
ARMY OF DARKNESS
Sutradara: Sam Raimi
USA (1992)
Review oleh Tremor
Army of Darkness adalah film ketiga dari trilogi The Evil Dead karya Sam Raimi yang sama sekali berbeda dari dua film sebelumnya. Kali ini, Raimi memadukan berbagai genre dari mulai fantasi, action, adventure, hingga komedi slapstick. Sebenarnya, film ini merupakan proyek Raimi yang tertunda. Awalnya, kisah dalam Evil Dead 2 direncanakan berlatarkan abad ke-14. Namun karena anggaran yang Raimi dapatkan pada saat itu sangat terbatas untuk membiayai produksi film dengan set semacam itu, ia terpaksa harus menunda mimpinya. Baru dalam Army of Darkness-lah ia bisa mewujudkan rencananya. Film yang awalnya berjudul “Medieval Dead” ini merupakan kelanjutan dari Evil Dead 2 yang ia tulis bersama adiknya, Ivan Raimi. Meskipun Army of Darkness adalah film trilogi The Evil Dead yang memiliki anggaran paling besar, namun film ini mengalami kegagalan besar setelah dirilis di bioskop. Walaupun begitu, Army of Darkness tetap memiliki penggemar setianya sendiri hingga hari ini. Army of Darkness juga dikenal memiliki beberapa versi rilis dengan durasi yang berbeda: US Theatrical Version (81 menit), US TV version (88 menit), International version (88 menit), dan yang terpanjang adalah Director’s Cut (96 menit), dengan salah satu yang ditutup dengan ending yang berbeda.

Film ini dimulai tepat setelah Evil Dead 2 berakhir, di mana Ash terhisap ke dalam portal waktu dan terdampar di abad ke-14. Namun, berbeda dengan ending Evil Dead 2 di mana Ash segera menjadi pahlawan, dalam Army of Darkness ia ditawan oleh seorang raja bangsa Kandarian bernama Lord Arthur karena dianggap sebagai bagian dari musuh mereka. Setelah Ash mampu membunuh Deadite, Lord Arthur yakin bahwa Ash adalah seorang pahlawan dari langit yang telah dijanjikan dalam nubuat Kandar kuno. Namun Ash bersikeras bahwa ia tidak ingin menjadi pahlawan. Ash hanya ingin pulang ke masa depan. Tetapi satu-satunya cara untuk kembali ke masa depan adalah lewat sebuah mantera yang ada di dalam kitab sihir Necronomicon Ex-Mortis. Masalahnya, kitab tersebut terletak di sebuah pemakaman terkutuk yang dikuasai oleh kekuatan jahat. Akhirnya Ash harus menjalani perjalanan untuk mencari kitab Necronomicon. Ketika Ash akhirnya berhasil menemukan kitab Necronomicon, ia melakukan sebuah kesalahan kecil namun fatal yang mengakibatkan bangkitnya pasukan tengkorak hidup dari pemakaman terkutuk tersebut. Dipimpin oleh seekor iblis Kandaria yang menyerupai Ash dalam versi jahat, pasukan tersebut mulai menyerang kasil Kandar untuk merebut kembali Necronomicon yang Ash curi.

