MOUNTAIN REALM ‘Stoneharrow’ ALBUM REVIEW
Cryo Crypt. August 11th, 2025
Dungeon Synth

Pada musim penghujan yang dingin di penghujung tahun 2023, out of nowhere Simon Heath, otak di balik ATRIUM CARCERI sekaligus sosok di belakang record label spesialis dark ambient, Cryo Chamber, merilis debut album dari proyek dungeon synth barunya, MOUNTAIN REALM, berjudul ‘Grayshadow Ruins’, lengkap dengan lore book setebal lebih dari 100 halaman. Sebenarnya gua bukan termasuk orang yang ngulik dark ambient ataupun dungeon synth secara mendalam, karena sejak pertama kali kecantol aliran ini gara-gara MORTIIS, plus dua LP BURZUM era lagi nginep di hotel prodeo (‘Dauði Baldrs’ dan ‘Hliðskjálf’), paling cuma sekedar jadi penikmat rilisan atau proyek yang masih bersinggungan dengan grup-grup yang memang gua pribadi pantengin doang.
Waktu mendengarkan ‘Grayshadow Ruins’ pertama kalinya, full-length yang berdurasi 33 menit ini mampu untuk langsung membius gua dari lagu pertama. Secara keseluruhan, album-nya berhasil bikin gua kembali ke masa-masa bocah, jaman masih kerajinan main game PC di device kentang pertengahan 2000-an dulu, yang cuma kuat jalanin game 90-an atau awal 2000-an. Karena dalam debutnya, MOUNTAIN REALM berhasil memantik sensasi lagi menjelajahi dungeon yang menjuntai, dan dipenuhi undead, orc, goblin, dan makhluk jadi-jadian lainnya.
Setelah melepaskan debut, Simon Heath nggak ngasih jeda sama sekali dan langsung gas poll, pasalnya sejak 2023, MOUNTAIN REALM via Cryo Crypt udah merilis empat album non-stop, dan tahun ini dia tak hanya menyajikan ‘Rustborn’ pada bulan April, Agustus kemarin, ia juga dengan gercep menghadirkan album penuh kelima, ‘Stoneharrow’. Apabila dalam LP sebelumnya petualangan dimulai dari sebuah tavern yang hangat, sebelum menelusuri reruntuhan peradaban kuno yang terkubur di tundra membekukan, di ‘Stoneharrow’, sejak lagu pertama “A Broken Man Stands Tallâ€, Simon Heath langsung menekankan nuansa yang lebih misterius, dengan atmosfir gelap tetap terjaga dari awal hingga akhir album. Ceritanya sendiri mengisahkan seorang pria tua yang diliputi kehilangan, amarah, dan dendam, yang hidup penu kesendirian dalam reruntuhan desa diselimuti kabut, pas banget sih buat jadi musik pengiring quest game Tabletop RPG/CRPG/Soulslike yang bakalan gak ada happy ending ujungnya.
Kalau dibandingkan dengan ‘Grayshadow Ruins’ sih, kayaknya Simon Heath ,asih belum berhasil mencapai ke level tersebut lagi deh, tapi yang penting ‘Stoneharrow’ (dan juga ‘Rustborn’) sudah jauh lebih baik dari dua album MOUNTAIN REALM dari tahun 2024 kemarin, ‘Frostfall’ dan ‘Shadowlorn’, yang tak berhasil menggugah gua sama sekali pas didengerin. ‘Stoneharrow’ sepanjang 41 menit berhasil memantik pikiran gua untuk berandai-andai sedang menjalankan questline penuh layer, seraya mengupas tabir kisah kelam sosok tua di desa berkabut itu, sampai akhirnya mencapai resolusi yang ternyata pahit dan nggak memberi resolusi apa pun. Semuanya dikemas kedalam sebelas komposisi variatif dengan melodi-melodi kuat dan atmosfer suram pekat yang dapet banget, dan entah kenapa saat dengerin tiga lagu terakhirn, kok vibe-nya bikin rada teringat lagi momen menikmati ambience berserta pemandangan Majula bareng Emerald Herald, setelah tertatih-tatih menyusuri The Gutter dan Black Gulch di Dark Souls 2. Meskipun gua gak terlalu sering denger dungeon synth, ‘Stoneharrow’ (bersama ‘Rustborn’ tentunya), mampu menembus masuk daftar top 5 album dungeon synth terfavorit gua tahun ini, hanya belum bisa menggeser ‘The Escapist’ dari OLD SORCERY, ‘Obscure Power’ dari QUEST MASTER, dan ‘Dark Age Decadence’ dari DIM saja (yang terakhir udah terjerumus ke black metal juga sih). (Peanhead)
8.4 out of 10