa seperti Cheng Lai membuatnya harus bekerja dan menabung dengan sangat keras, sambil merawat ayahnya yang sakit-sakitan akibat menghirup material beracun dari pekerjaan konstruksi selama puluhan tahun. Cheng Lai akhirnya berhasil mendapat sejumlah uang dari asuransi setelah ayahnya meninggal dan dengan dana ini ia bisa membayar uang muka unit apartemen impiannya. Tanpa diduga, pemilik apartemen memutuskan untuk menaikan harga jualnya dan mengembalikan uang muka Cheng Lai. Situasi tersebut tentu membuat Cheng Lai sangat marah. Setelah bekerja keras dan menabung di hampir sepanjang hidup dewasanya, bahkan hingga mengorbankan ayahnya sendiri, uang mukanya dikembalikan begitu saja karena pemilik apartemen yang serakah menginginkan lebih banyak uang. Namun Cheng Lai tidak menyerah. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan rumah impiannya, termasuk membantai beberapa penghuni kelas menengah di apartemen tersebut secara brutal agar minat masyarakat terhadap apartemen itu menurun, yang otomatis menurunkan harga jual unitnya juga.

Cheng Lai sang penjagal dalam film ini jelas adalah karakter yang sangat menarik. Berbeda dari umumnya karakter pembunuh dalam film slasher, Cheng Lai mampu mengundang simpati penonton meskipun kekejamannnya sama sekali tidak termaafkan. Mungkin karena Dream Home mengajak penontonnya untuk terus berada di samping sang pembunuh di sepanjang film hingga kita memahami sudut pandangnya, dan terkadang ada di pihaknya. Sebagian besar dari kita jelas tidak akan pernah bisa memaklumi tindakan ekstrim yang dilakukan Cheng Lai, tapi cara film ini menghantarkan kisahnya membuat kita bisa memahami apa yang dirasakan oleh Cheng Lai, termasuk frustrasinya terhadap hidup yang tidak pernah terasa adil. Kedekatan kita dengan Cheng Lai juga dibangun lewat backstory yang melompat-lompat antara masa kecilnya di tahun 90-an, awal 2000-an, hingga masa sekarang di mana Cheng Lai telah menjadi seorang penjagal berdarah dingin. Dengan cara itu, penonton bisa menyusun berbagai potongan puzzle-nya sendiri hingga memahami latar belakang yang membuat Cheng Lai begitu terobsesi dan putus asa dengan mimpinya yang terasa semakin mustahil. Saya pikir keberhasilan kisah Dream Home tidak lepas dari aktris Josie Ho yang memerankan Cheng Lai dengan sangat brilian. Ia bisa menggambarkan bagaimana karakter Cheng Lai di satu sisi adalah seorang psikopat yang dingin dan sangat sadis, tapi di sisi lain agak sulit bagi penonton untuk membencinya. Mungkin beberapa penonton bahkan diam-diam menyemangatinya, atau merasa lega saat Cheng Lai tidak tertangkap, meskipun ia bukanlah pahlawan dalam film ini.

Komentar sosial yang paling kuat terasa dalam Dream Home adalah seputar ketimpangan ekonomi di Hong Kong. Penting untuk diketahui bahwa Hong Kong bukanlah sebuah negara, melainkan satu wilayah khusus bekas jajahan Inggris yang diserahkan pada kekuasaan negara Cina di tahun 1997. Lewat beberapa liputan aksi demonstrasi di TV dalam Dream Home, kita bisa memahami bagaimana masyarakat Hong Kong merasa kekuasaan Cina atas wilayah mereka sama sekali tidak melahirkan kualitas hidup yang layak bagi mayoritas masyarakat Hong Kong. Justru sebaliknya, jurang kesenjangan sosial semakin lebar, yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap terpuruk. Dalam flashback masa kecil Cheng Lai, kita bisa melihat bagaimana pemerintah justru berpihak pada pengembang real estate untuk mengusir keluarga-keluarga miskin dari rumah mereka sendiri dan menggantinya dengan gedung-gedung apartemen mewah yang hanya bisa dibeli oleh orang kaya. Secara tidak langsung, pemerintah ikut menelantarkan dan bahkan memelihara sikap permusuhan kelompok miskin pada kelas orang kaya yang tamak. Dalam konteks ini, pada dasarnya Dream Home seakan mencoba untuk mengilustrasikan tentang perjuangan seseorang kelas pekerja miskin yang menginginkan apa yang awalnya adalah milik mereka, dan Cheng Lai adalah perwujudan dari hal tersebut dengan contoh aksi yang paling ekstrim.
Sebagai sebuah film slasher, Dream Home memiliki kualitas gore dengan tingkat kebrutalannya yang tidak main-main. Meskipun sangat sadis, setiap adegan pembunuhan dalam Dream Home tetap dikemas secara artistik, kreatif, dan sengaja dibuat tampak berlebihan. Pembunuhan kreatif memang merupakan salah satu ciri dari film slasher klasik, termasuk menggunakan senjata yang berbeda-beda, kesadisan komikal yang berlebihan dan tidak realistis, dibumbui sedikit dark comedy. Namun, beberapa kekerasan dalam film ini bisa jadi dianggap melanggar batas tabu bagi sebagian penonton yang tidak terbiasa, terutama ketika Cheng Lai menyerang seorang ibu yang sedang mengandung secara brutal. Itu juga yang menjadi alasan kuat mengapa Dream Home berada dalam Category 3 di Hong Kong, yang memang didominasi oleh film-film pelanggar tabu lainnya seperti misalnya film Dumplings (2004) yang tak kalah kontroversial karena karakternya membuat pangsit dari janin manusia hasil aborsi. Jadi, Dream Home jelas bukan untuk semua orang. Tapi kalau penontonnya adalah orang yang bisa terhibur dengan adegan-adegan gore yang berlebihan, saya pikir mereka akan bisa menikmati film ini. Setidaknya, perpaduan antara satir sosial yang cukup serius dengan pembunuhan-pembunuhan sadis yang  komikal ini bekerja dengan sangat baik dalam Dream Home, menjadikannya sebuah film slasher yang cukup menonjol dan wajib ditonton oleh para penggemar slasher.

