ONE OF NINE ‘Dawn of the Iron Shadow’ ALBUM REVIEW
Profound Lore Records. October 31st, 2025
Melodic Black Metal

Berselang dua tahun saja dari debut album ‘Eternal Sorcery’, unit black metal bernuansa epic-fantasy, yang terinspirasi mitologi J.R.R Tolkien, ONE OF NINE, telah kembali dengan album kedua mereka, ‘Dawn of the Iron Shadow’ via Profound Lore Records. Meskipun band asal Charlotte, Amerika Serikat ini memang tak begitu langsung melesat kayak KËKHT ARÄKH, STORMKEEP, dan LAMP OF MURMUUR, album pertama mareka banyak diakui kaum black metal connoisseur sebagai salah satu rilisan melodic black metal terbaik tahun 2023 silam, gua sendiri meskipun agak telat baru dengerin pas pertengahan 2024, tentunya langsung kepincut dengan kebrengsekan lagu-lagu seperti, “The Silence of Heavenâ€, “Mother of Shadows”, dan “Moonlit Sacrifice”, yang entah kenapa sensasi saat dengerin pertama kalinya, kayak bikin deja vu alias teringat jaman sekolah menengah pertama dulu, saat denger ‘Sworn to The Dark’ dari WATAIN untuk pertama kali, dari hasil membajak laut di Demonoid.

Sebenernya gua agak kegocek sama album kedua ONE OF NINE, ‘Dawn of the Iron Shadow’ walaupun masih di jalur black metal, jelas sudah agak beda trajectory-nya dibandingkan dengan ‘Eternal Sorcery’. Apabila dalam LP pertama Fellrider of Northern Unlight, Gurthang the Black Sword, Pharazon the Golden dan Urmaiar the Rope mampu menemukan titik ekuilibrium antara kekejaman, pondasi melodi yang kuat dan atmosfer dingin membekukan, dalam full-length kedua, ONE OF NINE malah lebih bertumpu pada atmosfer sinematis yang imersif, hingga balutan dungeon synth yang semakin pekat, alhasil ‘Dawn of The Iron Shadow’ alih-alih mengingatkan pada era kejayaan meloblack akhir 90’an, jadi lebih condong ke era pertengahan second wave black metal, yang kemudian digodok dengan epic/atmospheric BM. Meskipun ada sedikit rasa kecewa, evolusi sound ONE OF NINE sebenarnya masuk akal sih, karena setelah ditelaah lebih dalam, toh banyak band meloblack ujung-ujungnya terjebak jadi derivatif belaka, dan secara tema yang diangkat, emang sudah sangat klop banget dengan formula komposisi yang diusung dalam album kedua.
Masing-masing lagu yang dihadirkan dalam ‘Dawn of the Iron Shadow’ terasa seperti sebuah kisah dan perjalanan dengan latar cerita tersendiri. Struktur lagunya ya sudah pasti non-tradisionil and melar yang menenggelamkan rasa akan berjalannya waktu, dimana setiap track terpampang jelas progresinya dari satu babak ke babak berikutnya, membangun suatu narasi yang mengundang pendengar untuk menyelam lebih dalam, belum lagi penggunaan synthesizer-nya sangat presisi, dengan porsi serta penempatannya sangat tepat, gak berlebihan atau kelewat medok kayak band symphonic black metal yang cenderung banyak cheesy. Kalau ditanya lagu favorit jelas sih “Age of Chains†yang menjadi pembuka impresif, lalu ada “Of Desperate Valorâ€, dengan twist ala black n’ roll primal berbalur synth di sekitaran menit pertama hingga tremolo riffing membekukan sampai ke tulang di penghujung lagu.
Kemudian dua lagu terakhir (‘Quest of the Silmaril’ dan ‘Death Wing Black Flame’) juga cukup epik, khususnya lagu penutup yang benar-benar tokcerr sebagai klimaks, komposisi dan liriknya terasa seperti bab terakhir sebuah saga, dimana tensi yang naik terus sampai eksplosi final, pas banget karena liriknya menggambarkan pertempuran hebat di angkasa antara Eärendil kontra Ancalagon the Black, yang berujung dengan pengusiran Morgoth ke Timeless Void melalui Door of Night. Bagi yang dulu ikut gerbong ONE OF NINE via jalur ‘Eternal Sorcery’, mungkin bakalan perlu sedikit penyesuaian agar bisa menikmati album ini, karena gua sendiri juga agak kurang sreg dengan beberapa momen yang jadi too close for comfort sama grup-grup jebolan Northern Silence, Pest Productions dkk. Untungnya eksekusi ONE OF NINE sangat solid, dan punya lasting value berserta identitas tematik diatas rata-rata, meski masih agak sedikit dibawah album pertama dari segi memorability.  (Peanhead)
8.5 out of 10