
ABADI NAN JAYA / THE ELIXIR
Sutradara: Kimo Stamboel
Indonesia (2025)
Review oleh Tremor
Sudah cukup lama saya tidak begitu termotivasi untuk menonton horor lokal, apalagi menulis reviewnya. Alasannya cukup personal dan subjektif: karena saya merasa agak jenuh dengan film-film horor supranatural yang menggunakan sosok-sosok hantu, demit, jin, dan semacamnya sebagai fokus utama sumber terornya. Seperti kita tahu, film horor Indonesia hampir selalu didominasi tema supranatural yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Perlu digarisbawahi bahwa ini hanyalah soal preferensi personal saja, dan bukan pernyataan bahwa sub-genre hantu itu buruk. Saya pribadi adalah orang yang selalu antusias mendengarkan kisah-kisah horor dan urban legend lokal dari berbagai daerah, dan saya juga menyukai banyak film hantu asia. Tapi kalau berbicara soal film, apa yang membuat saya jatuh cinta pada genre horor pada dasarnya adalah luasnya keberagaman dan kreativitas lewat berbagai macam cabang subgenre dalam horor, yang tentu tidak melulu soal mahluk halus. Saya paham, kita memiliki segudang cerita mistis serta urban legend lokal, yang tentunya ideal untuk menjadi sumber inspirasi yang berlimpah. Cerita-cerita seram semacam itu cukup dekat dan relevan bagi masyarakat kita, dan mungkin itu yang membuat mayoritas pasar penonton bioskop di Indonesia menyukai film-film horor hantu yang kemudian menjadi salah satu ciri khas horor Indonesia. Jadi, sangat masuk akal kalau para produsen yang butuh modal produksinya kembali harus mengikuti selera pasarnya. Lagi pula, negara asia memang selalu identik dengan cerita-cerita hantu. Sayangnya, ini membuat sub-genre lain dalam horor menjadi jarang tereksplorasi. Industri horor lokal terasa sedikit homogen, dan mungkin sesekali kita memerlukan sedikit variasi.
Kisah-kisah mistis soal arwah pendendam, lelembut, demit, jin, hantu dan sebangsanya terus mendominasi film horor Indonesia selama puluhan tahun, dari mulai Sundel Bolong, Beranak Dalam Kubur, Jelangkung, seri Danur beserta semua spin-off nya, Pabrik Gula, Jalan Pulang, Waktu Maghrib, Qorin, seri Desa Penari, dan banyak judul lainnya, termasuk juga semua film horor yang menampilkan kuntilanak dan pocong di dalamnya (di sisi lain, saya rasa entitas genderuwo dan wewe gombel membutuhkan lebih banyak perhatian dalam industri film horor Indonesia.) Tentu saja memang tidak semua film horor Indonesia hanya berfokus pada teror hantu saja. Film-film seperti Santet, Ratu Ilmu Hitam, Leak, Rumah Dara, Modus Anomali, Pintu Terlarang, Sebelum Iblis Menjemput, Siksa Kubur, Perempuan Tanah Jahanam, Para Betina Pengikut Iblis, Badoet, dan mungkin masih banyak yang tidak saya ingat, adalah sebagian contoh eksplorasi genre horor yang lumayan menyegarkan karena menawarkan ide-ide dasar dalam ranah horor lain, meskipun beberapa masih saja tidak tahan untuk menyertakan sedikit gimmick hantu di dalamnya. Kimo Stamboel adalah salah satu sutradara Indonesia yang cukup sering membuat film horor supranatural. Karirnya dimulai dengan brilian bersama Timo Tjahjanto lewat film pendek Dara (2008) dan Rumah Dara (2010), di mana kedua film tersebut sangat menyegarkan bagi saya karena bukan film horor hantu. Namun, setelah itu Kimo lebih banyak berfokus membuat film-film horor supranatural mulai dari DreadOut (2019), Ivanna (2022), Jailangkung Sandekala (2022), Sewu Dino (2023) dan Badarawuhi Di Desa Penari (2024). Hingga sebuah kejutan muncul beberapa minggu lalu: Kimo Stamboel merilis film zombie berjudul Abadi Nan Jaya (dengan judul internasional The Elixir). Berita ini cukup menggairahkan bagi saya, ditambah lagi karena ini buatan Kimo Stamboel. Dengan penuh antusias, saya segera menontonnya.

