
FOUND.
Sutradara: Scott Schirmer
USA (2012)
Review oleh Tremor
Found adalah sebuah film horror indie yang disutradarai oleh seorang sineas independen Scott Schirmer. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama, karangan seorang penulis bernama Todd Rigney yang dirilis pada tahun 2004. Untuk membuat versi filmnya, Schirmer berkolaborasi langsung dengan Rigney dalam menuliskan naskahnya. Ketika Found mulai dirilis dan berkeliling dari satu festival ke festival film lainnya, film ini segera mendapat banyak pujian dan memenangkan banyak penghargaan. Total ada sebanyak 25 penghargaan yang Found menangkan di banyak festival film yang berbeda-beda. Found adalah film melodrama suram bertema horror yang cukup gelap, mengangkat kisah coming of age (masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa) yang juga di dalamnya membahas soal keterasingan, perundungan, ketidakhadiran orang tua, kekerasan dalam keluarga, rasisme, hingga pembunuh psikopat.

Berlatar sekitar pertengahan tahun 80-an, Found diceritakan dari sudut pandang (dan dinarasikan oleh) seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang bernama Marty. Tumbuh dewasa merupakan hal yang sulit bagi seorang anak yang pendiam dan pemalu seperti Marty. Ia kerap di-bully di sekolahnya dan tidak memiliki banyak teman. Bahkan seorang teman yang ia pikir adalah sahabat sejatinya, juga meninggalkannya. Sementara itu, orang tuanya sendiri tidak pernah memahami Marty. Melewati masa keluguan pubertasnya yang penuh keterasingan ini, Marty menemukan pelipur laranya dalam buku-buku komik dan film horor. Satu-satunya orang yang kelihatannya begitu menyayangi dan melindunginya hanyalah kakaknya yang bernama Steve, yang jarang ada di rumah. Masalahnya, diam-diam Marty mengetahui rahasia gelap kakaknya: Steve yang juga penggemar film horor adalah seorang pembunuh berantai psikopat yang rasis, yang sering menyimpan potongan kepala korbannya dalam sebuah tas bowling di lemari kamarnya. Apa yang membuat film ini menarik adalah Marty melihat Steve sebagai seseorang sosok panutan, kakak selalu membela dan melindunginya, kakak yang memahami bagaimana rasanya jadi orang yang terbuang ketika teman-teman hingga orang tuanya sendiri tidak pernah memahami Marty. Karenanya, Marty pun selalu menjaga rahasia gelap kakaknya, hingga akhirnya Marty menyadari bahwa kepala semua orang yang ia kenal bisa berakhir di dalam tas bowling kakaknya, dan hidup Marty mulai menjadi seperti film horor.

Found jelas merupakan film yang berfokus pada studi karakter Marty, yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor muda Gavin Brown. Mayoritas durasi film ini digunakan untuk mengembangkan karakter Marty. Mungkin aspek paling menyedihkan dari kisah Found bukanlah pada aksi kekerasan pembunuhan yang dilakukan oleh Steve, tetapi pada bagaimana seorang anak berumur 12 tahun yang sedang beranjak dewasa harus hidup di tengah lingkungan yang tidak sehat: kita melihat bagaimana ia kehilangan satu-satunya teman, disepelekan dan direndahkan teman-teman sekolahnya, ayahnya seorang rasis, ibunya terlalu sibuk bekerja untuk bisa hadir dalam hidupnya dan kedua orang tuanya tidak pernah bisa memahami Marty. Bahkan ketika Marty berhasil membela dirinya sendiri dari perundungan, Marty jugalah yang tetap dihukum. Namun apa yang lebih menyedihkan lagi bagi Marty adalah ketika ia mengetahui bahwa satu-satunya orang yang ia cintai adalah seorang monster. Banyak film horor bertema coming of age lain berkisah tentang tokoh utama yang menemukan rahasia gelap di tengah film, tetapi dalam Found, Marty sudah mengetahui rahasia gelap kakaknya sejak film dimulai, dan film ini menggambarkan bagaimana ia memproses fakta gelap tentang kakaknya, hingga menjaga rahasia itu tanpa diminta karena ia begitu mencintai Steve.
Narasi yang dibacakan oleh Marty seakan menjadi bentuk percakapannya dengan kita sebagai penonton. Ini memiliki dampak yang tidak saya duga sebelumnya: penonton seakan menjadi satu-satunya teman sejati Marty yang bisa memahami dan bersimpati padanya. Karena penonton telah diposisikan bersimpati pada Marty sejak awal, kita bisa ikut merasakan frustrasi dan rasa kesepian Marty sebagai seorang outcast. Dari sini kita akan sepenuhnya mendukung Marty, termasuk ketika ia pada akhirnya berani untuk melawan seorang anak yang mem-bully-nya. Di sisi lain, kita juga bisa memahami mengapa Marty sangat mengagumi dan mencintai Steve kakaknya, karena hanya Steve lah yang selalu membela Marty sejak awal. Padahal kita tahu betul bahwa Steve adalah seorang pembunuh berantai psikopat yang rasis, dan semua aksi kejamnya tidak bisa dibenarkan oleh apapun juga. Jadi, Found menunjukkan kepada penonton seorang karakter pembunuh psikopat melalui kacamata seseorang yang mencintai dan mengaguminya. Perspektif ini bisa memberi dampak pengalaman menonton yang meresahkan penonton, karena pada beberapa tingkatan ketika kita bisa memahami Marty, rasa simpati terhadap kakaknya juga bisa jadi ikut terbangun.

