
BRING HER BACK
Sutradara: Danny Philippou & Michael Philippou
Australia (2025)
Review oleh Tremor
Setelah kesuksesan luar biasa lewat debut Talk With Me (2022), sineas kembar asal Australia Danny dan Michael Philippou kembali dengan film horor yang bisa dibilang lebih ambisius, gelap, sekaligus melankolis, berjudul Bring Her Back. Film ini ditulis oleh Danny Philippou dan Bill Hinzman yang sebelumnya juga terlibat dalam penulisan Talk With Me. Sama seperti apa yang mereka lakukan dalam Talk With Me, Bring Her Back juga menggali tema seputar duka dan kehilangan, namun dengan cara yang jauh lebih dalam, suram, sekaligus menyentuh, dibalut dengan sentuhan supranatural dan berhasil menjadi sangat mengerikan tanpa formula jump-scare. Lewat film keduanya ini, si kembar Philippou semakin memperlihatkan kemampuan mereka yang tidak main-main dalam membuat film horor, menjadikannya sebagai salah satu contoh film horor modern yang sangat efektif.

Bring Her Back berfokus pada dua saudara tiri: seorang remaja bernama Andy dan adik tirinya Piper yang buta. Mereka berdua mendadak menjadi yatim piatu setelah ayah mereka meninggal di kamar mandi. Karena Andy belum cukup umur untuk bisa mendapatkan hak wali secara legal atas adik tirinya, untuk sementara mereka berdua harus masuk dalam sistem pengasuhan anak. Pihak dinas sosial yang mengurus nasib mereka menemukan seorang ibu bernama Laura yang ingin mengasuh Piper karena Laura cukup berpengalaman mengasuh anak buta. Laura sendiri pernah kehilangan anak perempuannya yang juga tunanetra. Namun Andy dan Piper bersikeras bahwa mereka berdua tidak boleh dipisahkan. Akhirnya Laura sepakat untuk mengasuh mereka berdua selama beberapa bulan sampai Andy menginjak umur 18 tahun dan memenuhi syarat untuk mengajukan permohonan hak wali atas adik tirinya. Di rumah Laura, Andy dan Piper diperkenalkan dengan anak angkat Laura lain, seorang anak laki-laki misterius bernama Oliver yang mendadak bisu sejak kematian saudara perempuannya. Tanpa Andy dan Piper sadari, mereka dilibatkan dalam sebuah rencana yang sangat jahat, dan harus segera berhadapan dengan kengerian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Plot pembuka seperti itu tentu saja terdengar familiar dan merupakan pola pembuka yang umum namun sempurna untuk sebuah cerita horor. Belum lagi dengan tema dasar Bring Her Back yang tak kalah familiarnya seperti trauma, rasa bersalah masa lalu, hingga tema tentang duka, yang merupakan tema-tema yang mudah ditemui dalam banyak film horor modern. Namun cara penulisan serta arahan yang dilakukan oleh Philippou bersaudara benar-benar membuat film ini terasa sangat menyegarkan dan berbeda. Bring Her Back menawarkan pengalaman menonton film horor yang cukup intens, dilengkapi dengan beberapa adegan body horror yang mengejutkan, yang dalam beberapa adegan bahkan bisa saja membuat para penonton ikut merasakan sakitnya. Tidak seperti adegan gore absurd berlebihan yang lebih menonjolkan rasa fun dalam film-film semacam Terrifier, adegan berdarah dalam Bring Her Back dihadirkan dengan cara yang terasa lebih nyata dan meresahkan. Beberapa adegan bisa jadi cukup brutal dan akan sulit dilupakan oleh penonton, terutama sekali sebuah adegan spesifik yang berkaitan dengan Oliver dan sebilah pisau dapur. Satu aspek yang membuat kengerian berdarah dalam Bring Her Back bisa begitu berhasil dan efektif adalah tim special makeup effect serta tim produksi yang melakukan pekerjaan dengan luar biasa dalam menciptakan adegan kekerasan yang tampak begitu nyata. Sama seperti debut Philippou, Talk To Me, dalam Bring Her Back mereka juga kembali menambahkan bumbu elemen supranatural, yang dalam hal ini berkaitan dengan okultisme, entitas supranatural, dan kerasukan. Elemen-elemen dari mulai rekaman-rekaman video berbahasa Rusia berisikan imaji-imaji ritual sekte yang ditonton oleh Laura, hingga makeup pada wajah dan tubuh Oliver ketika fisiknya mulai berangsur berubah, tentu menambah lapisan kengerian Bring Her Back. Namun elemen horor yang paling dominan dalam film ini datang dari unsur yang sangat manusiawi dan realistis, yaitu dari karakter Laura sebagai seorang ibu yang tidak mampu berdamai dengan dukanya dan akan melakukan apapun untuk bisa berjumpa kembali dengan putrinya yang telah tiada.

