MOVIE REVIEW: HUESERA: THE BONE WOMAN (2022)

HUESERA: THE BONE WOMAN
Sutradara: Michelle Garza Cervera
Mexico / Peru (2022)

Review oleh Tremor

Huesera: The Bone Woman adalah sebuah film drama horor psikologis / supranatural, debut dari penulis/sutradara asal Meksiko, Michelle Garza Cervera yang ia tulis bersama rekannya, Abia Castillo. Cervera sendiri merupakan seorang aktivis perempuan yang tumbuh di komunitas queer dan punk radikal di Kota Meksiko. Keterlibatan Cervera dalam skena radikal tentu turut berkontribusi dalam membentuk sudut pandang Cervera yang berbeda dari masyarakat pada umumnya. Menariknya, Cervera menggunakan film horor debutnya ini sebagai media untuk berekspresi dan menyampaikan gagasan, sikap, serta komentar sosial seputar perempuan, kehamilan, dan motherhood lewat perspektif queer punk. Film horor yang mengeksplorasi tema motherhood beserta kecemasan seputar proses menjadi ibu memang bukanlah hal baru, dengan beberapa contohnya seperti Rosemary’s Baby (1968), Proxy (2013), The Babadook (2014), hingga Birth/Rebirth (2023). Namun apa yang diangkat oleh Cervera dalam Huesera jauh lebih kompleks, simbolik, dan berbobot dibandingkan film-film sejenis, karena dalam film ini ia juga mengeksplorasi keresahannya seputar jerat domestik, otonomi tubuh, identitas, gender, kesehatan mental, hingga represi seksualitas menggunakan sudut pandang yang jujur dan provokatif, tanpa menjadi preachy dan menghakimi. Atas karyanya yang berani ini, Cervera memenangkan banyak penghargaan dari mulai Best Feature Film dalam Catalonian International Film Festival, Best New Narrative Director dalam Tribeca Film Festival, hingga Best Director dalam Premios Canacine (Penghargaan Film di Meksiko).

Film ini berfokus pada seorang perempuan muda yang bekerja sebagai tukang kayu bernama Valeria, yang dulunya adalah seorang queer punk dan kini telah hidup bersama Raul, suaminya, di sebuah apartemen di Mexico City. Sejak film dimulai, cukup jelas bahwa keluarga Valeria dan Raul sangat berharap Valeria bisa memiliki keturunan lewat doa-doa yang mereka panjatkan. Valeria pun akhirnya mengandung. Awalnya, ia ikut meluapkan kegembiraan bersama Raul setelah dokter pertama kali memberi tahu bahwa Valeria tengah mengandung. Seiring berjalannya waktu, Valeria mulai tertekan dan dihantui oleh penampakan-penampakan gaib dari mulai wujud laba-laba hingga wujud entitas supernatural yang semakin memperkeruh kondisi mentalnya. Secara perlahan Valeria mendapati dirinya mulai bimbang dan dipenuhi ketakutan yang sangat besar. Sebagai seorang queer punk yang pernah menjalin hubungan asmara dengan teman perempuannya, tidak mudah bagi Valeria untuk bisa beradaptasi dengan peran normatif heteroseksual sebagai seorang istri sekaligus ibu. Dari mulai suami hingga keluarga Valeria sendiri menaruh beban harapan padanya untuk bisa berperan menjadi istri dan ibu “normal”, seperti yang juga diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. Satu-satunya orang yang bisa memahami Valeria hanyalah bibinya sendiri, yang tidak pernah menikah dan sama-sama dianggap aneh oleh masyarakat hanya karena memiliki sudut pandang berbeda tentang menjalani hidup. Walaupun Valeria berusaha memenuhi seluruh ekspektasi masyarakat atas dirinya sebagai seorang perempuan, keresahan yang tak tertahankan tetap muncul dalam diri Valeria, keresahan yang bermanifestasi dalam bentuk entitas menyeramkan. Merasa mulai kehilangan makna hidup, merosotnya kondisi mental, dan diperburuk dengan teror supranatural dalam mimpi-mimpi buruknya mendorong Valerie mencari pertolongan untuk menyelamatkan kewarasannya sekaligus keselamatan bayinya, meskipun pada akhirnya pertolongan hanya bisa didapat lewat sebuah ritual tradisional yang masih dipraktekkan oleh sekelompok perempuan yang dianggap black magic oleh masyarakat umum.

