TEITANBLOOD ‘From the Visceral Abyss’ ALBUM REVIEW
Norma Evangelium Diaboli, March 28th, 2025
Death/Black Metal

Meskipun udah mantengin sekaligus jadi penganut kultus TEITANBLOOD semenjak era kompilasi ‘Black Putrescence of Evil’ (2009) dan album pertama ‘Seven Chalices’ (2009). Tapi, LP ketiga ‘The Baneful Choir’ (2019) tak berhasil menancapkan taringnya di telinga gua, gaungnya terasa seperti bayangan pekat tanpa wujud, mungkin karena alurnya yang terlalu berlarut-larut dalam mengonstruksi atmosfir di bagian awal dan pertengahan, atau produksi yang kelewat claustrophobic, bahkan jika dibandingkan dengan ‘Death’ (2014) maupun ‘Accursed Skin’ (2016) sekalipun. Di luar “Leprous Fire†dan “Sunken Starsâ€, materi lainnya pun terkesan kurang daya tebas, menyisakan kekacauan yang lebih membingungkan ketimbang menyayat. Setelah kurang lebih enam tahun hening, akhirnya TEITANBLOOD kembali merangkak dari neraka jahanam dengan ritus teranyar mereka, ‘From the Visceral Abyss’, yang tentunya menjanjikan gempuran sonik tanpa kompromi bagi para pemuja chaos, apalagi untuk pertama kalinya sejak album pertama, di sela-sela perilisan album unit death/black asal Madrid ini tak mempersembahkan EP sama sekali.

Dalam ‘From the Visceral Abyss’, TEITANBLOOD tentunya masih mengabdikan diri pada kekacauan, dimana mereka meratakan dengan tanah batas-batas death metal dan black metal dalam dalam pusaran terror penuh kebisingan dan kehancuran, walau memang agak lebih terkontrol dengan produksi yang lebih on point dari biasanya, karena tiap-tiap dentuman drum, cabikan bass, raungan gitar liar hingga segala jeritan dan teriakan NSK, kali ini lebih presisi mengoyak gendang telinga. Album ini dibuka dengan tanpa basa-basi, karena hanya membutuhkan 40 detik sebelum akhirnya disamber dengan opening riff lalu ketukan drum ala death/thrash hingga solo gitar keji, yang langsung bikin pengen melontarkan “OUGH†secara spontan pas pertama kali denger, durasinya pun cuma 6 menit, sangat pas sebagai opening salvo, agar tak berlarut-larut. “Sepulchral Carrion God” juga tak kalah bajingan, dimana TEITANBLOOD secara akurat melambatkan agresi dibeberapa section dalam lagu, yang justru membuat alur rangkaian berserta dinamika tiga serangan awal benar-benar beracun, karena lagu tersebut langsung dilanjutkan dengan title-track yang intens dan jauh lebih gelap dan blackened dari dua nomor sebelumnya.
“Sevenhundreddogsfromhell†adalah sebuah intermisi taktis yang memberikan sedikit momen sunyi untuk para pendengar sebelum jiwa dan raganya diluluhlantakkan lagi, “Strangling Visions†punya nuansa OSDM yang kental dengan permainan gitar lead yang menghadirkan melodi kelam nan jahat, ending trek tersebut langsung nyambung ke nomor berikutnya, “And Darkness was Allâ€, punya aroma tengik punk lumayan menonjol, layaknya sebuah homage pada leluhur thrash, speed metal dan first wave black metal, yang dulu memang banyak dipengaruhi musik punk. Sebagai sakramen terakhir, TEITANBLOOD memuntahkan ‘Tomb Corpse Haruspex’, sebuah monolith black/death berdurasi lima belas menit, yang perlahan menenggelamkan pendengar dalam kegelapan yang kekal. Pasca ‘The Baneful Choir’ sebenernya gua agak ragu-ragu dan menjurus ke skeptis pada ‘From the Visceral Abyss’, malah pas denger beberapa kali sekilas, masih adalah citra negatif dari full-length sebelumnya, yang akhirnya bikin belum bisa menyelam secara total. Baru setelah jeda 3 bulan lebih gua mencoba untuk menelaah lagi tanpa ada  prasangka atau asumsi negatif, barulah ‘From the Visceral Abyss’ benar-benar mencengkram batin, dan langsung naik jadi album TEITANBLOOD paling bangke nomor dua versi pribadi, cuma kalah dari ‘Seven Chalices’. ONLY DEATH IS REAL…. ETERNAL HAILS!!! (Peanhead)
9.5 out of 10