ARCH ENEMY ‘Blood Dynasty’ ALBUM REVIEW
Century Media Records. March 28th, 2025
Melodic death metal

Meskipun ARCH ENEMY merupakan salah satu band melodic death metal favorit gua sejak dulu, sayangnya dua album terakhir, buat gua pribadi justru terasa kurang berkesan. Baik ‘Will To Power’ maupun ‘Deceivers’ bisa dibilang tidak terlalu nampol dan terlalu banyak materi pengganjal durasi yang seharusnya bisa dipangkas. Keputusan Angela Gossow buat mundur dari kursi vokalis lalu pindah fokus ke manajemen menurut gua bukan masalah besar, soalnya ARCH ENEMY langsung merekrut Alissa White-Gluz, dan langkah tersebut sangat tepat, karena dia udah dikenal banget berkat range vokal gila sekaligus brutal ketika masih jadi pentolan THE AGONIST, dimana ‘Lullabies for the Dormant Mind’ sampai sekarang pun masih jadi salah satu album metalcore terbaik era 2000-an. Album pertama dengan Alissa White-Gluz, ‘War Eternal’, terdengar garang sekaligus penuh energi segar, dan momentum tersebut dilanjutkan dengan live album fenomenal ‘As the Stages Burn!’. Cuma masalahnya, dua album penuh berikutnya kurang berhasil dari segi daya gedor. Walaupun begitu, ketika Century Media Records mengumumkan perihal kedatangan album kedua belas ARCH ENEMY, gua masih antusias, karena kali aja mereka berhasil mengikuti jejak IN FLAMES (‘Foregone’) dan THE HALO EFFECT yang sukses meracik melodeath komersil tanpa terdengar boring.

Lagu pertama dari album yang bertajuk ‘Blood Dynasty’ ini sebenarnya sangat menjanjikan, “Dream Stealer” benar-benar bertenaga, dengan riff sadis gak main-main, Joey Concepcion jelas merupakan pilihan tepat sebagai pengganti Jeff Loomis, karena doi memang gitaris melodic death metal garis keras, tengok aja karya solonya dan kerjaanya di THE ABSENCE. Tapi antusiasme gua buyar gara-gara tiga lagu berikutnya (“Illuminate the Path”, “March of the Miscreants”, dan “A Million Suns) generik dan medioker banget, gak ada satu pun yang nyangkut di kepala, yang membuat gua sebenernya males untuk ngelanjutin denger. Untungnya tak seperti dua LP sebelumnya, setelah masuk trek kelima sampai habis, ARCH ENEMY berhasil menyajikan kumpulan materi terbaik mereka sejak ‘War Eternal’, diawali dengan “Don’t Look Down†yang cukup galak dan sarat nuansa thrash, kemudian dilanjutkan dengan title track yang catchy parah dan punya section guitar solo melodius yang menusuk (tapi ya, terlalu singkat banget).
Dalam “Paper Tiger†ARCH ENEMY justru lebih terdengar kaya band heavy/power metal macam UNLEASH THE ARCHERS, meski masih pake death growl galak, clean vocal Alissa White-Gluz baru benar-benar keluar di lagu “Vivre Libreâ€, sebuah cover band heavy metal asal Paris, BLASPHEME, yang diambil dari album ‘Désir de vampyr’ (1985). Di sisa dua lagu terakhir ARCH ENEMY secara tak terduga tetap konsisten jaga kualitas sejak trek kelima. “The Pendulum†lagi-lagi kental aroma power metal (bahkan kelewat), sedangkan “Liars & Thieves†menutup album ini dengan klimaks penuh dalam high note, lewat komposisi speed/thrash beroktan tinggi yang punya kans besar bikin moshpit terbakar, plus chorus super anthemic banget. Awalnya gua rada skeptis sama ‘Blood Dynasty’, apalagi lagu kedua sampai keempat terdengar agak so-so banget, malah dua bonus track bareng Jeff Loomis (“Break the Spell†dan “Mothsâ€) kayaknya lebih cocok dimasukin ke tracklist utama. Tapi secara overall, ‘Blood Dynasty’ jelas jadi album terbaik kedua ARCH ENEMY di era Alissa White-Gluz, karena separuh belakang (back half) album ini lumayan beracun. (Peanhead)
7.5 out of 10