Menggunakan metafora horor, sutradara Cervera mengungkapkan kecemasan nyata bahwa kehamilan dan menjadi ibu bisa menjadi sesuatu yang mengerikan dan bahkan tidak diinginkan oleh beberapa perempuan, namun tekanan sosial menuntut semua perempuan seharusnya menjadi istri dan ibu. Dalam film ini, Cervera memadukan keresahan serta sikap politisnya dengan unsur cerita rakyat dan kultur rakyat Meksiko dalam menuturkan kisahnya. Nama Huesera yang dijadikan judul film ini terinspirasi dari cerita rakyat Meksiko, La Huesera, yang bercerita mengenai seorang perempuan yang mengumpulkan tulang benulang serigala di padang pasir. Ketika seluruh potongan tulang telah terkumpul, Huesera pun mulai bernyanyi. Nyanyian yang dilantunkan Huesera kemudian menghidupkan kembali sang serigala yang telah mati, dan serigala itu kemudian berubah wujud menjadi seorang manusia perempuan yang bebas dan memiliki kesempatan untuk pergi menjelajahi dunia. Setelah sedikit mencari tahu tentang cerita rakyat ini, saya segera memahami simbolisme dalam film buatan Cervera. Dalam film ini, Cervera tidak benar-benar menyadur cerita rakyat Huesera, tetapi meminjam konsep dari cerita rakyat tersebut, lalu menjadikannya sebagai representasi dari merebut kembali kebebasan.

Sebagai film horor, Huesera memiliki beberapa adegan body horror dan supranatural, terutama yang berkaitan dengan patah tulang. Suara retakan dan patahan cukup sering terdengar dalam film ini. Sosok supranatural dalam Huesera sendiri juga berwujud perempuan tanpa wajah dengan tulang tangan dan kaki yang patah. Mungkin setiap suara dan adegan tulang-tulang yang patah dan remuk dalam film ini adalah sebuah metafora dari karakter Valeria yang mulai kehilangan makna hidup serta kewarasannya, seakan ia semakin tak berdaya dan hancur. Secara psikologis, ia remuk secara perlahan karena menjalani bentuk kehidupan yang baru ia sadari tidak benar-benar ia inginkan. Setiap penampakan seram yang Valeria lihat bisa jadi menandakan merosotnya kesehatan mentalnya, dan itu jelas akan membahayakan anak pertama Valeria. Selain itu, entitas yang menghantui Valeria mungkin juga adalah manifestasi dari apa yang Valeria represi dalam dirinya, apa yang ia sembunyikan dari masyarakat sekitarnya agar bisa menjadi seperti yang orang inginkan darinya. Namun kalau dilihat dari perspektif lain, munculnya sosok supranatural dalam film ini juga bisa berfungsi sebagai pintu gerbang bagi Valeria untuk melihat opsi meraih kembali hidupnya, sama seperti Huesera dalam cerita rakyat yang menghidupkan kembali bangkai serigala dan memberinya kesempatan kedua untuk menjelajahi dunia. Pada akhirnya Valeria menemukan kembali siapa dirinya sebenarnya dan apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Namun pada setiap opsi, tentu ada harga yang harus dibayar. Bila ia memilih keinginan orang-orang di sekitarnya, ia akan kehilangan dirinya, dan kalau ia memilih memprioritaskan kewarasannya sendiri, ia akan kehilangan anak beserta keluarganya. Tak ada pilihan yang mudah. Beruntung, Valeria setidaknya memiliki support system-nya sendiri, yang semuanya adalah karakter perempuan juga.