Agak sulit untuk menuliskan review yang objektif tentang film ini karena bagi saya pribadi Army of Darkness adalah film terburuk dari trilogi The Evil Dead. Mungkin saya terlalu konservatif hingga tidak bisa menikmati eksperimen Sam Raimi yang menjadikan film kelanjutan Evil Dead terlalu konyol. Mungkin juga selera humor saya terlalu rendah, atau juga sebaliknya. Yang saya tahu, sejak pertama kali menonton Army of Darkness di awal 2000-an  hingga beberapa kali percobaan menonton ulang sampai hari ini, apa yang saya rasakan masih tetap sama: menonton Army of Darkness adalah pengalaman menonton yang cukup menyiksa karena ternyata saya kesulitan untuk bisa menikmatinya. Apapun genre yang Raimi coba gabungkan di sini, dari mulai horor, fantasi, action, adventure, hingga komedi slapstick, tidak ada satupun yang benar-benar berfungsi.
Sebagai sebuah film Evil Dead, Army of Darkness tidak memiliki satupun momen horor, termasuk gore mengerikan seperti dua film sebelumnya. Rasanya cukup bisa dimengerti mengapa Army of Darkness begitu mengecewakan para penonton Evil Dead di awal tahun 90-an, karena mungkin sama seperti saya, mereka ingin melihat kebrutalan komikal ala Evil Dead lagi dalam film ke-tiga-nya. Atau setidaknya, porsi komedinya bisa terasa lebih seimbang dengan elemen horornya, seperti dalam Evil Dead 2. Pendekatan komedi berlebihan dalam Army of Darkness sendiri adalah jenis komedi yang tidak saya suka. Terlalu banyak porsi slapstick yang mungkin hanya cocok untuk buku komik, lengkap dengan ekspresi-ekspresi wajah tolol komikal sebagai salah satu sumber humornya, dan pada akhirnya terasa agak too-much. Saya cukup sepakat dengan apa yang dikatakan oleh seorang kritikus film legendaris bernama Roger Ebert, yang berpendapat bahwa Army of Darkness seakan dibuat untuk penonton berusia 14 tahun. Bukan saya merasa sok dewasa, tetapi bagaimanapun juga saya tidak merasa film ini lucu. Film ini kemudian diperburuk dengan penggambaran karakter Ash yang sangat menyebalkan, seorang asshole yang arogan, bodoh, dan sepertinya memang seperti itu penggambaran yang ingin dikembangkan oleh Sam Raimi dan Bruce Campbell dari seorang Ash: seorang tengil tolol yang kemudian menjadi seorang hero. Seperti yang pernah saya tulis dalam review Evil Dead 2, satu-satunya penulisan karakter Ash yang saya suka hanya ada pada film Evil Dead pertama. Mungkin alasan itu juga yang membuat saya tidak terlalu berminat untuk menonton serial Ash vs Evil Dead, dan saya lebih memilih menunggu film-film layar lebar Evil Dead terbaru (tanpa Ash) saja.

Sebagian hal kecil yang saya suka dari Army of Darkness adalah momen ketika pasukan tengkorak hidup mulai bangkit dari kubur untuk menyerang kastil. Mereka semua dipimpin oleh Evil Ash, seorang doppelganger Ash dalam versi iblis. Special effect prostetik dan makeup film ini juga terlihat jauh lebih bagus lagi dibandingkan dua Evil Dead sebelumnya, karena kali ini Raimi memiliki lebih banyak anggaran. Mungkin salah satu yang menjadi highlight di sini adalah riasan prostetik dari Evil Ash serta beberapa deadites, yang dikerjakan dengan cukup detail. Namun desain set hingga kostum abad-13 film ini bisa jadi telah menghabiskan terlalu banyak biaya hingga tidak banyak tersisa untuk special effect gore yang sebelumnya menjadi kekuatan Evil Dead. Hasilnya, tidak ada satupun adegan berdarah dalam Army of Darkness. Namun, saya cukup terhibur melihat pasukan tengkorak yang dikerjakan menggunakan puppet hingga animasi stop-motion klasik, yang merupakan sebuah bentuk tribute Sam Raimi kepada Ray Harryhausen, seorang seniman stop-motion film monster legendaris yang sangat populer di tahun 60-an. Lalu ada juga sebuah adegan tribute kepada kisah klasik “Gulliver’s Travels†di mana Ash diserang oleh banyak Ash versi mini, menggunakan teknik bluescreen yang bisa jadi terlihat cukup menakjubkan bagi penonton 1992.
Perlu ditegaskan bahwa ketidaksukaan saya pada Army of Darkness hanyalah berdasarkan selera pribadi saja, karena suka tidak suka, faktanya Army of Darkness tetap diakui sebagai film cult yang memiliki banyak penggemar setia dan menjadi “anggota kehormatan” dalam kultur horor walaupun nyaris tidak ada unsur horor dalam film ini. Tapi sebanyak apapun pujian yang ditujukan untuk Army of Darkness, bagi saya film ini tetaplah merupakan film Evil Dead yang paling tidak saya suka. Setelah menonton ulang, perasaan dan kesimpulan saya masih sama dengan apa yang saya rasakan dulu: bahwa Army of Darkness adalah karya yang terlalu konyol dan komikal untuk sebuah franchise Evil Dead, dengan perilaku “pahlawan”-nya yang annoying. Bagi saya, Army of Darkness tidak terasa lucu sebagai film komedi, dan tidak cukup menakutkan sebagai film horor. Tetapi saya tetap bisa mengapresiasi semua kerja keras yang bagus dan usaha Sam Raimi membuat Army of Darkness keluar dari zona klise Evil Dead, dan saya juga bisa memahami mengapa film ini pada akhirnya berhasil memiliki banyak penggemar setianya sendiri.