Saya yakin mayoritas pembaca sudah menonton Abadi Nan Jaya ketika tulisan ini di-upload, jadi saya tidak akan bertele-tele dengan sinopsisnya selain untuk sedikit mengingatkan plot dasarnya. Di desa Wanirejo yang tenang, sebuah perusahaan jamu bernama Wani Waras milik keluarga pak Sadimin bereksperimen menciptakan ramuan jamu tradisional yang cukup revolusioner karena dirancang berkhasiat untuk membuat peminumnya kembali muda. Ketika sampel uji coba jamu yang dinamai “Abadi Nan Jaya†itu selesai diracik, Pak Sadimin sendirilah yang mencicipinya langsung. Setelah meminumnya, ia sangat gembira karena akhirnya berhasil mendapatkan racikan sempurna jamu yang benar-benar berkhasiat sesuai yang ia harapkan. Keriput serta rambut putihnya hilang, dan ia merasa fisiknya muda kembali. Tanpa diduga, ramuan tersebut memiliki efek samping yang kemudian mengubah Pak Sadimin menjadi mayat hidup yang sangat agresif. Lebih buruknya lagi, gejala menyeramkan ini ternyata menular lewat gigitan dan segera menjadi wabah yang menyebar ke seluruh desa. Kini keluarga Pak Sadimin yang sebenarnya sedang dilanda konflik internal harus bersatu untuk bersama-sama bertahan hidup dengan segala cara.

Konsep zombie modern yang diperkenalkan oleh Night of the Living Dead (1968), serta evolusi zombie berbasis infeksi yang dipopulerkan oleh 28 Days Later (2002), bukanlah konsep yang mudah untuk menjadi original di tahun 2025. Rasanya berbagai kemungkinan variasinya seakan telah habis terpakai karena sudah ada terlalu banyak film yang menggunakan konsep serupa hingga menjadi genre tersendiri. Karena itu, saya sangat memaklumi kalau Abadi Nan Jaya memiliki plot dasar serupa dengan puluhan judul film zombie infeksi lainnya, yaitu tentang wabah infeksi zombie, teror mayat hidup, survival, dan drama kerjasama antar manusia dalam situasi menuju zombie apocalypse. Pada dasarnya, memang tidak ada hal baru dalam Abadi Nan Jaya sebagai film zombie. Meskipun film ini cukup basic, tapi setidaknya Abadi Nan Jaya mencoba untuk menyuntikkan unsur yang jarang ada dalam film zombie lainnya, yaitu kearifan budaya lokal Indonesia, walaupun unsur-unsur tersebut tidak menyumbangkan perspektif baru dalam genre zombie dan film ini tetap berpegang pada formula dasar film-film zombie yang sudah ada. Unsur-unsur lokal ini sudah terasa sejak film dimulai, dari mulai suasana masyarakat pedesaan yang dikelilingi persawahan, jamu, musik dangdut di acara sunatan, budaya petasan, toa mesjid, bahkan hingga klakson telolet truk, yang mana semuanya terasa sangat dekat dan relevan bagi kita penonton Indonesia. Saya sepakat bahwa elemen-elemen yang berkonteks sangat lokal ini membuat Abadi Nan Jaya memiliki kekhasannya sendiri sebagai film zombie, sekaligus membuktikan bahwa sebuah film horor yang ingin menonjolkan budaya lokal tidaklah harus melulu bertema hantu, dan tidak selalu memerlukan karakter dukun ataupun pemuka agama.

