ALBUM REVIEW: MACHINE HEAD – UNATONED

MACHINE HEAD ‘Unatoned’ ALBUM REVIEW

Nuclear Blast Records. April 25th, 2025

Alternative metal/Groove metal

Sebagai sebuah band yang udah berkarir lebih dari tiga dekade, wajar lah kalau MACHINE HEAD punya ups and downs dalam diskografi mereka, setelah debut fenomenal ‘Burn My Eyes’ (1994) yang menjadi salah satu album best selling Roadrunner Records, lalu dilanjutkan dengan ‘The More Things Change…’ (1997), yang tak kalah sukses di pasaran, MACHINE HEAD malah mendadak pindah jalur untuk ikut-ikutan tren nu metal, lewat ‘The Burning Red’ (1999) dan ‘Supercharger’ (2001), yang untuk ukuran nu metal/alternative metal pun gak ada nendangnya sama sekali. Barulah di tahun 2003, MACHINE HEAD balik pada kodratnya sebagai band groove metal, dan puncaknya empat tahun kemudian, grup asal Oakland, Calinfornia ini melepaskan ‘The Blackening’ (2007), sebuah masterpiece musik heavy metal era modern, yang berisikan delapan lagu peranakan thrash metal, groove metal, progressive metal dengan melodicism ala rilisan era alt metal mereka. Album tersebut dilanjutkan dengan ‘Unto the Locust’ dan ‘Bloodstone & Diamonds’ yang mampu mengukuhkan posisi MACHINE HEAD di dalam jajaran paling atas band cadas dunia, tapi sayangnya Robb Flynn kumat ”nu-metal”-an di ‘Catharsis’ (2018), yang menyebabkan cabutnya Dave McClain and Phil Demmel, dan nama MACHINE HEAD tercoreng karena sang frontman terlalu defensif.

‘Of Kingdom and Crown’ yang dirilis tiga tahun lalu berhasil menebus dosa ‘Catharsis’ dengan kumpulan materi yang menurut gua terbaik dari mereka sejak ‘The Blackening’, dengan racikan superb di tiap-tiap trek, berkat andil WacÅ‚aw “Vogg” KieÅ‚tyka (DECAPITATED), dan session drummer Navene Koperweis (ENTHEOS), yang memberikan suntikan booster taraf tinggi ke dalam jiwa dan raga MACHINE HEAD. Jadi, jangan ditanya lagi soal hype gua ketika MACHINE HEAD mengumumkan kedatangan album baru, “Unatoned”, meskipun line-up personil diluar Robb Flynn dan Jared MacEachern udah ganti lagi. Lagu pembuka “Atomic Revelations” sebenernya lumayan, tapi agak kelewat generik parah, dengan produksi super steril yang bikin lagunya kurang greget, nomor berikutnya makin parah, “Unbound” terlalu hambar dan “Outsider” terdengar seperti ARCHITECTS versi KW gatot. Dua lagu berikutnya udah mendingan, “Not Long for This World” yang bisa dibilang sebuah power-ballad masih lumayan lah, kemudian “These Scars Won’t Define Us” menjadi track terbaik dalam album ini, dengan komposisi melodic death/thrash sangat catchy. Setelah interlude singkat karya Jordan Fish, gua kira ‘Unatoned’ bakal jadi lebih baik, ternyata eh ternyata, malah makin nyungsep, entah apa yang di dalam otak Robb Flynn ketika menulis “Bonescraper”, yang terdengar seperti copy-cats BRING ME THE HORIZON, dengan chorus dan millennial whoop yang lebih cringie, riffing-nya pun derivatif banget.

“Addicted to Pain” lebih agresif tapi masih memperlihatkan MACHINE HEAD yang kepepet pengen tetap relevan lewat arensemen metalcore zaman now medioker, kalo pengen denger metalcore ya mending gua sekalian nyetel MAKE THEM SUFFER, MALEVOLENCE, POLARIS, dan PARKWAY DRIVE sekalian aja jirr!!. Ditambah lagi, lagu selanjutnya “Bleeding Me Dry” makin gak jelas dengan memasukan unsure trap segala, malah vibe-nya jadi kayak emo rap dengan breakdown. Menjelang album berakhir MACHINE HEAD akhirnya balik ke habitat lewat “Shards of Shattered Dreams”, yang sarat aroma melodic metalcore/thrash, sebelum ditutup dengan ballad simfonik, “Scorn”, yang menjadi salah satu high point dari album ini. Setelah album fenomenal ‘Of Kingdom and Crown’ gua gak nyangka banget MACHINE HEAD untuk ketiga kali nyungsep di lobang yang sama, mencoba relevan di pasar dengan mengakusisi tren lagi naik daun, tapi esensi nya gak pernah dapet, akhirnya sama seperti materi-materi yang dihadirkan dalam ‘The More Things Change…’, ‘The Burning Red’, dan ‘Catharsis’, ‘Unatoned’ mayoritas flop dan uninspired mess, karena hanya punya 4 lagu yang menurut gua layak masuk diskografi MACHINE HEAD. (Peanhead)

5.0 out of 10