MOVIE REVIEW: CUCKOO (2024)

CUCKOO

Sutradara: Tilman Singer

Jerman / USA (2024)
Review oleh Tremor

 

Enam tahun setelah merilis debutnya yang aneh dan cukup ambisius berjudul Luz (2018), penulis/sutradara kelahiran Jerman Tilman Singer kembali lewat karya horor yang berjudul Cuckoo. Meskipun strukturnya tidak seabsurd Luz, Cuckoo tetap merupakan film horor slow burn yang aneh dan eksentrik, dilengkapi dengan nuansa retro ala film-film horor 70-an Eropa terutama giallo supranatural Italia, namun dikemas secara modern. Cuckoo yang ditulis sekaligus disutradarai Tilman Singer ini adalah jenis film yang semakin sedikit calon penontonnya ketahui tentang plotnya, semakin baik, karena rasanya dengan cara seperti itulah keanehan film ini benar-benar bekerja. Yang pasti, jangan berekspektasi apapun sebelum menontonnya, dan buang jauh-jauh semua logika untuk dapat menikmati semua enigma dan keganjilan yang ditawarkan oleh Tilman Singer.

Seorang gadis Amerika bernama Gretchen baru saja kehilangan ibunya. Karena belum genap berusia 18 tahun, Gretchen yang masih dalam proses berduka terpaksa harus ikut dengan ayahnya, Luis, yang telah lama bercerai dengan ibunya. Kebetulan Luis akan menetap ke pegunungan Alpen, Jerman, bersama istri barunya, serta putri mereka yang bisu, untuk membantu seorang pemilik resort membangun sebuah hotel baru. Sesampainya di sana, pemilik hotel dan resort tersebut, pria eksentrik yang bernama Herr König, menawari Gretchen untuk mengisi waktu bekerja sebagai resepsionis di hotelnya. Gretchen segera menerima tawaran itu. Gretchen tidak suka dengan ayah serta keluarga barunya, dan ia membutuhkan uang untuk melarikan diri dari mereka. Namun baru beberapa malam saja Gretchen mulai bekerja, hal-hal aneh dan menyeramkan mulai menerornya.

Saya menonton Cuckoo tanpa tahu apapun tentang film ini sebelumnya, dan saya cukup menikmati bagaimana penulis/sutradara Tilman Singer melemparkan kejutan serta perubahan plot di titik di mana saya pikir saya mulai memahami alur ceritanya. Semakin durasi film ini berjalan, beberapa hal sempat membuat dahi saya berkerut, tidak yakin apakah saya memahami dengan benar atau memang seperti ini yang Tilman Singer tulis. Cuckoo memang film yang aneh dan pengalaman menontonnya tidak selalu mudah untuk dipahami layaknya cerita dalam dunia mimpi, tetapi perlu dicatat bahwa Cuckoo bukanlah film horor surealis. Premis dasarnya pun sebenarnya tidak rumit, bahkan cenderung straight-forward dengan semua penjelasannya sedikit demi sedikit terkuak hingga film ini berakhir. Namun tetap saja ada perasaan asing dengan semua pengungkapannya, termasuk pada konsep ganjil monsternya serta relasinya dengan antagonis utama film ini. Di sisi lain, berbagai keanehan dalam film ini mengingatkan saya pada film-film supranatural dan giallo Italia 70-80an yang seringkali terasa absurd dan penuh dengan kekacauan logika, yang rupanya memang menjadi inspirasi terbesar Tilman Singer ketika ia menulis Cuckoo. Jadi, kalau film semacam Phenomena (1985) karya Dario Argento boleh se-absurd itu, lalu mengapa tidak dengan Cuckoo? Lagipula sebagian besar efektivitas film Cuckoo juga berasal dari fakta bahwa kita sebagai penonton sama-sama kebingungan dan tidak memahami tentang apa yang terjadi, sama seperti yang dirasakan oleh karakter Gretchen.

Meskipun Cuckoo agak membingungkan di beberapa titik, tapi film ini cukup menghibur lewat sudut pandang barunya dan berhasil menjaga rasa penasaran saya tentang bagaimana kisah ini akan berakhir. Sayangnya, babak ketiga serta klimaks film ini justru terasa sangat lemah dan cenderung agak tergesa-gesa. Mungkin, tanpa disadari muncul ekspektasi dalam diri saya yang berharap Cuckoo akan diakhiri dengan semakin absurd dan gelap, yang sayangnya tidak terjadi. Tapi secara keseluruhan, Cuckoo adalah film yang dieksekusi dengan serius dan cukup baik, lengkap dengan gaya visual serta sinematografi yang menakjubkan, didukung oleh pemilihan lokasi pegunungan Alpen yang memang terlihat menawan. Kemampuan teknis Tilman Singer dalam mengarahkan adegan-adegan menegangkan juga perlu diacungi jempol, dengan adegan favorit saya adalah adegan kejar-kejaran sederhana ketika Gretchen mengayuh sepedanya di malam hari. Lalu ada juga sound design jenius yang memang berperan sangat penting terkait dengan premis film ini, pemilihan soundtrack yang menyenangkan, hingga penampilan aktris Hunter Schafer yang memerankan Gretchen dengan luar biasa. Dengan sangat baik ia mampu menggambarkan karakter rumit Gretchen yang penuh dengan luka emosional dan fisik, sangat rentan, kesepian, penuh kesedihan, hingga menjadi seorang final girl tanpa terasa dipaksakan. Cuckoo jelas bukanlah film horor terbaik, dan bukan jenis film yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Tapi bagaimanapun juga premis film yang di luar nalar ini adalah sebuah karya yang original dan unik, yang bisa saya rekomendasikan pada mereka yang menyukai film horor aneh.