Saya menemukan ada banyak keluhan dari para netizen di media sosial tentang film ini, dan saya ingin sedikit membahas beberapa keluhan tersebut dalam review ini. Keluhan paling banyak rasanya adalah tentang beberapa karakter dalam Abadi Nan Jaya yang mengambil keputusan-keputusan bodoh. Dalam beberapa adegan, memang ada banyak keputusan bodoh yang diambil oleh sebagian karakter film ini. Tapi para penonton horor, khususnya film-film zombie dan slasher, tentu paham bahwa keputusan bodoh adalah hal yang kadang menjadi klise tak terhindarkan demi membangun ketegangan dan rasa frustrasi penonton. Dalam beberapa kasus, keputusan bodoh masih bisa dimaklumi, meskipun seringnya memang terlahir dari penulisan yang malas. Di sisi lain, keputusan bodoh bisa jadi adalah hal yang cukup realistis mengingat ada banyak orang di dunia nyata mengambil keputusan bodoh setiap harinya, terutama dalam keadaan panik. Seandainya zombie apocalypse benar-benar terjadi, saya rasa ada banyak di antara kita yang akan mengambil keputusan impulsif dan bodoh juga di tengah kepanikan. Salah satu keputusan bodoh dalam Abadi Nan Jaya yang saya lihat paling sering diungkit oleh netizen adalah karakter Kenes yang membunyikan klakson hingga di dua kesempatan. Kita sebagai penonton tahu bahwa suara nyaring akan mengundang zombie datang ke arah sumber suara, karena pengetahuan itu jelas sangat klise khas lore zombie. Tapi Kenes tidak berada dalam dunia yang sama dengan kita. Mayoritas film zombie, termasuk Abadi Nan Jaya, mengandaikan sebuah dunia di mana zombie tidak pernah ada dalam produk hiburan pop culture mereka. Jadi ketika seluruh penduduk desa untuk pertama kalinya berubah menjadi mayat hidup pemakan daging, tidak ada satu karakterpun yang tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana cara melawannya. Tanpa satupun karakter yang memiliki pengetahuan untuk menjelaskan fenomena menyeramkan ini, tentu yang tercipta adalah rasa panik, takut, serta kebingungan luar biasa, dan dari ketidaktahuan inilah teror dan kekacauan dibangun. Setidaknya, para karakter yang berhasil selamat perlahan-lahan mulai belajar tentang bagaimana cara menghadapi para zombie, meskipun mungkin Kenes agak sedikit lamban untuk belajar.
Beberapa netizen lainnya juga mengeluhkan soal tidak adanya kejelasan tentang bagaimana bisa ramuan jamu mengubah seseorang menjadi zombie. Para netizen yang berusaha menuntut penjelasan dan backstory logis semacam ini jelas tidak pernah menonton film zombie sebelumnya. Bahkan ratusan episode dan buku komik The Walking Dead belum sampai pada jawaban final tentang apa penyebab utama wabah zombie dalam dunia mereka, karena memang bukan itu poinnya. Film zombie bukanlah film investigasi, melainkan film tentang survival di tengah kekacauan, kebingungan, dan ketidaktahuan, dan yang terpenting adalah tentang relasi antar manusia dalam situasi krisis apokaliptik. Apalagi kejadian dalam film Abadi Nan Jaya hanya berlangsung dalam satu hari saja, yang justru rasanya akan sangat aneh kalau seandainya film ini berusaha menjelaskan mengapa racikan jamunya menyebabkan infeksi zombie, dan untungnya Kimo tidak melakukan hal tersebut.

