BIG|BRAVE ‘A Chaos of flowers’ ALBUM REVIEW
Thrill Jockey. April 19th, 2024
Post-metal/Experimental metal

Sejak dibentuk lebih dari satu dekade lalu, BIG|BRAVE telah menjadi salah satu band paling diperhitungkan dalam kancah musik post-metal/experimental metal. Selain itu, sejak tahun 2012, mereka tergolong sangat prolifik, karena sejauh ini telah melepaskan sembilan buah album penuh, plus debut EP dan sebuah album kolaborasi bareng THE BODY. Gua sendiri meskipun sering ngeliat namanya berseliweran tiap ada daftar album rekomendasi atau end of the year list, kurang begitu familiar dengan diskografi trio asal Kanada ini, paling sempat secara sekilas saja dengerin album-album era Southern Lord Records, itu pun gak ada yang berhasil benar-benar nyangkut di kepala, mungkin karena tiap lagi dengerin, momen-nya selalu kurang tepat, ditambah musik yang dibawakan oleh BIG|BRAVE termasuk terlalu out-there, alias nyeleneh di kuping gua, kalo dibanding band-band post-metal yang gua biasa puter kayak NEUROSIS, CULT OF LUNA, RUSSIAN CIRCLES, JESU ataupun SUMAC sekalipun.

Tahun lalu BIG|BRAVE melepaskan album penuh kedelapan ‘A Chaos of Flowers’, sebuah rilisan yang lebih banyak diperbincangkan dari LP mereka lain, skor resensi dari media mainstream ataupun sidestream juga sangat memuaskan, dan tentunya pas tahun mau berganti, ‘A Chaos of Flowers’, hampir selalu masuk di deretan album terbaik. Album ini dibuka dengan “i felt a funeralâ€, yang punya aroma slow western kental ala EARTH yang lambat dan metodis, yang mampu menghipnotis ogut sejak menit pertama, melodi-melodi yang dinyanyikan oleh Robin Wattie pun bikin nyandu banget, kalo dengerin sambil memejamkan mata rasanya kayak lagi berkuda melintasi lautan pasir bromo sambil dikelilingi sepi. Lanjut ke trek kedua, “not speaking of the waysâ€, merupakan sebuah dekonstruksi lagu doom metal, dengan tekstur gitar super kasar yang terdengar seperti ditodong dari ampli udah jebol, diiringi ketukan perkusi ritualistik dan lantunan vokal membius.
Eksplorasi Robin Wattie, Mathieu Ball, dan Tasy Hudson dalam album ini memang gak main-main sih. “chanson pour mon ombre†kayak abstrakt gimana gitu, seolah BIG|BRAVE merangkai fragmen-fragmen bunyi tanpa ada wujud kasat mata, antara vokal, petikan gitar akustik, drum, hingga gitar elektrik, seperti sengaja dibenturkan antara satu dengan sama lain. Sedangkan “canon : in canon†entah kenapa bikin kayak deja vu kepada ULVER, karena terasa layaknya ‘Shadow of the Sun’ digodok bareng ‘Teachings in Silence’ (dari segi vibe), yang reflektif sekaligus meditatif. Meskipun lagu-lagunya bertempo lambat, dengan lantunan vokal yang masih mudah dicerna, dan tanpa ada momen yang benar-benar heavy kayak album sludge, death/doom, ataupun funeral doom tulen pada umumnya, ‘A Chaos of Flowers’ tetap terdengar intens, baru kelar track keempat pun, gua udah cukup kelojotan, untungnya ada sedikit momen untuk rehat dalam bentuk lagu ambient, “A Song for Marie, part iiiâ€, yang sekaligus jadi transisi halus sekaligus build-up ke lagu berikutnya.
Dalam “theft†yang super lambat, BIG|BRAVE mengembalikan lagi nuansa penuh kesepian ditengah-tengah belantara alam dari lagu pembuka, bedanya country twang dari track pertama jadi lebih samar, tapi tetep sih, aura-nya masih bikin teringat sama soundtrack film karya Jim Jarmusch, “Dead Manâ€, yang score-nya ditulis oleh Neil Young. Setelah dibelai dengan 3 lagu yang cenderung easy-listening dan atmosferik, kuping pendengar langsung digilas dengan nomor drone doom otentik, “quotidian : solemnityâ€, yang tak kalah abrasif dengan BORIS, SUNN O))), atau KHANATE, dengan tekstur gitar kasar yang bisa bikin tiba-tiba melek, namun dianyam dengan nanyian yang terdengar seperti memanggil dari balik kabut pekat. Lagu finale  “moonset†mengakhiri album ini dengan impresif, lewat komposisi nge-folk yang berbalur doom metal monolitik pada bagian penghujung.
‘A Chaos of Flowers’ jelas merupakan sebuah album yang sangat impresif dari awal hingga akhir, gak ada satu nomor pun yang gua skip setiap dengerin albumnya, karena memang full-length kedelapan BIG|BRAVE ini luar biasa beragam dan idiosinkratik tiap-tiap lagunya, ditambah lagi songwriting-nya onpoint parah, dan mampu untuk langsung nyangkut di kepala secara instan. Jadi buat mereka yang kurang familiar dengan diskografi BIG|BRAVE pun, bisa langsung kepincut tanpa pake lama, dan bagi yang belum pernah dengerin grup ini sama sekali, ‘A Chaos of Flowers’, bersama ‘nature morte’ dan album collab bareng THE BODY (‘Leaving None But Small Birds’), bakalan cocok banget untuk jadi rilisan-rilisan perkenalan efektif dibandingkan album terbaru ‘OST’ (2025), yang kelewat avant-garde. Satu-satunya nilai minus dari gua paling dari sisi durasi, yang kayak masih kurang panjang aja sih secara keseluruhan, alias ending-nya jadi agak anti-climatic aja. (Peanhead)
9.7 out of 10