ALBUM REVIEW: ALLEGAEON – THE OSSUARY LENS

ALLEGAEON ‘The Ossuary Lens’ Album Review

Metal Blade Records. April 4th 2025

Technical death metal/Melodic death metal

2025 menjadi tahun yang gua rasa sangatlah pas buat ALLEGAEON, band paling rajin dan getol di kancah technical death metal, untuk merilis album terbaru mereka, yang seperti biasa emang dateng 2 atau 3 tahun sekali. Bertajuk ‘The Ossuary Lens’, album studio ketujuh dari band asal Fort Collins, Colorado ini hadir dua tahun setelah ‘Damnum’ yang menuai banyak pujian, sekaligus menandai babak baru dalam evolusi ALLEGAEON. Walaupun baru dibentuk tahun 2008, diskografi ALLEGAEON sudah sangat berbobot, dan sejauh ini belum ada rilisan yang bisa dibilang flop, meski gua sendiri baru bener-bener kepincut dengan mereka berkat, ‘Elements of the Infinite’, yang menjadi debut rhythm guitarist  Michael Stancel, dimana duet mautnya bersama lead guitarist sekaligus founder, Greg Burgess, berhasil jadi motor penggerak utama tiap-tiap materi pasca album tersebut. ‘Damnum’ sendiri meskipun dapet respon positif dari kritikus dan fans, kurang begitu berhasil masuk di kuping gua, komposisinya terlalu bertele-tele dan kurang jelas arahnya mau kemana, belum lagi penggunaan clean vocal-nya agak terlalu berlebihan, mungkin biar lebih aksesible, tapi eksekusinya masih kurang dapet.

‘The Ossuary Lens’ punya nuansa sedikt nostalgic bagi gua pribadi, karena album ini menandakan kembalinya vokalis Ezra Haynes, menggantikan Riley McShane yang memutuskan untuk mundur pertengahan tahun 2022. Materi yang dihadirkan dalam album ini pun sedikit throwback ke era awal ALLEGAEON, dengan mayoritas materi yang dipersembahkan jauh lebih to the point dari LP sebelumnya. “Chaos Theory” membuka album ini dengan begitu mantap, racikannya super agresif tanpa basa-basi dan sangat memorable. Penggunaan clean vocal juga tak begitu saja ditinggalkan (meski dalam porsi minim), namun pengaplikasiannya dijamin lebih pas di album ini, seperti lagu kedua “Driftwood” misalnya, terdengar lebih menyatu, dengan pengambilan nada-nada dan harmonisasi terinspirasi band-band semacam BORNKAGAR, VINTERSORG, IOTUNN, dll. Trek ketiga “Dies Irae” punya aura lebih gelap, karena turut menyuntikkan pengaruh dari blackened death metal, teknik olah vokal Ezra Haynes pun mampu menyesuaikan dengan aransemen lagu tersebut, yang bikin lagunya semakin biadab. Nomor kelima, “The Swarm”, menjadi track dimana ALLEGAEON memamerkan musikalitas mereka, yang jelas memang tak kalah gebleg sama ARCHSPIRE, walaupun begitu lagunnya terkesan agak sedikit biasa aja kalau dibandingkan delapan lagu lainnya, buat unjuk skill sih oke, tapi dari segi mudah melekat di kepala agak kurang. Menurut gua transisi dari “Dies Irae” bakalan lebih ngena, misal langsung ke “Carried by Delusion”, karena setelah telinga dibabat dengan 3 nomor padat dan rapat, pas banget dilanjutkan dengan komposisi techdeath yang lebih melodius layaknya lagu tersebut, belum lagi instrumental section-nya luar biasa glorious, gak kalah deh sama NE OBLIVISCARIS.

Salah satu lagi musikalitas level atas ALLEGAEON tepampang jelas dalam “Dark Matter Dynamics” dan “Imperial”, yang mengintegrasikan unsur-unsur flamenco ke dalam formula melodic tech death mereka dengan nyaris tanpa cacat, ya perpaduan tersebut memang bukanlah lagi hal yang baru, tapi gua jamin eksekusi mereka memang berengsek lurd!!.  Dalam “Wake Circling Above” grup ini kembali lagi mencari panutan ke utara benua Eropa, lewat  komposisi epic terkontaminasi nordic progressive black metal, yang sebenarnya sudah pas banget untuk jadi trek pamungkas album, namun sepertinya ALLEGAEON masih belum puas, karena mereka masih menghadirkan satu buah lagu lagi, “Scythe”, yang kayaknya lebih cocok dipertengahan album, untuk menggantikan posisi  “The Swarm”, karena dari segi flow pas banget disitu. Kalau pas dulu dengerin ‘Damnum’, gua udah nyerah di menit 30-an, dan mulai males gara-gara “Called Home” yang plek ketiplek OPETH + SCAR SYMMETRY, ‘The Ossuary Lens’ justru kebalikannya, diluar nitpick minor di track kelima, album ini bikin gua ketagihan dengerin ulang dari awal hingga akhir lagi, ALLEGAEON berhasil meracik album technical death metal yang impactful dan langsung nyantol di kepala dari sayatan pertama, Ezra Haynes juga gak kaleng-kaleng lewat range vokal gak sembarangan yang membantu semua lagu terdengar sangat variatif ditengah padatnya riff rumit, betotan bass, dan gulungan blast beat. Pertanyaan album ALLEGAEON mana yang pantas ditaruh di posisi paling atas, sejatinya bakalan susah dijawab, karena tiap-tiap pendengar setia pasti punya album favoritnya masing-masing, gua sendiri menempatkan ‘The Ossuary Lens’ di posisi tersebut, berhasil menggeser “Proponent for Sentience” setelah sekian lama. (Peanhead)

9.7 out of 10