ALBUM REVIEW: CAUSTIC WOUND – GRINDING MECHANISM OF TORMENT

CAUSTIC WOUND ‘Grinding Mechanism of Torment’ ALBUM REVIEW
Profound Lore Records. April 25th, 2025

Grindcore/Death metal

Lima tahun lalu CAUSTIC WOUND memuntahkan ‘Death Posture’, debut yang cukup sinting, dan mampu mengeskalasi segala kebiadaban dari ‘Grinding Terror’ Demo (2018). Alhasil, lewat kebarbaran ‘Death Posture’, yang dengan tanpa ampun dijamin bakal meluluhlantakkan gendang telinga mereka yang kuat iman untuk mendengarkan, pantas lah, debut CAUSTIC WOUND tersebut banyak bertengger di daftar album terbaik akhir tahun 2010. Namun, selepas melontarkan LP perdananya, CAUSTIC WOUND malah tak begitu banyak kelihatan. Tak ada materi baru yang digelontorkan untuk pendengar, ditambah jadwal manggung mereka dari 2020–2024 pun sangat terbatas, cuma belasan gig saja sepanjang setengah dekade kalo dilihat di setlist.fm. Wajar sih, mengingat CAUSTIC WOUND ini jatohnya merupakan side-project tiga personil MORTIFERUM (Max Bowman, Chase Slaker, dan Tony Wolfe), bersama drummer MAGRUDERGRIND, Casey Moore, dan turut dibantu pula vokalist Clyle Lindstrom (CORPUS OFFAL/ex-CEREBRAL ROT).

Setelah lima tahun lamanya menunggu, CAUSTIC WOUND akhirnya kembali dan melepaskan full-length kedua mereka, ‘Grinding Mechanism of Torment’, awal tahun ini (masih) via Profound Lore Records. Begitu memutar LP nomor dua dari CAUSTIC WOUND ini, hal pertama yang gua ngeh adalah produksinya terasa jauh lebih kinclong dan rapih apabila dibandingkan dengan album pertama. Memang masih tetap mentah dan ugal-ugalan secara overall, tapi sekarang setiap instrumennya jadi lebih terdengar jelas. Dari segi materi sih jangan ditanya, band asal Seattle ini masih tetap setia berkutat di ranah grindcore yang terkontaminasi death metal sekolah lama, jadi buat para penggila IMPALED, ROTTEN SOUND, EXHUMED, TERRORIZER, hingga cavernous death metal ala INCANTATION, bakal dipastikan (semakin) kecantol sama ‘Grinding Mechanism of Torment’. Enam belas lagu di LP baru ini tentunya terasa seperti serangan beruntun tanpa memberikan ruang untuk ngambil nafas, yang secara presisi menghantam pendengar secara bertubi-tubi, nyaris tanpa basa-basi, dari track pertama hingga lagu pamungkas.

Tapi eitss… Tenang!, CAUSTIC WOUND gak sekadar grinding kebut-kebutan melulu saja, mereka juga paham caranya mengatur dinamika, band ini banyak menyelipkan riff-riff OSDM gurih di hampir seluruh sudut album, tengok saja nomor-nomor seperti “Blood Battery”, “Blackout”, dan “Infinite Onslaught”, selain itu mereka pun juga sadar kalau momen melambatkan agresi itu sangat penting dan efektif untuk menjaga atensi pendengar, layaknya dalam “Drone Terror”, “Technologist Hell Future”, dan “The Bleed Rail”, meskipun pada ujung-ujungnya lanjut nge-gas lagi. Sayangnya lagi-lagi album baru CAUSTIC WOUND ini, agak bikin sedikit keblinger dari segi durasi, menurut gua album dengan intensitas luar biasa gila kayak ‘Grinding Mechanism of Torment’ (dan juga ‘Death Posture’) bakalan lebih pas kalau durasinya dipatok di bawah 24 menit, biar daya penghancurnya tetap terasa maksimal dan bikin nagih meksi diputar ulang berkali-kali kali. Walaupun runtime-nya agak kepanjangan buat selerapribadi dan produksinya rada kurang raw di kuping gua, ‘Grinding Mechanism of Torment’ tetap jadi salah satu album extreme metal paling galak tahun ini, dan jelas wajib hukumnya untuk didengarkan buat para penggila deathgrind garis keras. (Peanhead)

8.7 out of 10