MOVIE REVIEW: SHELBY OAKS (2024)

SHELBY OAKS

Sutradara: Chris Stuckmann

USA (2024)


Review oleh Tremor

 

Setelah bertahun-tahun membuat konten kritik film, pada tahun 2021 seorang youtuber kritikus film bernama Chris Stuckmann mengumumkan bahwa ia berencana untuk menggarap film fiturnya sendiri. Stuckmann kemudian membuka penggalangan dana / crowdfunding di Kickstarter untuk mewujudkan proyek ambisiusnya tersebut. Karena para penonton setia channel YouTube Stuckmann ikut antusias dengan rencananya tersebut, pendanaan ini terkumpul relatif cepat dan film ini pun mulai diproduksi meskipun bajetnya tidak semewah film Hollywood. Shelby Oaks adalah sebuah film misteri / horor supranatural independen karya debut dari sang youtuber, yang ceritanya ia tulis bersama istrinya sendiri, Samantha Elizabeth. Pada tahun 2024, film ini mendapat kesempatan pemutaran perdana internasionalnya dalam gelaran Fantasia International Film Festival yang ke-28. Setelah itu, seorang pembuat film legendaris bernama Mike Flanagan memutuskan untuk terlibat sebagai executive producer. Dengan keterlibatan Flanagan, Shelby Oaks pun diedit ulang dan menjalani beberapa pengambilan gambar ulang sebelum akhirnya dirilis secara resmi dalam Fantastic Fest tahun 2025, dan distribusinya dipegang oleh Neon, sebuah studio indie yang sedang naik daun.

Shelby Oaks berkisah tentang seorang perempuan bernama Mia yang bertekad untuk mencari adiknya, Riley, yang telah hilang tanpa jejak selama belasan tahun. Riley bersama beberapa temannya pernah membentuk sebuah tim pemburu hantu dan menjelajahi tempat-tempat angker untuk membuat konten dalam channel Youtube mereka, berjudul The Paranormal Paranoids. Pada tahun 2008, Riley dan teman-temannya menghilang di dekat sebuah kota mati bernama Shelby Oaks yang memang memiliki sejarah gelap hingga suatu hari jasad para crew The Paranormal Paranoids ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Namun tidak ada jasad Riley dan ia masih dianggap hilang. Bersamaan dengan penemuan tersebut, polisi juga menemukan satu buah kaset rekaman yang berisi footage-footage terakhir Riley. Sejak itu, Mia tidak pernah berhenti mencari petunjuk tentang keberadaan adiknya, hingga pada suatu hari seorang pria misterius datang ke pintu rumahnya sambil membawa sebuah kaset video lain yang bertuliskan “Shelby Oaks.” Penemuan ini mendorong Mia untuk menyelidiki lebih jauh hingga membawanya pada pengungkapan gelap yang mengerikan.

Sebenarnya, untuk ukuran film horor, tidak ada hal baru dalam film Shelby Oaks. Namun struktur film ini cukup kreatif dan tidak saya duga. Film ini dibuka dengan format mockumentary yang berfokus pada profil Riley serta wawancara dengan Mia yang terus mencari keberadaan adiknya. Sebagai sebuah mockumentary, Shelby Oaks terasa cukup meyakinkan, menjanjikan dan segera menarik perhatian saya. Namun setelah sebuah kejadian mengerikan terjadi tepat di depan Mia, gaya film ini tiba-tiba beralih ke format narasi konvensional seperti film pada umumnya, dan bukan lagi mockumentary. Saya menonton Shelby Oaks secara buta tanpa pernah melihat trailernya terlebih dahulu, jadi saya benar-benar berpikir kalau film ini adalah film mockumentary ala Lake Mungo (2008) saat pertama kali menontonnya. Perubahan gaya yang secara mendadak ini mengejutkan saya, tetapi juga terasa menyegarkan. Sayangnya, setelah beralih ke format yang lebih konvensional, Shelby Oaks seakan kehilangan sebagian besar daya tariknya. Secara keseluruhan, sekitar 15 menit pertama dari film ini adalah bagian favorit saya sebelum akhirnya kita memasuki teritori film horor supranatural yang terasa generik. Setidaknya, babak introduksi yang menggunakan format mockumentary ala film dokumenter true crime tersebut cukup efektif untuk membangun backstory Riley sebelum kita memasuki kisah sebenarnya.

Apakah Shelby Oaks adalah film yang sempurna? Tentu saja tidak. Kelemahan terbesar film ini mungkin terletak pada penulisan yang sedikit berantakan dan dipenuhi dengan terlalu banyak klise film horor, dari mulai tindakan-tindakan Mia yang tidak logis, suami Mia yang tidak percaya padanya, hingga lampu senter yang mendadak padam saat dibutuhkan. Babak ketiga film ini mungkin adalah bagian yang paling berantakan dengan ending yang sebenarnya menarik namun terasa agak terburu-buru. Belum lagi penggunaan CGI yang terasa sedikit merusak suasana. Meskipun film ini dibuka dengan opening yang cukup kuat dan menjanjikan, pada akhirnya Shelby Oaks menjadi film horor supranatural yang akan dengan mudah terlupakan.

Tapi, di luar semua kekurangan, Shelby Oaks adalah sebuah karya penanda keberanian luar biasa dari Chris Stuckmann, seorang youtuber yang mengambil langkah menjadi seorang pembuat film independen. Meskipun bajetnya sangat terbatas, namun ia berhasil membuat sebuah film dengan maksimal dan tidak terasa murahan. Dalam proyek debutnya ini, Stuckmann sepertinya benar-benar menumpahkan kecintaannya pada genre horor. Kita juga bisa melihat banyak sekali pengaruh dari film-film horor populer, dari mulai The Blair Witch Project (1999), Silent Hill (2006), hingga Rosemary’s Baby (1968). Shelby Oaks adalah debut yang didanai oleh para penonton setia channelnya, dan dikerjakan dengan penuh passion. Atas dasar fakta ini, rasanya semua kekurangan teknis dan penulisan Shelby Oaks menjadi sangat bisa dimaklumi. Tentu saja keterlibatan Mike Flanagan cukup berpengaruh pada hasil akhir Shelby Oaks, tetapi saya yakin seorang Flanagan tidak akan sembarang memilih proyek yang hendak ia bantu. Mungkin ia bisa melihat kalau Chris Stuckmann memiliki potensi untuk menjadi seorang pembuat film, dan semoga Stuckmann belajar banyak dari proyek debutnya, lalu membuat film horor yang jauh lebih baik di masa depan.