
POLTERGEIST
Sutradara: Tobe Hooper
USA (1982)
Review oleh Tremor
Nama sutradara Tobe Hooper tentu sudah tidak asing bagi para penggemar horor berkat masterpiece-nya The Texas Chain Saw Massacre (1974), mini seri TV Salem’s Lot (1979), serta film slasher The Funhouse (1981). Namun, baru lewat film Poltergeist-lah Hooper meraih kesuksesan komersial pertamanya di kancah film mainstream. Untuk pertama kalinya juga, Hooper dipercaya untuk membuat film dengan anggaran yang cukup besar, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Tak bisa dipungkiri, kesuksesan Hooper dan Poltergeist tak lepas dari peran penting Steven Spielberg yang ikut menulis dan juga memproduseri film ini. Di tahun 1982, nama Steven Spielberg sendiri sudah sangat populer lewat karya-karya besarnya seperti Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), dan Raiders of the Lost Ark (1981). Ketika film Poltergeist dibuat, Spielberg juga sedang sibuk menyutradarai sebuah film yang semakin mengharumkan namanya di kemudian hari, yaitu E.T. the Extra-Terrestrial (1982) yang dirilis hanya satu minggu setelah Poltergeist.

Kisah teror supranatural Poltergeist berfokus pada satu keluarga Amerika biasa yang cenderung bahagia dan baik-baik, yaitu keluarga Freeling. Mereka tinggal di sebuah pemukiman baru yang nyaman dan tenang. Sang ayah, Steven, kebetulan memang bekerja sebagai salah satu agen real estate paling sukses di pemukiman tersebut. Namun hari-hari keluarga Freeling secara perlahan mulai berubah mengerikan sejak hal-hal aneh terjadi di dalam rumah mereka. Awalnya, putri bungsu mereka, Carol-Ann, sepertinya bisa berkomunikasi dengan entitas yang tidak terlihat lewat TV tabung. Sejak itu, satu persatu teror supranatural pun semakin sering terjadi hingga pada puncaknya: Carol-Ann menghilang, terhisap ke dalam alam lain yang menghantui rumah mereka. Kini Carol-Ann disandera oleh roh-roh jahat di dalam dimensi yang tak bisa dijangkau. Keluarga Freeling yang hanya bisa mendengar suara Carol-Ann berteriak-teriak ketakutan memanggil ibunya, akhirnya mencari pertolongan pada sekelompok pemburu hantu dan paranormal untuk menyelamatkan putri bungsu mereka.

Siapapun yang banyak menonton film-film buatan Spielberg tentu akan merasakan kuatnya pengaruh Spielberg dalam Poltergeist sejak film dimulai, dari mulai penggambaran keluarga Amerika-nya, hingga bagaimana film ini diakhiri dengan kembalinya keutuhan keluarga Freeling. Para penonton film tentu bisa membedakan nuansa dari film-film buatan Tobe Hooper sebelumnya, dan Poltergeist jelas lebih terasa seperti sebuah film buatan Spielberg. Sebagai penulis naskah Poltergeist, Spielberg menyisipkan beberapa adegan berdasarkan ketakutan di masa kecilnya, salah satunya terhadap boneka badut serta pohon besar di luar jendela kamarnya. Jadi, sepertinya Spielberg memiliki keterikatan emosional dan mungkin juga obsesi dengan Poltergeist, dan ia ingin agar film ini benar-benar sesuai dengan ide-ide yang ia bayangkan. Karena itu, di tengah-tengah kesibukkannya membuat E.T., Spielberg sering menyempatkan diri mengunjungi lokasi syuting Poltergeist untuk memastikan Hooper mewujudkan misinya, memberi masukan-masukan kepada para aktor, bahkan ikut menyusun storyboard. Kalau saja Spielberg tidak terikat kontrak dengan produksi film E.T., bisa jadi Spielberg sendirilah yang akan menyutradarai Poltergeist. Tak heran kalau pada akhirnya Poltergeist terasa jauh lebih “jinak” dibandingkan film-film Tobe Hooper sebelumnya, karena Spielberg seakan terlalu mengambil alih dan ia bukanlah seorang sineas yang berada dalam halaman yang sama dengan Tobe Hooper untuk urusan horor. Contohnya, The Texas Chain Saw Massacre jelas merupakan film horor yang berbeda dengan Jaws. Hasilnya, film horor ini lebih terasa sangat Spielberg: sebuah film keluarga untuk semua usia yang kebetulan bergenre horor, dan tentunya akan sangat menakutkan untuk ditonton oleh anak kecil. Selain itu, Poltergeist juga cocok untuk ditonton oleh para penonton film general yang hanya sesekali menonton horor. Setelah mengetahui fakta tentang bagaimana Spielberg terlalu banyak mengambil alih proses pembuatan Poltergeist, saya menjadi penasaran akan seperti apa film ini seandainya Tobe Hooper mendapatkan lebih banyak kebebasan. Mungkin saja Poltergeist tidak akan sesukses versi Spielberg, tetapi bisa jadi hasilnya akan jauh lebih horor dan menyeramkan.