Meskipun banyak menyelami tema dan ide mengerikan, Bring Her Back tetap berhasil mempertahankan fokus cerita pada dua saudara tiri Andy dan Piper, serta ancaman nyata yang datang dari Laura. Di sinilah kekuatan Danny Philippou dan Bill Hinzman sebagai penulis teruji, di mana mereka bukan hanya menjual ketegangan dan kengerian belaka, tetapi juga ingin memastikan penonton bisa  benar-benar terkoneksi dengan para karakternya. Penonton akan dengan mudah merasa peduli dengan nasib Andy dan Piper dalam setiap situasi mengerikan yang mereka hadapi secara fisik maupun psikologis. Di sisi lain, penonton juga bisa memahami rasa sakit yang dirasakan oleh Laura dan mengapa ia melakukan semua yang ia lakukan tanpa perlu membenarkannya. Namun semua penulisan karakter yang kompleks akan menjadi percuma kalau tidak didukung dengan kemampuan akting yang sepadan dari para aktornya, dan menurut saya inilah salah satu aspek lain yang membuat Bring Her Back terasa begitu efektif dan layak dipuji. Semua aktor yang memerankan karakter utama dalam Bring Her Back bekerja dengan luar biasa. Penampilan paling fantastis datang dari aktris Sally Hawkins yang memerankan karakter antagonis yang cukup kompleks, Laura, dengan sangat meyakinkan dan emosional. Laura jelas merupakan karakter jahat yang hanya memiliki satu tujuan: berjumpa kembali dengan anak perempuannya. Namun sekeji apapun Laura, penonton seakan terus diingatkan bahwa ia tetaplah seorang ibu yang tak sanggup kehilangan orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Kemampuan akting Hawkins berhasil mengaburkan batasan antara kengerian dan simpati terhadap Laura ketika film ini berakhir. Para aktor cilik dalam Bring Her back juga tak kalah hebatnya, diantaranya Jonah Wren Phillips yang memerankan Oliver. Meskipun karakter Oliver nyaris tidak memiliki dialog di sepanjang film, tapi aktor cilik ini berhasil membawakan peran yang terasa begitu meresahkan sejak film dimulai, bahkan sebelum perilakunya semakin aneh dan wujudnya mulai berubah bagaikan iblis. Namun yang paling mencengangkan adalah Sora Wong yang berperan sebagai Piper, karena pada dasarnya Wong tidak memiliki latar belakang akting sama sekali. Sora Wong hanyalah seorang gadis biasa yang kebetulan memang tunanetra. Awalnya, Philippou bersaudara mengadakan audisi casting untuk aktris-aktris tunanetra. Ibu Wong yang mendengar kabar tentang casting tersebut segera mendorong anaknya untuk mengikuti audisi, dan pada akhirnya Sora Wong terpilih untuk memerankan Piper. Untuk seorang anak yang tidak memiliki latar belakang akting sama sekali, kemampuan peran Wong dalam Bring Her Back jelas sangat luar biasa.
Tentu saja ada beberapa plot hole dalam Bring Her Back. Namun di sisi lain ada terlalu banyak aspek yang bagus dalam film ini, hingga saya tidak memperdulikan lagi beberapa kekurangan minor dalam plotnya. Ending film Bring Her Back mungkin bisa memecah para penonton menjadi dua kelompok, antara mereka yang suka dan tidak suka. Awalnya saya pribadi juga merasa ending film ini seperti terlalu lembut, emosional dan melankolis untuk sebuah film yang suram dan brutal. Namun setelah membaca trivia dalam IMDb, saya bisa sepenuhnya menerima ending Bring Her Back tersebut. Awalnya, Philipous telah merencanakan sebuah ending yang jauh lebih gelap. Namun rencana tersebut segera diubah setelah salah satu sahabat Philipous meninggal dunia secara mendadak di tengah proses produksi Bring Her Back. Untuk menghormati sahabat mereka, ending Bring Her Back diubah menjadi sedikit lebih lembut dan emosional, karena film ini pada akhirnya didedikasikan untuk sahabatnya tersebut. Secara keseluruhan, Bring Her Back adalah film horor yang efektif dan dieksekusi dengan baik, diperkuat juga dengan atmosfer, sound design, serta sinematografi yang juga tak kalah bagus. Bagi saya, Bring Her Back jelas masuk dalam lima besar film horor terbaik di tahun 2025 sejauh ini. Baru ada dua film saja dalam filmografi si kembar Philippou, dan kedua film tersebut terbukti sama bagusnya. Tentu saja ini semakin mengukuhkan bahwa mereka adalah sineas horor yang patut untuk diperhitungkan dan sangat saya tunggu karya-karya horor berikutnya.

