MOVIE REVIEW: THE MONKEY (2025)

THE MONKEY

Sutradara: Osgood Perkins

USA (2025)


Review oleh Tremor

The Monkey adalah sebuah film horror / dark comedy yang ditulis dan disutradarai oleh Osgood Perkins, putra dari aktor horror legendaris pemeran karakter Norman Bates dalam film Psycho (1960), Anthony Perkins. Namun, nama Osgood cukup dikenaldalam industri film horror bukanlah karena nama ayahnya, melainkan karena Osgood memang seorang sineas horror yang berbakat dan visioner. Karirnya sebagai sutradara/penulis dimulai lewat debutnya yang cukup menjanjikan, The Blackcoat’s Daughter (2015), disusul dengan film horror gothic I Am the Pretty Thing That Lives in the House (2016), hingga namanya semakin meroket setelah membuat Longlegs (2024). Satu tahun setelah keberhasilan Longlegs, Osgood kembali lewat The Monkey yang merupakan adaptasi bebas dari salah satu cerpen buatan penulis horror legendaris Stephen King di tahun 1980. Namun ada yang berbeda dalam karya terbaru Osgood ini. Kalau biasanya film horror buatannya terasa melankolis, suram dan serius, lewat The Monkey Osgood mempersembahkan sebuah kisah yang cukup nihilistik dengan banyak sekali unsur dark comedy dan gore yang cukup efektif bahkan sejak film baru dimulai. Osgood mengambil inti dari cerpen The Monkey lalu mengembangkannya dengan visinya sendiri. Hasilnya, film ini memiliki banyak perbedaan signifikan dari versi cerpennya dan menurut saya, untuk kasus The Monkey, adalah hal yang brilian dan sangat menghibur.

Film ini berfokus pada dua saudara kembar, Hal dan Bill Shelburn yang diasuh oleh ibu mereka, Lois, sejak sang ayah meninggalkan mereka. Suatu hari, Hal dan Bill menemukan sebuah mainan monyet pemukul drum di antara barang-barang peninggalan ayahnya. Ketika mereka memutar kunci pada bagian punggung mainan tersebut, tangan sang monyet mulai menabuhkan drumnya, dan seseorang di sekitar mereka akan mati lewat kecelakaan mengenaskan. Setelah ada lebih banyak korban jiwa, si kembar Shelburn mulai menyadari bahwa, entah bagaimana, mainan monyet inilah penyebabnya. Hal sempat mencoba menghancurkan boneka tersebut namun usahanya sia-sia karena beberapa hari kemudian boneka itu kembali berada di kamar mereka. Menyadari bahwa mainan terkutuk itu tidak bisa dimusnahkan, si kembar Shelburn pun memutuskan untuk membuangnya ke dasar sumur dan menutup sumur tersebut rapat-rapat. Mereka pikir, mereka akhirnya berhasil menyelesaikan masalah dan mudah-mudahan tidak ada korban jiwa lagi. Dua puluh lima tahun kemudian, mainan monyet tersebut mulai muncul kembali dan membawa lebih banyak kematian, memaksa Hal dan Bill Shelburn yang sejak lama telah berpisah tanpa kontak, harus menghadapinya kembali.

Dengan bijaksana, Osgood Perkins memilih untuk mengedepankan elemen komedi dalam kisah ini karena ia merasa komedi lebih cocok untuk sebuah film tentang mainan. Osgood ingin karyanya ini berbeda dari film-film horor lain tentang mainan jahat, dan saya pikir ia berhasil. The Monkey versi Osgood adalah film yang sangat menghibur dengan tingkat humor yang bukan untuk ditanggapi secara serius. Tak hanya lewat dialog dan komedi situasi, Osgood juga menggunakan banyak adegan kematian ekstrim dan mengejutkan sebagai bagian dari komedinya untuk menertawakan betapa absurd dan random-nya kematian. Oswald menciptakan beberapa adegan kematian yang sangat kreatif, impresif, konyol, berlebihan, menghibur, sekaligus juga sadis dan saya menduga ia benar-benar menikmati proses penulisan The Monkey. Pada akhirnya, adegan-adegan kematian menjadi highlight utama dari The Monkey. Saya bisa membayangkan seandainya film ini ditonton beramai-ramai bersama teman-teman, apa yang akan menjadi pembahasan setelah filmnya selesai bisa jadi adalah tentang adegan-adegan kematian favorit dari film ini, dan juga tentang betapa absurdnya film ini pada beberapa bagian. Salah satu keabsurdan film ini adalah munculnya sekelompok cheerleader di salah satu adegan, serta munculnya pendeta yang berbicara sembarangan namun ucapannya justru realistis.