Sebelum saya menonton Found, hanya menilai lewat poster dan sinopsis pendeknya, saya pikir film ini akan menjadi film slasher standar dengan banyak adegan pembunuhan brutal dan kreatif. Namun saya salah, karena rupanya Found adalah film melodrama yang berfokus pada karakter. Sebagai sebuah film yang memiliki karakter pembunuh psikopat, Found bisa dibilang tidak terlalu brutal secara visual. Mungkin karena karakter Steve memang digambarkan hanya sebagai karakter pendukung dari kisah Marty. Seluruh adegan pembunuhan dalam film ini terjadi secara off-screen, dalam artian sama sekali tidak pernah diperlihatkan secara eksplisit. Kita hanya akan melihat dampaknya seperti potongan kepala dan banyak darah. Mungkin adegan pembunuhan yang bisa kita lihat dalam Found hanya muncul di sebuah film horor fiksional yang ditonton oleh Marty bersama temannya yang berjudul Headless, sebuah film-di-dalam-film, itupun tetap ditampilkan off-screen. Namun ketika memasuki babak ketiganya, film ini mulai memperlihatkan bagaimana jati diri Steve yang sesungguhnya, yang bahkan Marty pun tidak pernah menduga bahwa kakaknya bukan hanya seorang pembunuh berdarah dingin, tetapi juga seorang yang luar biasa tidak waras dan kekejiannya melebihi apa yang Marty bisa bayangkan sebelumnya. Saya pikir penulis / sutradara Scott Schirmer cukup bijaksana ketika ia memutuskan untuk terus mengikuti sudut pandang Marty dan tidak pernah memperlihatkan bagaimana Steve melakukan pembunuhannya, karena hal itu memberi dampak kejut bagi penonton ketika Found tiba pada ending yang sangat suram dan gelap, sebuah ending yang saya pikir sangat cocok untuk sebuah film horor seperti Found.
Meskipun ide dan premis dasar film ini cukup mengesankan, dan special effect prostetiknya dikerjakan dengan sangat baik untuk sebuah film indie, tetapi ada beberapa bagian teknis film ini yang bisa dibilang cukup lemah. Yang paling terasa adalah adanya suasana “amatir” yang kuat di sepanjang film, dari mulai pengambilan gambar, keputusan-keputusan tidak logis yang diambil oleh beberapa karakternya, editing yang kadang terasa kurang smooth, hingga mungkin kelemahan yang terbesar datang dari akting yang buruk dari banyak karakternya. Satu-satunya karakter yang cukup meyakinkan dan diperankan dengan sangat baik hanyalah karakter Marty. Tapi mengingat bahwa Found adalah sebuah film indie yang kemudian berhasil mendunia, saya pikir semua kelemahan itu bisa segera dimaklumi, karena bagaimanapun kekuatan tak terbantahkan Found tetap ada pada premisnya. Bagi saya, di luar semua kelemahannya, Found tetaplah sebuah film horror indie yang memiliki studi karakter yang kuat, suram dan ditutup dengan ending yang gelap, terutama bila kita membayangkan posisi kita menjadi Marty.

