GAEREA ‘Coma’ ALBUM REVIEW
Season of Mist. October 25th, 2024
Post-black metal

Semenjak namanya mencuat berkat debut EP tahun 2016, lalu album pertama ‘Unsettling Whispers’ dua tahun setelahnya, GAEREA sepertinya masih belum kehabisan bensin, meskipun harus gonta-ganti personel, jadwal ketat merilis album tiap (kurang lebih) 24 bulan sekali, dan agenda tur padat untuk band yang usianya belum genap sepuluh tahun. Ketika band asal Portugal ini pertama kali muncul, memang langsung banyak cibiran yang ditujukan kepada mereka. Sering dicap poser lah, karena beberapa personelnya merupakan eks anggota band bergenre dengan suffix “-coreâ€, hingga disebut scene tourist dan pengekor karena gimmick menggunakan blackout hood agar terlihat misterius, yang sebenarnya sudah lebih dulu dipakai oleh band-band seperti MGLA, UADA, MISÞYRMING (periode awal), hingga БÐТЮШКÐ. Namun, Guilherme Henriques dan kawan-kawan tampaknya masa bodoh dengan suara-suara sumbang, karena GAEREA jelas termasuk band yang selalu sukses secara penjualan maupun penerimaan kritikus. Tak heran, bos label Season of Mist terus nyengir setiap kali mereka merilis album baru.

Setelah sempat melewati masa gonjang-ganjing akibat cabutnya vokalis Rubén Freitas beberapa hari setelah Mirage (2022) dirilis, yang menyebabkan Guilherme Henriques merangkap jabatan sebagai gitaris dan vokalis sampai sekarang, GAEREA akhirnya merekrut Sonja Schuringa (DICTATED) untuk menyempurnakan formasi terbaru mereka, dengan album keempat bertajuk ‘Coma’ yang ditujukan sebagai pembuktian eksistensi kuartet asal Porto ini. Dalam album terbaru ini, jelas terdengar bahwa GAEREA ingin mulai pelan-pelan keluar dari kekangan cap black metal belaka. Dari segi aransemen, mereka menjadi semakin condong ke ranah post-black metal lewat racikan-racikan yang tidak melulu agresif dan galak, hingga memasukkan tekstur-tekstur gitar ala post-rock dan juga clean vocal. Satu hal yang benar-benar mampu menggaet saya adalah kemampuan band ini untuk menghasilkan trek yang benar-benar ngena secara emosional. Dua lagu pembuka misalnya, “The Poet’s Ballet†dan “Hope Shattersâ€, terdengar seperti luapan emosi yang sudah dipendam dalam-dalam, yang tentunya mampu membuat kejiwaan pendengarnya cukup terombang-ambing. Sedangkan baik “Suspended†maupun “World Ablaze†kental akan nuansa melankolis, namun dengan amarah yang tersirat ingin berontak.
Lagu berikutnya sekaligus title-track, “Comaâ€, juga tak kalah gelap, menggambarkan keputusasaan seseorang yang terjebak dalam kondisi koma, entah secara harfiah maupun simbolis, dengan komposisi bagian epilog yang benar-benar intens. Kemudian “Wilted Flower†masih belum keluar dari atmosfer penuh kepiluan, layaknya terjebak ke dalam jurang depresi lalu didekap kehampaan tak berujung. Sebenarnya lagu tersebut sudah sangat pas dijadikan nomor penutup album, karena secara emosional memang sudah berada di paling absolute peak. Sayangnya, GAEREA malah melanjutkan dengan “Reborn†dan “Shapeshifter†yang terasa bland dan generik. Untungnya, dua lagu terakhir mampu menghapus dosa dari dua trek sebelumnya. Dimulai dengan “Unknownâ€, yang entah kenapa mengandung aroma-aroma melodeath, lengkap dengan kemunculan lick ala Gothenburg di pertengahan lagu. Cita rasa Swedish juga masih muncul dalam trek paripurna “Kingdom of Thornsâ€, yang menutup album penuh keempat GAEREA ini dengan high note. Memang, dari segi materi, ‘Limbo’ dan ‘Mirage’ pasti terdengar lebih galak jika dibandingkan dengan ’Coma’, yang justru menyuguhkan nuansa penuh kesedihan dan depresi secara jauh lebih pekat. Pembawaan Guilherme Henriques pun terasa jauh lebih kuat secara emosional dibandingkan vokalis sebelumnya, yang tentunya semakin memantapkan album ini sebagai soundtrack meratapi nasib yang sangat maksimal. ‘Coma’ bukan album yang sempurna, dan jelas bukan selera semua orang, tapi bagi mereka yang sedang berada dalam momen tertentu dalam hidupnya, saya jamin album ini bisa sangat mengena hingga ke qolbu, asal siap-siap saja telinga lelah akibat produksi yang kelewat steril dan modern. (Peanhead)
8.8 out of 10