Tentu tidak lengkap membahas sebuah film zombie tanpa menyoroti desain zombie dan special effect-nya. Saya sangat mengapresiasi bagaimana desain para zombie Abadi Nan Jaya dieksekusi dengan cukup serius lewat makeup prostetiknya, termasuk juga special effect gore-nya. Meskipun sepertinya ada sedikit polesan CGI untuk beberapa adegan, tapi porsi special effect tradisionalnya tetap jauh lebih mendominasi. Bagi saya ini adalah sebuah kerja keras yang layak mendapat apresiasi, terutama untuk industri horor Indonesia yang mungkin memiliki lebih banyak seniman special effect digital dibandingkan tradisional. Zombie dalam Abadi Nan Jaya juga memiliki ciri khas yang unik meskipun tidak menyumbangkan apapun dalam plotnya: mereka menjadi tidak aktif saat terkena air hujan. Dari salah satu artikel yang saya baca, karakteristik dan desain zombie-zombie Abadi Nan Jaya rupanya terinsipirasi dari tanaman kantong semar, dan tidak aktifnya para zombie ketika terkena air hujan juga terinspirasi dari beberapa jenis tanaman. Tapi saya punya keluhan saya sendiri tentang perilaku para zombie dalam Abadi Nan Jaya yang tidak konsisten. Hal yang paling mengganggu saya adalah bagaimana beberapa zombie tidak menggunakan tangannya ketika menyerang karakter kunci. Salah satu contoh paling terang-terangan di antaranya ada pada karakter Rudi versi zombie. Ketika Rudi mulai mengejar Karina, ia menjulurkan tangannya. Tapi begitu deretan giginya sudah sangat dekat dengan leher Karina, kedua tangan Rudi mendadak menjulur kaku ke arah belakang seakan tidak ingin menyentuh Karina. Saya berasumsi bahwa tujuan teknisnya adalah agar para karakter kunci bisa mempertahankan diri dengan lebih mudah. Adegan seperti itu bukan terjadi hanya satu kali saja. Saat wabah zombie dimulai di rumah Pak Sadimin, zombie Pardi menyerang Karina dengan cara yang sama. Padahal, beberapa menit sebelumnya kita baru saja menyaksikan bagaimana zombie pak Sadimin jelas-jelas memeluk korbannya saat ia menyerang untuk pertama kalinya. Jadi sudah bisa dipastikan ini adalah masalah ketidakkonsistenan yang cukup fatal dan agak mengganggu bagi saya. Bagaimana bisa para zombie yang mampu mengais-ngais daun pintu, mendobrak jendela, dan mengejar mangsanya dengan tangan menjulur ke depan, mendadak lupa untuk menggunakan tangannya ketika yang diserang adalah karakter kunci? Apapun alasannya, ini membuat mereka seperti tidak serius hendak memangsa. Zombie yang lupa menjulurkan tangan terlihat sangat tidak meyakinkan dan tidak realistis, dan ini adalah gerakan motorik insting zombie terburuk yang pernah saya lihat. Padahal, para pemeran figuran zombie dalam film ini telah mengikuti pelatihan gerakan dasar motorik khas zombie selama tiga bulan agar setiap gerakan mereka tampak realistis dan konsisten, dan saya yakin tangan yang menjulur ke depan untuk memangsa adalah salah satu hal yang seharusnya konsisten dan penting.
Keluhan personal lain dari saya untuk film ini adalah bagaimana Abadi Nan Jaya menghabiskan terlalu banyak porsi untuk sisi melodrama keluarga Pak Sadimin yang disfungsional. Seakan masih terasa kurang, film ini lalu menambahkan satu sub-plot melodrama romantis di luar keluarga pak Sadimin, yaitu antara karakter Ningsih dan pacarnya polisi Rahman, yang mungkin akan lebih menarik seandainya disimpan sebagai spin-off film pendek saja. Saya juga sedikit menyayangkan bahwa tidak ada karakter asshole di antara para survivor. Kita bisa melihat bagaimana semua survivor dalam Abadi Nan Jaya pada dasarnya adalah orang-orang berhati baik yang rela melakukan apapun untuk orang lain di tengah kekacauan. Tetapi ini terdengar terlalu muluk dan tidak realistis, karena kisah konflik antar manusia di tengah krisis apokaliptik yang penuh kepanikan membutuhkan setidaknya satu karakter egois dan menyebalkan, yang kematiannya tentu akan ditunggu-tunggu oleh para penontonnya. Tapi sekali lagi, semua ini berdasarkan preferensi pribadi saya saja. Selebihnya, tak banyak hal lain yang ingin saya keluhkan dari Abadi Nan Jaya.

