MOVIE REVIEW: BOOKS OF BLOOD (2020)

BOOKS OF BLOOD
Sutradara: Brannon Braga
USA (2020)

Review oleh Tremor

Clive Barker adalah salah satu penulis novel asal Inggris yang namanya sudah tidak asing dalam dunia horor, meskipun novel buatannya sebenarnya cukup bervariatif dari mulai horror, fabel, hingga fantasi. Banyak karya Barker yang diadaptasi ke dalam media film, salah satunya adalah Hellraiser (1987), yang ia adaptasi dari novella buatannya sendiri berjudul “The Hellbound Heart”. Namun karya terbesar Barker sebenarnya adalah antologi cerpen berjudul “Books of Blood”, yang dibagi ke dalam 6 volume buku, ditulis antara tahun 1984-1986. Selama bertahun-tahun, banyak usaha untuk mengadaptasi beberapa cerita pendek dari Books of Blood ke layar lebar, dari mulai “The Forbidden” yang diadaptasi menjadi Candyman (1992), Rawhead Rex (1986), Lord of Illusions (1995), The Midnight Meat Train (2008), hingga Dread (2009). Lalu pada tahun 2009, dirilis juga sebuah film Book of Blood yang mengadaptasi dua cerpen Barker sekaligus yaitu “The Book of Blood” dan “On Jerusalem Street”. Sebagai salah satu penggemar novel dan cerpen Clive Barker, tentu saya merasa antusias saat mengetahui bahwa ada adaptasi baru lagi dari The Book of Blood, berjudul Books of Blood karya Brannon Braga. Film yang berkonsep antologi ini merupakan debut dari Brannon Braga, seorang produser yang memproduksi banyak serial TV dari mulai Star Trek, Threshold, The End Is Nye, Cosmos: A Spacetime Odyssey, hingga Cosmos: Possible Worlds. Sebelumnya ia juga sempat mencoba menyutradarai beberapa episode dari dokumenter science Cosmos dan The End Is Nye. Dilihat dari semua yang pernah ia buat, bisa disimpulkan bahwa Braga memiliki ketertarikan tinggi pada sci-fi dan dokumenter ilmiah yang berkaitan dengan jagat raya dan astrofisika. Memilih film horor sebagai debutnya tentu adalah keputusan yang membuat saya penasaran, sekaligus juga tidak terlalu yakin. Karena itu, saya tidak berekspektasi terlalu tinggi pada film ini, apalagi karena faktanya memang ada banyak usaha adaptasi film yang gagal menangkap kengerian yang dituliskan oleh Clive Barker.

Awalnya, The Books of Blood direncanakan sebagai sebuah serial antologi TV seperti The Twilight Zone dan Black Mirror. Konsepnya adalah meminjam The Book of Blood-nya Barker sebagai bingkai untuk mengadaptasi cerpen-cerpen Barker yang belum pernah diadaptasi dan juga kisah-kisah baru oleh penulis baru. Ide ini cukup brilian karena konsep dasar kumpulan cerpen Barker sangat cocok dijadikan antologi: mereka yang telah mati memiliki kisahnya sendiri yang kemudian ditulis dalam “the book of blood”. Maka akan ada banyak sekali kemungkinan cerita-cerita baru yang bisa dimasukan di dalamnya. Braga dan Clive juga sudah sempat mengembangkan cerita adaptasinya untuk proyek ini, ditambah dengan satu cerita baru yang naskahnya ditulis oleh Adam Simon. Tetapi produser proyek ini kemudian memutuskan untuk membuat satu film antologi saja, dan bukan serial TV. Hasilnya adalah Books of Blood, sebuah film antologi yang menggunakan perangkat buku buatan Barker sebagai sarana untuk menceritakan kisah baru.