 

Saya tidak ingin membagi spoiler di sini, tetapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa siapapun yang ingin menonton The Monkey mungkin perlu untuk berhenti mempertanyakan logika dan nikmati saja kegilaannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana caranya sebuah mainan monyet bisa menimbulkan kecelakaan mematikan perlu dibuang jauh-jauh selama menonton film ini, karena The Monkey bukanlah film misteri yang membutuhkan penjelasan. Kalaupun ada penjelasannya, rasanya itu sudah tidak terlalu penting lagi. Sama seperti pesan yang pernah disampaikan oleh Ibu dari Hal dan Bill dalam film ini, bahwa toh pada akhirnya semua orang akan mati, sebagian dengan cara yang tenang dan sebagian lainnya dengan cara mengenaskan dan itulah hidup: kematian tidak membutuhkan tujuan dan penjelasan. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa mainan monyet ini membunuh siapapun yang ia mau secara random lewat kecelakaan yang sadis, pada waktu yang ia tentukan sendiri, dan ia tidak menerima request. Apapun yang merasuki mainan tersebut sepertinya sangat bersenang-senang dengan cara seperti itu.

Saya pribadi juga sangat suka dengan desain dari mainan monyet dalam The Monkey yang tampak mengancam kapanpun kamera menyorot mainan tersebut, tanpa harus memiliki mimik wajah yang jahat. Setiap kali drumnya mulai ditabuh, ada rasa fun sekaligus excitement yang terasa, meskipun penonton tahu pasti bahwa seseorang akan mati dengan mengenaskan. Menurut saya, sang monyet dalam The Monkey benar-benar karakter villain yang sangat efektif. Aktor Theo James dan aktor cilik Christian Convery cukup fantastis dalam memerankan peran ganda sebagai si kembar Hal dan Bill, dengan masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri yang saling berbeda. Aktris Tatiana Maslany juga tak kalah bagusnya dalam memerankan ibu dari si kembar. Film ini juga menampilkan beberapa cameo, di antaranya Elijah Wood, Adam Scott, hingga sang sutradara sendiri, Osgood Perkins.

Mungkin tidak semua orang bisa menikmati film komedi horror ini. Bagi sebagian orang, film ini terlalu konyol untuk seorang sutradara yang sebelumnya membuat film horror serius seperti Longlegs. Tapi bagi saya pribadi, “ketidakseriusan” dan kesadisan Osgood dalam The Monkey justru menjadi daya tarik luar biasa. Saya pikir, seandainya ia membuat The Monkey dengan vibe horor serius Ala Longlegs, mungkin hasilnya tidak akan seefektif ini. Yang pasti, sekonyol apapun premis film ini, Osgood tetap mengeksekusinya dengan sangat serius dan impresif. The Monkey mungkin menjadi bentuk pembuktian bahwa Osgood adalah seorang pembuat film yang sangat berbakat. Osgood membuktikan bahwa ia mampu membuat film horor serius semacam Longlegs, dan juga film berpremis konyol seperti The Monkey. Secara keseluruhan, The Monkey adalah film komedi horor yang efektif dan rasanya beberapa kelemahan film ini menjadi tidak relevan lagi untuk dibahas, karena sekali lagi, komedi dan keabsurdan The Monkey bukanlah hal yang perlu ditanggapi terlalu serius.