Saya pribadi menyukai beberapa hal dalam Abadi Nan Jaya, salah satunya adalah ending-nya yang apokaliptik. Saya juga suka plot seputar paket sampel jamu awet muda yang dikirim ke dua orang dalam film ini, yang pertama untuk Pak Sadimin di desa Wanirejo, dan paket kedua dikirim pada seseorang bernama ibu Grace di Jakarta yang mungkin adalah rekan bisnis Pak Sadimin. Di sepanjang film, saya sudah membayangkan bagaimana plot ibu Grace akan memantik dimulainya zombie apocalypse di Jakarta untuk film kedua Abadi Nan Jaya, dan itu adalah ide yang bagus. Tapi rupanya penulis film ini tidak sabar hingga akhirnya menggoda penontonnya lewat sebuah adegan pendek ibu Grace menerima parsel jamu Abadi Nan Jaya di Jakarta pada penghujung film. Dalam adegan tersebut, suami ibu Grace memintanya untuk segera bersiap-siap agar mereka tidak ketinggalan pesawat. Lalu ibu Grace meminum jamu Abadi Nan Jaya, dan kita tahu ia akan segera berubah menjadi zombie. Mungkinkah kita akan melihat ibu Grace berubah di airport atau bahkan di dalam pesawat pada film berikutnya? Interior pesawat tentu akan menjadi set lokasi yang menarik untuk film zombie, dan secara teknis mungkin lebih realistis untuk melakukan syuting film zombie dibandingkan di tengah kota Jakarta yang sibuk.
Abadi Nan Jaya bukanlah film zombie yang sempurna, dan memang tidak ada hal baru di dalamnya. Tapi kalau kita membicarakan dari segi teknis, produksi film ini tidak main-main. Selain practical special effect yang sudah saya bahas sebelumnya, sinematografi hingga sound design dalam Abadi Nan Jaya juga sangat memuaskan. Di luar beberapa keluhan yang sudah saya tulis, saya pribadi cukup menikmati seluruh waktu yang saya luangkan untuk menonton film ini karena tetap ada banyak momen yang fun di dalamnya. Abadi Nan Jaya mungkin bukanlah film zombie pertama di Indonesia. Saya tidak tahu film apa yang menjadi film zombie Indonesia pertama, tapi sebelumnya pernah ada film horor lokal yang berfokus pada teror zombie berjudul Kampung Zombie (2015) serta horor komedi Reuni Z (2018). Saya tidak peduli film zombie mana yang pertama, tapi yang pasti Abadi Nan Jaya adalah yang paling serius produksinya sejauh ini. Film ini sangat layak untuk diapresiasi, terutama karena sutradara Kimo Stamboel mau bereksperimen keluar dari ranah horor supranatural yang biasa ia kerjakan. Bukan film terbaik, tapi bisa jadi langkah awal yang baik. Semoga dengan dirilisnya Abadi Nan Jaya, akan ada lebih banyak produsen film horor Indonesia yang terpantik untuk sesekali bereksperimen mengeksplorasi zona-zona subgenre horor selain supranatural. Lihat bagaimana film horor tetap bisa fun dan menegangkan tanpa perlu adanya penampakan mahluk halus dan petunjuk “orang pintarâ€. Sejak lama saya pribadi selalu penasaran akan seperti apa seandainya ada film horor Indonesia dengan unsur kearifan lokalnya yang bereksplorasi ke ranah cosmic horror, misalnya. Atau mungkin folk horor murni tanpa roh jahat, film monster, sci-fi horror, body-horror, atau bahkan teror alien dengan kearifan lokal? Semoga saja Abadi Nan Jaya membuka celah untuk era film horor Indonesia yang sedikit lebih bervariasi.