Meskipun Poltergeist pada akhirnya menjadi film horor yang terlalu “lembut” untuk ukuran seorang Tobe Hooper, bukan berarti Poltergeist adalah film horor yang buruk. Poltergeist tetap berhasil menjadi film horor yang menghibur, walaupun tidak semeresahkan dan seintens yang seharusnya. Setidaknya, tetap ada sedikit porsi ciri khas Hooper di sini, salah satunya ada pada adegan halusinasi seorang pemburu hantu yang mencabik-cabik kulit wajahnya sendiri. Selain itu, premis dasar film ini tetaplah menyeramkan. Kata “poltergeist” sendiri memiliki arti gangguan supranatural yang melibatkan kekuatan jahat yang mencoba menyakiti korbannya secara fisik. Tentu ini jauh lebih menyeramkan dan mengancam dibanding gangguan yang sekedar penampakan hantu biasa. Dalam film ini, kekuatan jahat menyasar pada anak yang paling kecil sebagai anggota keluarga yang paling rentan, dan kalau kita berada pada posisi Carol-Ann Freeling, maka kita akan diculik ke dimensi lain dan mungkin tidak akan pernah kembali. Ide ini jelas menyeramkan bagi korban, sekaligus juga keluarganya.
Tetapi, apa yang lebih mengerikan dari premis filmnya adalah pamor yang menempel pada franchise Poltergeist di kemudian hari: Poltergeist sebagai sebuah franchise horor yang terkutuk. Anggapan ini muncul bukan tanpa alasan ataupun berdasarkan rumor belaka, tetapi karena ada beberapa aktor dan kru yang meninggal tak lama setelah menyelesaikan pekerjaan mereka untuk setiap film Poltergeist. Yang pertama adalah aktris muda Dominique Dunne yang memerankan kakak perempuan Carol-Ann. Ia dibunuh oleh mantan pacarnya pada 4 November 1982, tak lama setelah perilisan film Poltergeist pertama. Lalu, ada sineas Will Sampson yang menjadi produser film kedua Poltergeist, yaitu Poltergeist II: The Other Side (1986). Sampson meninggal karena kondisi autoimun setelah menjalani operasi pada tahun 1987. Kematian yang tak kalah tragis terjadi sebelum film Poltergeist III (1988) benar-benar dirilis. Heather O’Rourke, aktor cilik yang kembali memerankan karakter Carol-Ann dalam film ke-tiga ini, mulai jatuh sakit dengan gejala seperti flu sejak proses syuting dimulai dan terpaksa menjalani perawatan medis sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai Carol-Ann. Setelah selesai dengan seluruh proses syuting, O’Rourke pulang ke California bersama keluarganya. Di sana, penyakitnya semakin memburuk dengan cepat hingga pada tanggal 1 Februari 1988, O’Rourke meninggal dunia di usia 12 tahun. Di kemudian hari, sebagian fans Poltergeist yang percaya dengan hal-hal mistis mulai menghubungkan “kutukan” Poltergeist dengan fakta bahwa departemen properti dan special effect film pertama Poltergeist menggunakan kerangka manusia asli dalam adegan ikonik kubangan di kolam renang. Rupanya, ini bukan rumor belaka. Penggunaan kerangka manusia asli dipilih karena pada saat itu, membuat kerangka palsu yang realistis akan memakan biaya yang jauh lebih mahal dibandingkan membeli kerangka manusia asli. Akhirnya mereka membelinya dari India, tempat di mana perdagangan kerangka manusia sempat legal, lalu menambahkan karet, latex, dan cat untuk bagian kulit serta sisa-sisa dagingnya.

Sebagai film horor, Poltergeist mungkin hanya terasa menyeramkan bagi mereka yang menontonnya saat masih kecil. Tetapi saya tetap menganggapnya sebagai karya sinematik yang bagus dan memang layak untuk mendapat predikat klasik karena ada banyak aspek yang mengesankan dari Poltergeist. Meskipun memiliki beberapa plot hole, tapi ceritanya terstruktur dengan cukup baik dalam hal membangun ketegangan, lengkap dengan banyak elemen horor yang cukup ikonik dari mulai boneka badut, mayat-mayat bermunculan di kolam renang, interaksi Carol-Ann dengan layar televisi yang terasa cukup meresahkan, hingga usaha penyelamatan Carol-Ann. Jangan lupa juga karakter ikonik cenayang bernama Tangina yang diperankan oleh aktris Zelda Rubinstein dengan fantastis dan dengan mudah akan selalu diingat oleh para penggemar horror. Kemudian, ada musik latar yang digubah oleh composer legendaris Jerry Goldsmith yang juga tak kalah ikonik. Penggunaan sedikit sentuhan special effect CGI dalam film ini juga cukup revolusioner di tahun 1982, meskipun terasa ketinggalan jaman kalau kita lihat lagi hari ini. Untungnya film ini menggunakan lebih banyak special effect tradisional yang dikerjakan dengan serius dan terlihat fantastis. Di luar beberapa kekurangan minornya, Poltergeist tetaplah kisah hantu yang menghibur dan layak dikenang. Tak heran kalau film ini kemudian memberi pengaruh besar pada film-film horor hantu hingga beberapa dekade setelahnya.