Film ini terbagi dalam tiga cerita terpisah yang masing-masing berfokus pada tiga individu: Jenna, Miles, dan Bennett. Cerita pertama berkisah tentang Jenna, seorang remaja perempuan dengan gangguan mental yang membuatnya over-sensitif dan mudah terganggu dengan suara-suara sekecil apapun. Jenna tidak yakin bahwa pengobatan psikiater yang ia jalani bisa membantunya. Menolak untuk dibawa kembali ke rumah sakit, akhirnya Jenna mencuri uang orang tuanya dan melarikan diri dari rumahnya. Jenna lalu menyewa sebuah kamar di rumah sepasang suami istri paruh baya yang terlalu ramah dan menyimpan rahasia gelap. Menurut saya, kisah pertama ini berdurasi terlalu panjang dari seharusnya dan tidak terasa seperti sebuah cerita yang ditulis oleh Barker. Wajar saja karena kisah Jenna adalah cerita baru buatan Brannon Braga dan bukan adaptasi dari cerpen Clive Barker. Satu hal yang menarik dari kisah Jenna adalah untuk pertama kalinya ada sebuah film yang menggunakan gangguan mental disebut misophonia, yaitu kondisi di mana suara-suara wajar seperti suara nafas dan mulut yang mengunyah makanan, bisa memantik reaksi marah, kecemasan dan serangan panik bagi penderitanya.

Cerita kedua, berjudul Miles, adalah adaptasi bebas dari cerpen buatan Barker berjudul “The Book of Blood”, bercerita tentang seorang profesor bernama Mary yang masih berduka setelah anak satu-satunya, Miles, meninggal dunia. Suatu hari seorang laki-laki bernama Simon mengaku bisa berkomunikasi dengan orang mati, termasuk dengan Miles. Menurut saya segmen ini terasa sangat berantakan dan bertele-tele, diperburuk dengan penulisan yang lemah, adegan-adegan tidak penting, serta penggambaran karakter Simon yang bagi saya terasa agak menyebalkan sejak awal. Padahal konsep dasar dari cerpen “The Book of Blood” sebenarnya adalah yang paling kuat sebagai kerangka utama antologi horornya.

Film antologi Books of Blood dibuka dan ditutup dengan cerita ketiga yang berjudul Bennett, berfokus pada dua pembunuh bayaran yang mendapat tugas untuk memburu sebuah buku paling langka dan sangat berharga: the book of blood. Kisah ini diadaptasi dari cerpen “On Jerusalem Street” buatan Barker, yang merupakan sekuel dari cerpen “The Book of Blood”. Kalau segmen Jenna terlalu panjang, segmen Bennet justru terasa terlalu pendek untuk bisa dinikmati. Menurut saya segmen ini adalah yang paling lemah dari keseluruhan antologi dan terasa sangat terburu-buru. Mungkin fungsi segmen Bennet hanya sebagai prolog dan epilog saja, membuat keseluruhan film semakin terasa kurang berbobot.

Dalam strukturnya, Books Of Blood meminjam pendekatan yang mirip dengan Pulp Fiction, di mana pada satu titik ketiga cerita di dalamnya akan saling beririsan dan terhubung. Namun, setiap irisannya seperti terlalu dipaksakan, random, tidak saling melengkapi dan tidak organik. Kelemahan lain dari debut film panjang Braga adalah mengulang apa yang pernah dilakukan oleh film Book of Blood (2009), yaitu hanya mengadaptasi cerpen “The Book of Blood” dan “On Jerusalem Street” saja dan menambahkan satu kisah baru di antaranya yang terasa tidak selaras. Dalam buku kumpulan cerpen Barker, segmen “The Book of Blood” sendiri merupakan cerita pembuka, sementara “On Jerusalem Street” merupakan segmen penutup dari keseluruhan antologi. Kedua segmen itu menjadi “tulang punggung” utama dari buku antologi Barker, di mana sebanyak 28 cerpen Clive Barker diceritakan di antara kedua segmen tersebut: kisah-kisah yang disayatkan di atas tubuh Simon. Mungkin seharusnya Brannon Braga mengadaptasi beberapa cerita lain dari buku Books of Blood-nya Clive Barker saja karena masih banyak cerpen dari buku tersebut yang belum pernah diangkat ke layar lebar.

Seandainya Braga tetap bersikeras pada konsep awal proyek Books of Blood sebagai antologi serial TV, mungkin karya ini akan jauh lebih menarik. Meskipun banyak kekurangannya, setidaknya Books of Blood tetap memiliki beberapa visual yang bagus dan berhasil tampak mengerikan, meskipun proyek ini memiliki bajet yang cukup terbatas,. Beberapa kengeriannya memang cukup klise, tapi mengingat ini adalah debut dari seorang produser serial TV yang biasa membuat dokumenter ilmiah, saya sangat mengapresiasi percobaan pertama Braga dalam teritori horor ini. Lagi pula, banyak pembuat film horor lain yang juga tidak berhasil mengadaptasi buku-buku Clive Barker secara maksimal, jadi setiap percobaan barunya perlu dihargai.