Bagi saya, Huesera adalah salah satu film horor dengan ide paling punk, jujur, dan berani yang pernah saya tonton karena sang sutradara benar-benar menggunakan film ini sebagai media untuk menyampaikan ide-ide provokatifnya, layaknya band punk politis yang menulis lagu untuk menyampaikan ide-ide radikal meskipun belum tentu bisa diterima oleh masyarakat umum. Namun setidaknya ide-ide tersebut bisa menawarkan sudut pandang yang berbeda dan mendorong pendengarnya untuk merenung. Beberapa “artefak” punk yang Cervera sertakan dalam film ini juga benar-benar underground dan segmented. Cervera tidak menggunakan satupun gimmick punk mainstream dalam film ini, tetapi ia memilih Spitboy, sebuah band anarcho-punk feminis DIY dari Amerika awal 90-an yang jauh lebih radikal dan agresif dibandingkan Bikini Kill. Dalam salah satu adegan, kita bisa melihat dengan jelas sebuah buku memoir yang ditulis oleh Michelle Gonzales drummer dari band punk Spitboy yang berjudul “The Spitboy Rule: Tales of a Xicana in a Female Punk Band”, yang saya yakin memang sengaja disertakan oleh sutradara Cervera. Selain itu, adegan flashback ke masa remaja Valeria juga diiringi dengan soundtrack hardcore punk, yang merupakan salah satu track dari band Cervera sendiri. Perlu diketahui, Michelle Cervera pernah bermain bass dalam sebuah band hardcore punk bernama Forra, beranggotakan empat perempuan Latin yang hanya pernah merilis satu EP di tahun 2018 berjudul “Mostrame Lo Peor”, dirilis oleh La Vida es un Mus, sebuah label hardcore punk DIY asal London yang sangat aktif. Melihat karakter Valeria masih menyimpan bass di dalam lemarinya, beserta semua benda-benda dari masa remaja ketika masih menjadi anak punk, saya bisa sedikit menebak bahwa karakter Valeria adalah karakter yang sedikitnya mengekspresikan diri Cervera. Keresahan Valeria bisa jadi adalah keresahan Cervera juga.

Semua fakta tentang sang sutradara mendorong saya untuk membaca beberapa wawancara Cervera yang sangat menarik terkait film Huesera, yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca agar bisa semakin memahami apa yang ingin ia sampaikan lewat film debutnya ini. Setelah membaca beberapa wawancaranya, saya semakin paham bahwa elemen horor supranatural dalam film ini hanyalah sebuah kendaraan simbolik bagi Michelle Garza Cervera untuk menyampaikan kegelisahannya. Ini bisa dilihat dari bagaimana ia tidak benar-benar mengembangkan sosok gaib dan konsep teror supranatural dalam film ini, tetapi lebih banyak berfokus pada pergolakan batin Valeria. Munculnya penampakan seram dan momen supranatural dalam film ini juga bisa dibilang sangat jarang. Rasanya semakin jelas bahwa semua kejadian supranatural di dalam film ini adalah manifestasi dari merosotnya kesehatan mental Valeria. Alasan utama mengapa Cervera memilih genre horor untuk menyampaikan gagasan dan keresahannya adalah karena pada dasarnya Cervera memang seorang penggemar film horor.

Saya pikir dengan atau tanpa adanyanya sosok supranatural di dalamnya, inti film ini tetap sama, bahwa Valeria adalah seorang perempuan berjiwa bebas yang terpaksa mengorbankan kebebasannya untuk mengikuti apa yang masyarakat harapkan darinya, lalu menyadari bahwa kini ia terbelenggu dalam konsep keluarga modern, dan kenyataan itu mulai menghancurkannya secara mental. Lewat semua simbolisme horornya, Huesera menggambarkan karakter Valeria berjuang melawan lebih dari sekadar kecemasan seorang ibu menghadapi kehamilan dan persalinan, tetapi juga berjuang untuk merebut kembali identitas sejatinya, seperti yang pernah ia nyanyikan dalam adegan flashback ke masa-masa punk-nya: “Aku tidak suka domestikasi”, sambil berlari bersama kekasihnya dari kejaran polisi. Salah satu metafora yang paling mencolok tentang perasaan Valeria juga muncul ketika seorang dukun bernama Ursula menunjukkan sebuah botol berisikan seekor laba-laba bersama jaringnya dan berkata, “Ini adalah rumah, tetapi juga penjara.” Penonton akan semakin memahami pergolakan batin Valeria berkaitan dengan perannya sebagai istri dan ibu, karena dirinya di masa lalu pernah berteriak menentang kehidupan pernikahan yang akhirnya ia pilih setelah dewasa, dan ia mulai menyadari bahwa rupanya ia masih Valeria yang sama. Kita juga bisa melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya mengambil keputusan untuknya selama masa kehamilannya, tanpa bertanya apa yang benar-benar Valeria inginkan untuk hidupnya, dan tentu itu membuatnya semakin gusar. Valeria pikir ia ingin menjadi seorang ibu, tapi mungkin itu adalah gagasan yang selama ini ditanamkan oleh norma sosial, dan bukan benar-benar keinginan yang murni datang dari dirinya. Pada akhirnya Valeria menyadari apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidup tidaklah seperti dengan apa yang keluarganya inginkan. Seiring berjalannya film, kengerian entitas supernatural yang menghantui Valeria perlahan mulai mereda di sepertiga durasi film dan Huesera semakin banyak berfokus pada bentuk rasa takut lain: dengan kondisi mental Valeria yang semakin jatuh, kemungkinan Valeria mencelakai anaknya sendiri secara tidak disengaja menciptakan ketidaknyamanan yang mendalam bagi penonton. Apalagi di sepanjang film kita bisa mengenal bahwa Valeria adalah karakter yang tidak terlalu nyaman dengan anak kecil. Valeria mungkin tidak terlahir untuk menjadi seorang ibu, namun ia masih berusaha keras untuk menjadi perempuan “normal” seperti yang diinginkan oleh orang-orang sekitarnya. Semua upaya ia lakukan demi menyenangkan keluarganya dan menyesuaikan diri dengan batasan-batasan norma yang tak pernah ia inginkan. Valeria berusaha keras untuk tunduk, dan semakin ia berusaha, justru itu semakin menghancurkannya. Dalam masyarakat seperti ini, ada begitu banyak hal yang dituntut dari perempuan, terutama tentang mengorbankan diri demi memenuhi keinginan orang lain. Mungkin permasalahan inilah yang juga ingin disorot oleh sang sutradara, bahwa lagi-lagi perempuanlah yang pada akhirnya harus berkorban.

Tema lain yang juga digali dalam Huesera adalah tentang bagaimana masyarakat umum memandang peran perempuan dalam sebuah keluarga, dan bagaimana masyarakat memperlakukan tubuh perempuan hanya sebagai kendaraan reproduksi sambil mengabaikan apa yang benar-benar seorang perempuan inginkan. Semua gagasan tersebut dieksplorasi lewat berbagai alegori dan metafora horor. Huesera jelas memiliki komponen politis yang sangat kuat dalam narasinya, menggali gagasan tentang hak perempuan untuk memilih, termasuk memilih untuk tidak menjadi ibu, sesuatu yang bisa menjadi tabu bagi sebagian kelompok masyarakat. Sebagai film horor, Huesera bukanlah film yang menyeramkan. Tapi dalam hal yang lebih mendalam dan nyata, film ini bisa jadi menyeramkan karena saya bisa membayangkan betapa menyeramkan dan suramnya kehilangan diri sendiri untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Tentu sangat menakutkan untuk menjadi ibu bagi mereka yang tidak ingin menjadi ibu. Saya pribadi sangat suka dengan bagaimana sutradara Cervera memperlakukan karakter perempuan yang tidak menginginkan anak sebagai manusia, dan bukan sosok ibu monster yang jahat.

Menurut saya Cervera adalah sutradara / penulis yang sangat berani. Topik ini jelas sangat jarang dibicarakan karena dianggap tabu, tapi faktanya memang tidak semua perempuan ingin menjadi ibu, dan itu adalah hal yang seharusnya bisa diterima sebagai sesuatu yang natural.  Dalam film ini, Valeria adalah salah satunya, dan saya yakin karakter Valeria beserta kegelisahannya bisa jadi sangat mewakili apa yang juga dirasakan oleh banyak perempuan di dunia ini, dalam bentuk masyarakat apapun. Namun untuk ukuran film horor, unsur horornya terkadang terasa sporadis dan terputus dari keseluruhan kisahnya. Huesera seolah-olah mencoba membuat lebih dari satu film sekaligus hingga antara drama dan horornya terasa tidak terlalu menyatu. Tapi kelemahan minor tersebut sangat bisa dimaafkan karena bagaimanapun Huesera adalah sebuah film yang sangat berani, provokatif dan meninggalkan para penontonnya dengan banyak hal untuk direnungkan.